The Great Resignation: Maaf Bos, Kita Sudah Tidak Sejalan

Jakarta – RumahMillennials.com | Seminggu belakangan ini, netizen Indonesia sedang riuh membahas The Great Resignation. Mungkin sedikit diralat, normalnya memang netizen membahas soal apapun suka heboh!

Namun, apa itu the great resignation?

Ketika orang-orang berlomba mencari kerja demi meningkatkan jumlah digit di e-wallet mereka maupun memperpanjang section experience di platform LinkedIn, kali ini justru sebaliknya. Sangat berlebihan memang jika ini disebut perlombaan. Namun, faktanya belakangan ini jumlah pekerja yang mengucapkan salam perpisahan kepada bos-nya semakin meningkat. Yes! They resign from their job.

Mungkin terdengar janggal ketika masa sulit ini kok malah banyak yang memutuskan untuk mundur dari rutinitas profesionalnya. Ternyata, ini sudah terjadi beberapa tahun belakangan. Dilansir dari laman Tirto.id, Susiwijono Moegiarso selaku Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan pada para wartawan di Jakarta (24/02/2019) bahwa saat tahun 2019, jumlah PHK sedang tinggi yaitu 285 ribu. Yang menarik, justru jumlah karyawan yang mengundurkan diri lebih fantastis yang saat itu mencapai 1,3 juta. Info ini didapatkan beliau melalui data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BP Jamsostek) [1].

Uniknya lagi, saat artikel ini ditulis di kamar kost yang bahkan tidak lebih luas dari panjang kali lebarnya Lexus LM 350-7 Seater, Wikipedia di hari yang sama meng-update page mengenai The Great Resignation atau bisa disebut The Big Quit. Wah, di hari yang sama namun di belahan bumi yang berbeda sedang ada penulis lain yang sibuk mengejar deadline tulisan mengenai topik ini! Coincidence? Bisa jadi.

Sebetulnya, sebelum hal ini bisa se-booming ini di Indonesia, Amerika sudah terlebih dahulu mengalaminya. Menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja USA, pada Agustus 2021 terjadi pengunduran diri yang cukup luar biasa yaitu mencapai angka 4,3 juta [2]. Industri tertinggi yang mengalami ini di bulan tersebut adalah akomodasi dan layanan makanan, rekreasi dan perhotelan, serta perdagangan ritel. Itu artinya mereka kesulitan mendapatkan karyawan untuk operasi perusahaan. Sulit dibayangkan, jika pelanggan harus beralih menjadi self-service ketika franchise penyedia layanan makanan sedang mengeluarkan menu spesial edisi boyband Korea Selatan! Atau mungkin, akan sangat merepotkan jika sistem self-service ini diimplementasikan di industri ritel saat seminggu sebelum Lebaran. Bisa dibayangkan bagaimana hebohnya belanja baju dan toples nastar cantik menjelang hari raya.

Hyperbolic jokes aside, mari kembali serius dengan membicarakan benua yang lebih dekat dengan Indonesia, yaitu Australia. Seorang behavioral scientist dari perusahaan riset dan penasihat global Gartner, Aaron McEwan, mengatakan bahwa belum terlihat fenomena The Great Resignation di Australia. Namun tanda-tanda dasarnya sudah mulai bisa dirasakan [3]. Menurutnya, pandemi berdampak dalam pergeseran keseimbangan kekuasaan dari pengusaha ke karyawan. Kontrak psikologis antara pemberi kerja dan pekerja berubah. Dahulu karyawan ingin mendapatkan imbalan atas tenaga, waktu, dan usaha yang sesuai. Saat ini, secara psikologis, pekerja mulai berpikir ke arah yang lebih fundamental. Mereka ingin dilihat sebagai manusia yang kompleks dengan kehidupan yang kaya dan penuh. That is so deep!

Selain pemikiran yang mendalam tersebut, pandemi juga mulai membentuk pertimbangan lainnya. Pekerja yang merasa tidak ingin kembali work from office berpikir bahwa perusahaan bisa survive kok dengan sistem work from home yang dijalankan. Bagi mereka, untuk apa repot-repot kembali WFO dengan menerjang macetnya jalan perkotaan selama 2 jam dalam rangka merasakan duduk di kursi kantor dan menggunakan wifi dengan kecepatan yang sama dengan di rumah? Selain itu, akan lebih aman bekerja di rumah tanpa harus kontak fisik dengan orang selama pandemi yang belum menyentuh garis akhir ini. Tidak hanya itu, pandemi memberikan orang-orang waktu untuk berpikir tujuan dari profesi mereka. Pekerja yang merasakan burn-out mulai memikirkan apakah pekerjaan mereka adalah hal yang mereka mau lakukan dalam jangka panjang.

Poin penting lainnya, perlu diketahui bahwa mayoritas pekerja di dunia tidak se-fleksibel itu untuk berhenti kerja dengan berbagai macam alasan. Namun, jumlah pekerja yang mengatakan “I Quit!” ini juga tidak sedikit. Ini berpotensi perusahaan berlomba-lomba membuat iklan lowongan kerja semakin menarik dan menawarkan benefit yang kompetitif. Itu artinya bahwa talent yang dibutuhkan juga harus semenarik tawaran yang diberikan perusahaan. 

Tentu kita setuju, pandemi berdampak kepada setiap orang dengan bentuk yang berbeda dengan memberikan perubahan besar. Perubahan besar dari pandemi ini sangat unik bagi setiap orang: memiliki waktu dengan keluarga lebih banyak, kehilangan anggota keluarga, menemukan minat lain selain rutinitas pekerjaan, dan sebagainya. Pada akhirnya, setiap perubahan besar yang dialami seseorang, itu akan berdampak pada cara ia memandang sesuatu (and in this case we talk about the job itself).

Sumber:

[1] Vincent Fabian Thomas. 25 Februari 2020. “Lebih Banyak Pekerja Mengundurkan Diri daripada di-PHK Tahun 2019.” https://tirto.id/lebih-banyak-pekerja-mengundurkan-diri-daripada-di-phk-tahun-2019-eBdr

[2] Ian Cook. September 15, 2021. Data of U.S. Bureau Labor Statistics on article “Who is Driving the Great Resignation?”. https://hbr.org/2021/09/who-is-driving-the-great-resignation

[3] ABC Radio National. 24 Sep 2021. “Here comes the Great Resignation. Why millions of employees could quit their jobs post-pandemic.”https://www.abc.net.au/news/2021-09-24/the-great-resignation-post-pandemic-work-life-balance/100478866

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *