Pahami Emosi Dalam Diri Dan Maknai Hidup Kamu Dengan Mindfulness

Bekasi – RumahMillennials.com | Manusia lahir di dunia ini diberkahi oleh Tuhan elemen – elemen yang ada untuk membantu menjalani hidup seperti emosi, otak untuk berpikir, dan kemampuan merasakan sensasi. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk – makhluk lainnya di muka bumi, bisa dibilang manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.

Akan tetapi, di masyarakat baik itu di lingkungan keluarga, tempat tinggal, dan pendidikan yang ditanam di sekolah, membuat manusia lupa tentang ketiga elemen tersebut. Misalnya, waktu masih kecil belajar sepeda lalu jatuh, terus nangis, respon orang dewasa di sekitar kurang lebih seperti ini “udah, kamu jangan nangis”, seakan – akan menangis itu hal yang keliru. Lainnya, waktu barang kita diambil oleh orang lain lalu kita marah, dan reaksi orang sekitar seperti “udah, kamu jangan marah!”, seakan – akan marah itu salah.

Ini menghasilkan pemikiran bawah sadar bahwa emosi negatif seperti marah dan sedih itu selalu salah, dan tidak kita tidak diperbolehkan untuk merasakannya. Akibatnya, kita sulit mengidentifikasi dan menerima rasa yang sedang dirasakan. Ketika marah, dalam pikiran terus memaksa “aku gak boleh marah”, atau saat sedih lalu ditanya orang lain jawabnya “gak, aku gak sedih!”. Akibatnya, banyak yang merasa tidak baik – baik saja namun memaksa untuk merasa baik – baik saja, sehingga muncul rasa stress, depresi, kosong, cemas, dan kesepian. Ini bisa mempengaruhi kesehatan mental.

Salah satu solusi agar bisa menjalani hidup yang lebih baik dengan mental yang lebih sehat adalah menerapkan mindfulness dalam keseharian. Hendrick Tanuwidjaja dari Riliv’s Mindfulness Expert, dan Fidella Anandhita, Ketua Bidang Pengembangan Diri & Penguatan Karakter Rumah Millennials berbagi ilmu dan pengalamannya dalam sesi M-Talks bertajuk “Mindfulness: Membangun Hidup Penuh Makna” Minggu 6 Juli 2020.

Secara teori, Mindfulness itu terbagi dalam empat elemen yakni:

1. Paying Attention: Mendengar, melihat, atau menyadari apa yang sedang terjadi

2. On Purpose: Secara intensitas, meningkatkan pengalaman akan kesadaran diri

3. In the Present Moment: Fokus pada momen sekarang dan saat ini

4. Non-Judgementally: Lebih objektif dalam melihat suatu pengalaman

Hendrick mengatakan, generasi muda terutama millennial dan gen z, memiliki banyak sekali aktivitas dalam hidup mereka. Dari kaca mata mindfulness tidak masalah memiliki banyak aktivitas, namun masalahnya bagaimana menjalani kegiatan padat tersebut. Permasalahan terbesarnya, banyak dari generasi muda tidak memberi jeda pada aktivitasnya, seperti keharusan untuk melakukan sesuatu, karena kalau menganggur itu dinilai tidak berguna dan buang – buang waktu. Padahal, manfaat memberikan jeda yang paling utama agar kita bisa mengoleh tanggapan pada suatu kejadian dan rasa, baik yang muncul dari luar ataupun dari dalam diri sendiri. Mindfulness itu memberikan jeda untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan menyadarkan kita akan respon yang diberikan.

Mindfulness juga membantu mengenali kinerja otak, misalnya marah itu sebenarnya reaksi dari bagian otak amygdala, jadi tidak ada yang keliru dari sana. Kalau memang lagi merasa marah, akui saja kalau memang sedang merasa marah karena kesal akan sesuatu.

Sejalan dengan Hendrick, Fidella Anandhita mengatakan penerapan mindfulness bisa sangat mudah, sesimpel menyadari kalau kita sedang bernafas. Fidella sendiri mengartikan mindfulness menyadari apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan. Namun Fidella mengingatkan, menerapkan atau memahami konsep mindfulness itu bukan suatu keharusan. “Gak ada yang harus”, begitu kata Fidella. Seberapa pentingnya mindfulness bagi kamu itu tergantung pada dirimu sendiri. Kalau memang tidak mau tahu, ya sudah tidak apa – apa karena memang tidak harus tahu. Itu tergantung bagaimana kamu mau memperbaiki diri.

Sependapat dengan Fidella soal tidak ada yang harus, Hendrick mengingatkan bahwa mindfulness itu tidak menginginkan sesuatu atau menghakimi seperti “oh saya marah nih, berarti saya tidak mindful“. Kenapa reaksi seperti ini kerap muncul saat sedang merasakan emosi negatif? Karena kita selalu terjebak dalam mode reaktif seperti “oh saya harus lega, harus sabar, gak boleh sedih, jangan marah”. Mindfulness harus dilatih agar bisa lebih baik dalam menyadari dan menerima kalau sedang merasakan emosi negatif, serta memberikan jeda waktu.

Contohnya mendiang dan legenda NBA, Kobe Bryant yang sudah bermeditasi sejak 10 tahun lalu. Saat Kobe bermain dalam suatu pertandingan, dia masuk zona dimana hanya meraskan kehadirannya di atas lapangan, mendribel bola, lalu memasukannya, tanpa berpikir untuk mengalahkan lawan. Dia merasakan kehadirannya bersama momen mendribel bola dan memasukan ke ring. Itulah kekuatan mindfulness, mampu menghilangkan ego untuk ingin menang dan bersaing, bahkan bisa memberikan ruang saat berkompetisi. Jadi tidak lagi harus mengalahkan lawan, karena hal itu membuat batin kita tergesa – gesa, rapat, dan reaktif.

Ini juga berhubungan dengan sikap membanding – bandingkan hidup sendiri dengan orang lain, terutama di era digital dimana media sosial memberikan tempat untuk mengekspos segala momen dalam hidup. Fidella mengatakan, daripada berkompetisi dengan orang lain dan merasa FOMO alias fear of missing out, lebih baik menjadi lebih baik daripada menjadi yang terbaik. Tidak masalah kalau tertinggal dengan orang lain, yang kamu butuhkan hanyakasih sayang untuk mengapresiasi diri sendiri. Kalau sekarang belum bisa menjadi bermanfaat bagi lingkungan sekitar, minimal tidak merugikan orang lain, dan bisa jadi lebih baik dari hari kemarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *