Khawatir Soal Quarter Life Crisis? Ini Dia Solusi Ampuhnya

Jakarta – RumahMillennials.com | Halo, sobat millennials! Di usia 20-an yang kita masuki ini, pasti tidak asing lagi dengan quarter life crisis. Apa sih quarter life crisis itu? Sederhananya, mereka adalah perasaan ketidakamanan, kegalauan kita tentang rencana kehidupan, finansial, masa depan, dan lain-lain. Dan terlebih, dengan gegap gempita media sosial, kita jadi lebih sering untuk comparing ourself, sadar atau tidak.

Tapi, quarter life crisis tidak perlu kita khawatirkan, kenapa? Ini yang dibahas  dalam diskusi kolaborasi Rumah Millennials, Terang Jakarta, Limitless.co, dan Xtra1porsi dengan Vivi Alatas dan Prilly Latuconsina.

Vivi Alatas mengaku kalau sedang mengalami yang namanya mid-life crisis. Rasa seperti apa yang dia rasakan? “Kegalauan saya adalah berapa aspek kehidupan yang ingin saya rubah.” Jelas Vivi. Waktu adalah hal yang tak tergantikan, sehingga kita sering memikirkan berapa banyak kita melakukan sesuatu yang salah atau kecewa.

Vivi Alatas

Sementara Prilly, dia justru tidak mengalami fase ini, kok bisa? Prilly sedikit bercerita bahwa dia sudah mengemban tanggung jawab anak usia 20-an di umur 13 tahun yaitu bekerja. Maka dari itu, dia tidak mengalami fase quarter life crisis seperti orang pada umumnya. Tapi, ada masalah yang sedang dihadapi oleh Prilly, yakni tidak tahu kebahagiannya sendiri. “I don’t know my happiness anymore” kata Prilly.

Prilly juga bercerita kalau pernah di satu titik, dia menangis dan menanyakan apa kebahagian yang dia cari. “Aku tidak merasa hidup untuk diriku. Sering merasa kesepian dan kesendirian” sehingga dia pun tidak merasa penuh dan cukup. Apakah mencari validasi atau memang menyukai apa yang dilakukannya? 

Disini kita perlu tahu apa definisi kebahagiaan itu sendiri? Vivi Alatas punya definisi kebahagiaannya sendiri. “Kebahagiaan adalah target-target atau tonggak yang telah kita capai.” Tapi, kalau soal ini target itu bisa berjenjang dan tergantung situasi dan kondisinya. Kebahagiaan sejati menurut Vivi, juga tidak hanya kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, tapi bagaimana kita mendapatkan panggilan cinta dari Tuhan YME.

Tetapi, kita sering dihadapkan oleh momok yang bernama kegagalan. Yang terpenting, bagi Vivi, adalah passionate about process. Kita berusaha terlebih dahulu, karena hal itulah yang hanya bisa kita lakukan. Soal hasil, katanya, serahkan kepada Allah SWT. Lagipula, hidup ini bukan pacuan kuda.

Sama ketika Prilly telah menjadi sukses sekarang. Ada proses yang dilaluinya untuk bisa sampai sekarang. Dia sudah ada dalam tahap dimana Prilly sadar kalau dia tidak bisa menyenangkan semua orang. “Aku sudah di proses dimana aku hanya sabar ketika banyak orang yang omongin” jelas Prilly. Selain itu, Prilly juga lebih bersyukur karena bisa menjadi seperti yang sekarang.

Prilly Latuconsina

Terkait pencarian jawaban soal jati diri dan tujuan hidup, Vivi mengatakan kalau kita butuh sifat introvert, perenungan mendalam soal apa yang ingin kita lakukan dan merefleksi soal kegagalan dan kekecewaan. Vivi alatas juga mengatakan, di surat Al-Asr mengandug misi-misi hidup. Surat Al-Asr ini menceritakan tentang misi hidup kita: beriman, beramal soleh, saling menasehati dalam hal kebaikan dan kegigihan. Juga diceritakan tentang kasih sayang dan kesabaran. Indikator hidup ini bisa dijadikan referensi untuk menilai bagaimana kita menjalani hidup selama ini dan sekaligus jadi jawaban tentang quarter life crisis.

Selama kita hidup, Tuhan selalu menyertai dan melindungi kita. Prilly mencontohkan kalau dia punya rencana menikah umur 22 tahun dan menurutnya itu adalah hal yang baik. Tapi ternyata, sampai saat ini, Prilly berumur 23 tahun dan masih belum menikah. Ada hikmah yang Prilly temukan soal ini “Mungkin jika umur 22 menikah, kesempatan untuk membangun karir dan membahagiakan orang tua tidak ada.” Tutur Prilly

Hal yang sama Vivi juga utarakan. Dia baru menikah berumur 35 tahun, padahal Vivi tidak henti untuk memohon. Tapi, Tuhan lebih mengetahui apa yang lebih baik untuk Vivi. Bahkan Vivi berkata “Kalau aku disuruh mengulang waktu, aku akan menikah di umur 35.” Jelas Vivi. Yang terpenting adalah kita berusaha dengan maksimal mungkin, sisanya kita serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Intinya, quarter life crisis itu sebenarnya tidak perlu kita khawatirkan kalau kita berserah diri kepada Tuhan YME. Usaha adalah hal yang bisa kendalikan, tapi soal hasil itu lain cerita. Yang bisa kita lakukan versi Prilly adalah mengembangkan potensi dan kemampuan diri semaksimal mungkin. Soal hasil, kita hanya bisa berdoa dan berserah diri kepada Tuhan YME.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *