Baik Aja Enggak Cukup, Terus Gimana? Yuk, Simak Perspektif dari Ustad Abu Fida dan Iwet Ramadhan!

Jakarta – RumahMillennials.com | Halo, sobat millennials! Selamat menjalankan puasa ramadhan. Semoga kita semua mendapatkan keberkahan dari-Nya. 

By the way, pas banget nih, dalam suasana ramadhan ini, kolaborasi dari Rumah Millennials, Terang Jakarta, Limitless.CO, dan Xtra1Porsi mengadakan sebuah diskusi ramadhan (bukan kajian iya) yang bertema U2U (Ramadhan Untuk Semua) yang dijalankan pada Minggu 26 April 2020.

Topik yang dibahas pada diskusi kali ini agak nyentil dan mungkin buat kita mikir. Selama ini mungkin bisa jadi kalau kita memegang teguh kalau selama kita berbuat baik, hidup kita akan baik-baik saja. Tapi, ternyata, berbuat “baik aja enggak cukup. Terus gimana”? Nah, ini dibahas oleh dua orang yang punya perspektif yang luas, Ustadz Abu Fida dan Iwet Ramadhan.

Judul ini menurut oleh Ustadz Abu Fida sangat mengena, kenapa? Karena yang namanya baik itu sebenarnya ada koridornya. Bisa jadi, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain belum tentu bermakna dan berbeda jika sesuai tuntutan ajaran agama masing-masing. Apalagi, jika kita memakai indicator baik dalam ukuran manusia, ukurannya jadi tendensius dan subjektif. Karena apa?

Iwet sedikit menjelaskan kalau manusia memiliki value dan sumber ilmunya yang berbeda. Iwet mencontohkan dirinya sendiri. Dia bercerita kalau orang tuanya mengajarkan empat hal kebaikan, pertama ialah balas budi. Ketika dibantu sama orang, kita harus ingat terus, lalu ketika orang tersebut meminta bantuan, kita menjadi sukarela untuk membantu orang tersebut. Kedua punya prinsip misalnya tidak melakukan hal-hal yang dilarang. Ketiga, bekerja keras bahwa semua hal yang kita lakukan di dunia ini harus dilakukan dengan kerja keras dan sungguh – sungguh. Dan terakhir lakukan semuanya karena Allah SWT.

Tapi, kata Iwet, orang tuanya hanya mengajarkan gimana caranya berbuat baik, bukan bertindak benar. Nah, ini pertanyaannya, bagaimana perbuatan baik kita diikuti oleh bertindak benar. Ustadz Abu Fida pun berkata kalau baik itu juga tergantung pada frame siapa yang kita pakai. Abu Fida pun mengatakan kalau menilai perbuatan baik, sebaik – baiknya ukuran baik itu adalah ukuran Allah SWT.

Ustadz Abu Fida juga menyinggung soal takdir, Allah sudah memposisikan hidup orang lain. Allah telah memberikan peran terhadap setiap manusia. Misalnya kita diandalkan oleh orang lain padahal ada orang selain kita. Mungkin kita merasa dimanfaatkan oleh orang tersebut. Tapi, Ustadz Abu Fida menjelaskan kalau ada orang yang merasa termanfaatkan, berarti dia belum sadar bahwa dirinya bermanfaat bagi orang lain. Ditambah lagi, sebaik – baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak.

Iwet pun melemparkan pertanyaan pada Ustadz Abu Fida bagaimana menyadarkan diri kalau kita sedang menjalankan sebuah peran. Ustadz Abu Fida menjelaskan, waktu kita berkonflik terhadap diri kita, karena kepercayaan yang telah diberikan senangnya ada dan capeknya ada. Tapi, disini ada tanda bahwa kita adalah Hamba Allah yang dipilih untuk menebar manfaat kepada banyak orang. Kadang kita berkonflik agar kita bisa mengingat Allah. Iwet menambahkan kalau berdzikir membuat hatinya menjadi tenang. Selama niat kita baik, Allah akan menjaga kita.

Menutup diskusi, Iwet menyampaikan kalau dia selalu percaya segala sesuatu dari Allah dan melakukan sesuatu karena Allah. Ustadz Abu Fida mengatakan kalau Allah mengelompokkan hamba – hambanya berdasarkan amal perbuatannya. Apa yang kita lakukan hari ini akan mendapatkan feedback terhadap apa yang kita lakukan di masa depan. Apa yang sudah Allah tetapkan itu adalah yang paling baik. Sekarang, tergantung dari kita yang melaksanakannya, apakah kita jalani dengan penuh ketaatan atau kemaksiatan.

Kesimpulan dari diskusi ini menurut penulis (dengan kapasitas pengetahuan yang sedikit) adalah kalau melakukan perbuatan baik hendaknya dilandaskan karena Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengutip sedikit dari Ustadz Abu Fida, bahwa sebaik-baiknya ukuran kebaikan adalah ukuran Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang terpenting adalah bahwa semua yang kita lakukan ada yang mengawasi dan mencatat. Selain itu, kalau nyambung ke dalam situasi sekarang, di tengah pandemik ini, Ramadhan kali ini menjadi momentum yang pas bagi kita untuk melakukan perenungan dan evaluasi diri apakah segala sesuatu yang kita lakukan sudah berlandaskan dengan niat karena Tuhan Yang Maha Kuasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *