GNFI dan Rumah Millennials Ajak Pemuda Untuk Kuatkan Semangat Berkomunitas

JAKARTA – RumahMillennials.com | Ada satu budaya yang dimiliki pemuda/i Indonesia di setiap generasinya, yang tidak dimiliki oleh negara lain. Budaya itu yakni guyub, atau definisi menurut bahasa saya sekumpulan individu yang memiliki ketertarikan, concern, visi, dan misi yang sama lalu bergabung dan membentuk suatu kelompok. Kelompok ini, sekarang lebih dikenal dengan istilah komunitas, organisasi, dan gerakan sosial.

Budaya guyub dengan semangat gotong royong, sudah menjadi karakter pemuda/i Indonesia. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 menjadi bukti, dimana sekumpulan pemuda yang datang dari berbagai organisasi kepemudaan seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, dll menyuarakan sumpahnya pada kongres II di Gedung Pemuda Katolik, Batavia (sekarang di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat).

Dari generasi pemuda pada era 1928, sampai sekarang generasi millennial dan z, pemuda/i Indonesia masih membentuk paguyuban dalam bentuk komunitas, organisasi, dan gerakan sosial, dengan semangat gotong royong atau bahasa kerennya kolaborasi. Kebanyakan, orang – orang yang mau berjibaku dalam komunitas atau organisasi adalah orang – orang yang memiliki jiwa ingin maju dan melakukan perubahan, serta dilakukan dengan sukarela alias volunteer.

Kekuatan paguyuban di Indonesia sudah terbukti dapat menciptakan dampak yang cukup besar seperti sumpah pemuda, kemerdekaan 1945, dan reformasi 1998. Maka dari itu, Good News From Indonesia mengadakan sesi sharing session bertajuk Good Talk dengan mengundang Taufan Teguh Akbari (Founder Rumah Millennials) dan Panji Azis (Founder Istana Belajar Anak Banten) sebagai pembicara. Bertempatan di Wisma Menpora, Senayan, Jakarta Pusat Kamis 21 November 2019, sesi talkshow dipandu oleh Della Annisawara (Sekjen & Program Director Rumah Millennials).

Menurut Taufan Akbari, komunitas yang bagus itu adalah komunitas yang bisa berkembang tanpa batas. Jika dalam komunitas terlalu banyak aturan, atau senioritas terlalu kuat, sulit berkembang nantinya. Mungkin awalnya bisa saja maju, tapi untuk menjadi seperti Rumah Millennials yang bisa bertahan dengan value dan goals sampai dua tahun ini akan sulit.

Maka dari itu, peran seorang founder atau pemimpin dari komunitas itu penting sekali karena dia lah yang harus menjadi orang terdepan dalam me-manage dan memimpin seluruh anggota. Meskipun tidak ada komunitas yang benar – benar sempurna, namun jika founder dapat mengayomi dan memberikan kesempatan berkembang kepada seluruh anggotanya, komunitas tersebut berpeluang besar untuk maju bahkan naik level menjadi lembaga hukum seperti startup (PT) atau yayasan.

Sejalan dengan Taufan, Panji Azis menambahkan menjalin relasi baik dengan para volunteer sangatlah penting, baik yang lama maupun yang baru. Bagi volunteer lama, merekalah alasan komunitas atau organisasi itu maju dan semakin besar. Maka berikanlah mereka peran yang lebih signifikan, terlepas mampu atau tidak, tapi memberikan sebuah kepercayaan lebih pada mereka menandakan bahwa mereka adalah orang – orang yang sangat penting sekaligus memberikan tantangan baru agar tidak jenuh.

Sedangkan, untuk volunteer baru, sambutlah mereka layaknya keluarga! Jangan membuat jarak seperti terlalu menonjolkan senioritas atau merasa yang lebih tahu dalam banyak hal. Pertemukan volunteer baru dengan volunteer lama, sebagai mentee dan mentor, jadi yang baru bisa belajar dengan yang lama, dan yang lama bisa berbagi pengalaman kepada yang baru. Dengan ini, nilai organisasi tersebut akan tetap utuh dan tujuan awal tetap menjadi landasan utama. Selain itu, cara seperti ini mampu mencairkan suasana sehingga hubungan erat seluruh anggota komunitas akan terjalin dengan baik.

Jadi, apalagi yang membuatmu ragu sobat millennials? Udah, mulai aja dulu! Memang, menjalankan komunitas dengan sukarela tidak mudah karena kita harus meluangkan waktu dan energi lebih untuk menjalankannya. Tetapi, dengan komunitas inilah wawasan dan networking kita akan lebih luas, serta hidupmu akan lebih greget alias gak kupu – kupu (Kuliah-Pulang) atau Kepang (Kerja – Pulang) aja. Emang gak bosen ngejalanin hidup yang gitu – gitu aja? Mumpung masih muda, teruslah menggali potensi dan minatmu sedalam mungkin, sembari melebarkan network dengan bertemu berbagai orang – orang yang datang dari latar belakang yang berbeda – beda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *