3 Millennial Yang Berdaya Ini, Menunjukan Masa Depan Indonesia Berada Di Jalur Yang Benar

Bekasi – RumahMillennials.com | Masa depan Indonesia pelan – pelan sudah mulai dibangun oleh para pemuda generasi millennial dan z. Memang masih sebatas gerakan – gerakan, komunitas, atau startup, sebagian sudah menjadi besar dan mampu memberi manfaat bagi banyak orang, yang lainnya masih dalam proses bertumbuh.

Meskipun baru sebatas gerakan – gerakan, komunitas, startup, dan UMKM yang nama – namanya saja belum dikenal banyak orang, jangan remehkan segala terobosan yang dilakukan generasi muda Indonesia. Dampak yang besar dimulai dari gerakan kecil, dan saat ini Indonesia sudah berada di jalur yang tepat.

Terlebih lagi, jika memiliki tipikal pemuda/i yang berdaya dan semangat dalam berkarya, seperti tiga pembicara yang hadir dalam sesi webinar pertama B3Fest, persembahan dari Rumah Millennials dalam merayakan ulang tahun yang ke-3. Ketiga pemuda tersebut antara lain M Hanif Izzatullah (Project Officer Sacita School of Social Business), Angga Fauzan (Founder Boyolali Bergerak), dan Nur Agis Aulia (Owner Jawara Farm & Duta Muda Petani 2018). Webinar ini dimoderatori oleh Desi Saragih, Founder Sangkakala Academy & RM Regional Medan, pada Jum’at 24 Juni 2020.

Tahap awal menjadi tantangan yang begitu berat bagi ketiga millennial tersebut. Saat baru – baru mulai, mereka dihadapkan tantangan berupa penolakan dari masyarakat setempat, dipandang sebelah mata, dikira orang yang mau kasih – kasih sumbangan, sedikitnya yang bergabung, dan lain sebagainya.

Bagi Nur Agis Aulia, konsistensi menjadi kunci penting bagi dia dan tim Jawara Farm dalam menciptakan ekosistem dan menjalankan program – programnya. Membangun kepercayaan dengan warga setempat dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter masyarakat setempat, mengajak tokoh masyarakat, dan melakukan mapping stakeholder di desa adalah kiat – kiat yang secara konsisten dilakukan Agis bersama tim Jawara Farm.

Begitu juga dengan Angga Fauzan, yang membangun kepercayaan masyarakat dengan merangkul tokoh – tokoh masyarakat setempat seperit Lurah, RW, dan RT lalu menjalankan program dengan maksimal meskipun yang baru ikut tak lebih dari 15 orang. Namun dari yang awalnya 15, sekarang menjadi 150 bahkan warga melakukan swadaya untuk membangun fasilitas TPA yang lebih baik di tiap – tiap desa. Sekarang, Boyolali Bergerak sudah menjalankan programnya di 10 Kecamatan, dengan membangun TPA.

Lain halnya dengan M Hanif Izzatullah, yang awalnya masyarakat memandang bisnis sosial itu tidak memberikan keuntungan dan meragukan apakah bisa berkelanjutan. Namun, bersama tim Sacita School of Social Business, secara konsisten memberikan edukasi pada para founder bisnis untuk menguatkan karakter dan membangun empati dengan metode design thinking. Dengan pelatihan yang konsisten, muncul pebisnis – pebisnis dari warga desa itu sendiri baik yang generasi muda maupun tua, dengan membawa value proposition yang lebih baik dan diaplikasikan melalui bisnisnya.

Menurut Hanif, komunitasnya terbuka untuk siapapun dan tidak inklusif, jadi nuansanya lintas generasi dan bisa berbagi banyak informasi sehingga tercipta lingkungan yang inklusif. Harapannya, di masa depan masyarakat berubah pemikirannya yang tadinya hanya memandang orang lain dari profesinya saja, menjadi lebih melihat perannya di masyarakat.

Dengan adanya gerakan – gerakan yang mendorong generasi muda untuk membangun desanya, cita – cita Indonesia di tahun 2045 untuk menjadi salah satu negara besar akan mampu terwujud. Ekosistem yang dibangun oleh generasi muda dalam memberdayakan masyarakat desa, akan memberikan dampak yang sangat besar di kemudian hari, jika dilakukan dengan konsisten dan meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *