5 Penyebab Bencana Iklim Menurut Gates dalam Buku How to Avoid Climate Disaster

Setelah melakukan checkout di toko buku online dan dengan delay beberapa hari (dikarenakan drama kurir salah alamat) hingga buku ini tiba, akhirnya saya berhasil menamatkan membacanya. Buku yang dari judulnya mungkin sedikit terdengar terlalu serius, justru memberikan bahan bacaan ringan bahkan bagi yang awam sekalipun mengenai bencana iklim. Bill Gates, penulis karya ini, memulainya dengan penjelasan sederhana mengenai satuan emisi karbon yang direpresentasikan dalam carbon dioxide equivalent (CO2e).

Mari kembali mengingat pelajaran fisika SMP mengenai satuan dan besaran. Analoginya, jika besaran adalah lamanya anda mengalami promosi jabatan dalam satuan tahun, maka besaran gas rumah kaca atau emisi karbon memiliki satuan CO2e. Saat ini, per tahunnya kita menghasilkan 52 miliar CO2e emisi karbon, angka yang bisa dibilang mencengangkan. Melalui, buku ini, Gates dengan jelas memaparkan tujuan penulisannya yaitu mengapa dan bagaimana emisi karbon “harus” dikurangi dari 52 miliar menjadi 0.

Tiba di chapter dua, Gates tidak menjual angan-angan non-realistis dengan mengatakan bahwa usaha menurunkan emisi “from 52 billion to zero” akan menjadi sulit dan membutuhkan kolaborasi interdisiplin karena penggunaan bahan bakar fosil digunakan di sebagian besar aktivitas manusia bahkan kegiatan sesederhana menggosok gigi (sikat gigi yang banyak beredar biasanya mengandung plastik yang dibuat dari petroleum). Selain itu, usaha untuk mencapai nilai emisi 0 harus dilakukan seluruh negara di dunia dan tantangannya yaitu tiap negara memiliki kondisi berbeda.

Contohnya, membandingkan Amerika Serikat dan sub-Sahara Afrika. Meskipun keduanya akan sama-sama sulit melakukan transisi energi, negara miskin akan jauh lebih sulit untuk melaksanakannya. Amerika sudah memanfaatkan bahan bakar fosil di segala lapisan masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi cukup baik di masa sekarang ‘hanya’ memiliki ‘PR’ untuk mulai beralih ke energi alternatif yang tidak dipungkiri tetap membutuhkan biaya yang besar. Sedangkan, bagian sub-Sahara Afrika yang belum mencapai penggunaan energi secara maksimal, masih butuh merangkak untuk menaikkan ekonomi dan produktivitas masyarakatnya dengan pemerataan konsumsi. Di tengah situasi tersebut, negara itu masih akan ditambahi “PR” untuk beralih ke energi yang lebih mahal. Maka, dalam kasus ini negara miskin akan jauh lebih sulit untuk transisi energi. Namun, pemanfaatan clean energy harus dilakukan oleh seluruh negara tanpa terkecuali dan ini akan menjadi diskusi global bagaimana caranya agar semua mampu bekerja sama dalam hal ini.

Secara garis besar, buku ini menjelaskan sumber emisi karbon yang sekarang terjadi dengan membaginya menjadi 5 poin. Dari angka 52 miliar CO2e ini kemudian Gates memberikan rinciannya sebagai berikut:

  1. How We Plug In (26%)

Energi listrik secara konsisten dibutuhkan untuk menunjang aktivitas manusia. Sadar atau tidak sadar, manusia sangat bergantung akan energi satu ini, mulai dari penerangan jalanan umum (PJU), komputer, televisi, dan lain-lain. Produksi energi listrik merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia dengan menggunakan bahan bakar fosil sebesar satu per tiga di tahun 2021 (Statistical Review of World Energy 2021). Oleh karena itu, jika kita berhasil beralih memproduksi listrik dengan yang ramah lingkungan, ini berarti kita juga turut berkontribusi mengurangi masalah di poin-poin selanjutnya yang berkaitan dengan pemanfaatan energi listrik. Selain itu, penambahan populasi manusia di bumi secara eksponensial menghasilkan penambahan konsumsi listrik. Tak lupa, meningkatnya perekonomian dan kemajuan suatu kota atau daerah akan berbanding lurus dengan konsumsi listrik di daerah tersebut.

  1. How We Make Things (29%)

Poin ini sama esensialnya seperti energi listrik. Bahan-bahan seperti semen, beton, baja, plastik, dan masih banyak lagi dimanfaatkan secara masif di kehidupan modern. Cukup membayangkan gedung-gedung tinggi di kawasan segitiga emas Jakarta, SCBD. Bahan tahan karat, tidak mudah busuk, tidak mudah terbakar adalah bahan-bahan yang sudah biasa digunakan untuk bangunan modern. Sama seperti beton yang juga digunakan dalam infrastruktur bendungan di pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Selain itu, bahan plastik juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hanya dengan melihat sekeliling, anda mungkin langsung dapat menyebutkan serentetan plastik di sekitar anda mulai dari keyboard laptop, kemasan sabun mandi, gelas, wadah obat, dan masih banyak lagi. 

  1. How We Grow Things (22%)

Diprediksi jumlah penduduk bumi akan mencapai 10 miliar di tahun 2100. Penambahan angka populasi ini akan menyebabkan kebutuhan pangan meningkat pula. Tak hanya soal penambahan populasi, semakin kaya masyarakat maka semakin besar pula konsumsi kalori, spesifiknya, yaitu daging dan produk olahan susu (dairy). Sedangkan, untuk memproduksi daging dan produk olahan susu, kita dibutuhkan pakan lebih besar. Contohnya, seekor ayam membutuhkan pakan senilai dua kalori untuk memberi manusia satu kalori. Artinya, manusia harus memberi makan ayam dua kali lebih banyak kalori daripada yang manusia dapatkan dari ayam tersebut saat manusia memakannya. Untuk kasus hewan ternak, sapi memiliki rasio terbesar, yaitu sapi mengonsumsi 6 kalori yang kemudian hanya menjadi 1 kalori bagi manusia yang mengonsumsi beef. Sederhananya, semakin banyak kalori yang kita dapatkan dari konsumsi daging, semakin banyak tumbuhan yang dibutuhkan untuk memberi makan hewan ternak tersebut dan kemudian luas lahan untuk memproduksi pakan pun semakin besar dibutuhkan. Tak hanya itu, hewan pemamah biak seperti sapi, domba, kambing, dan lain-lain melepaskan gas metana yang jika dikalkulasikan emisinya sama sebesar 2 miliar ton karbon dioksida, yaitu sekitar 4 persen dari emisi global. 

  1. How We Get Around (16%)

Ironi ketika saya menulis ini di atas ketinggian 30.000 kaki di dalam transportasi udara komersial. Armada transportasi sangat dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Tidak dipungkiri, masyarakat kota memiliki mobilitas tinggi dengan sering bepergian baik dengan transportasi darat maupun udara. Menurut International Council on Clean Transportation, emisi dari moda transportasi di peringkat nomor 1 diisi oleh mobil/motor/SUV, dimana armada transportasi ini juga banyak dimiliki pribadi oleh penggunanya. Kendaraan ini pun banyak bergantung dengan bahan bakar bensin yang cenderung murah. Sekarang, sudah banyak pabrik mobil yang memproduksi mobil elektrik. Namun, tantangan yang dihadapi adalah semakin besar kendaraan dan semakin jauh jarak tempuh yang diharapkan (misalnya kapal dan pesawat), maka semakin sulit utk menggunakan listrik sebagai bahan bakarnya karena kendaraan listrik membutuhkan storage untuk menyimpan energi dalam bentuk baterai. Akan sulit bagi kapal dan pesawat beroperasi dengan beban baterai yang besar. Terlepas dari itu, tetap solusi terbaik sekarang yang dimiliki adalah berpindah menggunakan listrik atau energi alternatif lainnya yang ramah lingkungan. Mengurangi penggunaan bensin dinilai tidak cukup untuk menuju nol emisi. Mengutip dari buku ini, “even if you’re burning less gasoline, you’re still burning gasoline.”

  1. How We Keep Cool and Stay Warm (7%)

Air conditioning (AC) sekarang bukan lagi barang mewah. Benda ini sangat membantu khususnya di daerah yang mengalami musim panas. Tak hanya itu, teknologi ini dimanfaatkan pula di server farms (gudang dimana komputer-komputer saling terhubung untuk menyediakan sumber daya komputasi yang masif) yang membuat teknologi komputasi sekarang ini semakin canggih, salah satunya dalam penyedia cloud services (tempat kita menyimpan file musik, foto, dokumen, dan sebagainya berbasis internet). Server farms ini menghasilkan energi panas yang besar sehingga membutuhkan unit pendingin untuk mencegah overheat. 

Menurut data IEA yang dikutip buku ini, pada tahun 2018 terpasang 1,6 miliar unit AC di seluruh dunia namun angka ini tidak terdistribusi merata. Pada rumah tangga di negara maju contohnya, Jepang dan Amerika yang menduduki peringkat 1 dan 2 sebagai negara dengan rumah tangga konsumen AC terbesar di dunia, setidaknya memiliki 90% AC yang terpasang. Indonesia sendiri menduduki peringkat 8 di tahun tersebut. Menilik pertumbuhan angka penggunaan AC, China mengalami kenaikan 350 juta dari tahun 2007 ke 2017. Secata global, pertumbuhan angka penggunaan unit pendingin pada tahun 2018 naik hingga sebesar 15% dengan kontribusi kenaikan terbesar oleh Brazil, India, Indonesia, dan Mexico yang mengalami kenaikan suhu. Diramalkan pada tahun 2050, penggunaan AC di dunia akan naik hingga mencapai 5 miliar unit di seluruh dunia mengingat suhu yang meningkat di sejumlah negara. Karena unit pendingin membutuhkan energi listrik untuk beroperasi, ini menyebabkan dekarbonisasi poin 5 ini akan berkaitan erat dengan poin nomor 1 yaitu How We Plug In. 

Selanjutnya, ini mungkin terdengar sedikit aneh untuk buku yang membahas tentang pemanasan global, juga membahas mengenai “how to stay warm”. Walaupun pemanasan global terjadi, beberapa wilayah di bumi juga akan tetap mengalami musim dingin. Perlu diketahui, sistem penghangat tak cuma meliputi penghangat udara, melainkan termasuk air panas dalam rumah tangga maupun industri dengan mayoritas dari sistem penghangat menggunakan bahan bakar fosil. Maka untuk menyelesaikan tantangan ini, kita perlu (1) beralih menggunakan energi listrik sebagai sumber pembangkit energi panas dan (2) mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan.

Sebagai penutup, Gates memberikan rangkuman aksi yang bisa dilakukan oleh masing-masing pembaca baik sebagai warga negara, konsumen energi apapun bentuknya, maupun sebagai karyawan atau stakeholder. Ia kemudian menuliskan bahwa jawaban untuk momentum ini adalah menggunakan satu dekade ke depan untuk fokus di teknologi, kebijakan, dan perubahan struktur market yang mengarahkan kita kepada eliminasi gas rumah kaca di tahun 2050.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *