Susi Pudjiastuti: Indonesia Itu Seperti Wanita Cantik Dan Elegan Tapi Pakaiannya Kurang Apik

Bekasi – RumahMillennials | Dulu menteri, sekarang jadi ratu gasin di Natuna.

Begitulah salah satu kegiatan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014 – 2019, Susi Pudjiastuti selama berada di Natuna. “Bertemu Indonesia” persembahan Catatan Najwa Spesial dari Narasi.TV kali ini, Najwa Shihab selaku Founder Narasi.TV mengajak Susi ngobrol – ngobrol soal kehidupan menjadi warga biasa, kelautan, dan melihat Indonesia saat ini.

Selama pandemi ini, Susi fokus merestrukturisasi Susi Air yang juga mendapatkan dampak. Meski begitu, perhatiannya terhadap keberlangsungan lingkungan terutama di perairan tidak berubah.

Saat ditanya soal melihat kelautan dan perikanan kini banyak yang dipolitisasi, Susi mengaku tidak ambil pusing soal itu.

“Saya tidak terlalu peduli dengan politik, tapi ekosistem adalah sesuatu yang kita butuhkan. Mestinya tidak dipolitisasi. Ekosistem dan lifehood, kan kita juga ikut Sustainable Development Goals (SDG) 14, jadi kalau gak ikut kita ini apa sebagai masyarakat internasional? Janji ke anak cucuk kita, bagaimana? Sebelum jadi menteri pun saya sudah peduli dengan lingkungan, bahari, dan air”, kata Susi.

Dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan marahnya, melihat kondisi kebijakan terkait perikanan dan kelautan saat ini.

“Indonesia 71% adalah laut, kamu sadar gak, Najwa? 99,7% perbatasan Indonesia dengan negara luar adalah laut. Kalau kita sudah memunggungi laut, kemudian 5 tahun kemarin Presiden permisi menghadap laut, peduli laut, lalu sekarang sudah dilepas begitu saja, speachless!” kata Susi soal Indoensia yang masih memunggungi lautan.

Bagi Susi, menjadi pejabat negara itu soal membuat kebijakan – kebijakan yang menjaga kedaulatan, keberlanjutan, yang kalau itu dilanjutkan akan muncul kesejahteraan. Dia juga menegaskan bahwa dia menjabat tidak untuk meninggalkan nama, tapi legacy untuk anak – anak bangsa.

“Kita ini hakikat hidup untuk menjaga dan mendidik, untuk masa depan anak cucu kita. Kita punya kewajiban untuk meneruskan keberlanjutan kehidupan kita yaitu ke anak cucu kita. Saya ajak semua mengerti bahwa negara harus melindungi sumber daya alam, terutama sumber daya yang bisa diperbaharui, yang bisa terus ada dan banyak terus menerus untuk anak cucu kita”, ujar Susi.

Menurut Susi, “ikan ini akan menjadi sumber yang sangat penting untuk anak – anak kita. Untuk menaikan otak anak – anak Indonesia menjadi diatas 90 atau 100, kita butuh asupan protein. Protein itu tidak didapat dari beras, tapi dari laut, dari ikan”. Susi menambahkan “karbo itu bikin ngantuk, bikin endut. Kurangi karbo, banyak makan ikan. Omega itu bikin IQ tambah kuat”.

Susi berpesan kepada generasi muda Indonesia agar menjaga lingkungan bersih terutama dari sampah plastik karena berbahaya untuk laut kita. Susi mengingatkan bahwa Indonesia itu masih menjadi penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, maka dari itu mengurangi sampah plastik sekali pakai, itu penting demi keberlanjutan.

Selain itu, Susi mengimbau “pemuda/i Indonesia agar memperbanyak kepedulian. Pakai pandemi ini untuk meningkatkan empati kepada anak – anak bangsa, saudara – saudara kita. Mereka sekarang belajar dari rumah, WFH, tetapi banyak dari mereka yang tidak bisa akses internet, lalu bagaimana?

Kalau kamu punya iPad atau smartphone yang lama, kasih saja ke anak – anak kita yang membutuhkan. Share your knowledge and opportunity, share everything that you can, untuk membantu masyrakat menempuh kehidupannya dalam masa – masa sulit.”

Kepedulian bukan hanya bagi sesama, Susi mengatakan kepedulian terhadap alam juga harus dijaga. “feeling to love, feeling to care terhadap sesama dan alam, itu yang harus kita tingkatkan. Bukan ketidakpedulian, ambisi, atau tujuan kita saja. Apa yang bisa kita bagikan, bagikan! Itu sesuai dengan Pancasila yang kita gaung – gaungkan karena di Pancasila itu ada nilai keadilan, pemerataan. Saya yakin anak – anak Indonesia punya semangat gotong royong”.

Saat ditanya kalau Indonesia dipersonifikasikan jadi orang, akan menjadi seorang apa, Susi menganalogikan seperti wanita cantik yang elegan tapi bajunya sedikit tidak bagus, apik, dan kotor. Keeleganan itu turun nilainya karena bajunya kurang baik, tapi wujudnya cantik dan elegan. Seperti itulah Indonesia di mata Susi saat ini.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *