Evan Sebastian: Entrepreneur Muda Yang Ngajak Kamu Hidup Sehat Dari Hal Yang Paling Simpel

RumahMillennials.com | Hei kamu para millennial dan gen z! Masa – masa sekolah baik masih SMA ataupun kuliah, kamu habisin buat apa hayo? Nongkrong belakang sekolah, maen game di warnet, ngegosip di kantin, ngerjain guru, cinta monyet ama pacar atau gebetanmu, apakah ini yang kamu alamin pas masih jadi pelajar/mahasiswa?

Kalo iya, selamat kamu melewati masa mudamu dengan normal! Kalo diinget – inget lagi, kamu pasti sadar betapa alay kamu pada saat itu :D.

Tapi, gak semua orang melewati masa – masa muda seperti itu. Ada beberapa orang yang dilahirkan dan dibesarkan dengan situasi sulit dalam hidupnya, sehingga mereka kehilangan masa ‘keemasan’ sebagai anak remaja.

Contohnya Ketua Bidang Gaya Hidup & Lifestyle Rumah Millennials, Evan Sebastian.

Sejak ibunda meninggal waktu Evan SMP, lalu bisnis ayahnya tidak berjalan lancar, Evan harus memutar otak bagaimana ia punya uang saku dan membayar pendidikannya. Setelah lulus SMA, Evan sebenarnya tidak terlalu berminat kuliah, tapi karena pesan ibunya ia harus menjadi sarjana maka Evan memutuskan mengambil kuliah jurusan Marketing Communication di London School of Public Relation (LSPR) Jakarta.

Sejak awal masuk kuliah, Evan sudah bekerja, dari dagang handphone sampai jual jersey bola. Namun, bisnis jersey sepak bola ini rugi besar karena aksi penipuan dari distributor jersey sepak bola yang mengirim barang tidak sesuai. Akibatnya, Evan mengalami Rp 80 juta, sehingga Evan harus menjual beberapa aset untuk menutupi kekurangannya. Tak hanya itu, ia pun bekerja freelance bantu – bantu Event Organizer dan sempat bekerja untuk perusahaan milik dosennya.

Akibat terlalu banyak bekerja dan ikut kegiatan – kegiatan organisasi, kuliah Evan sebenarnya tidak terlalu mulus, nilainya sempat jeblok namun karena ingat pesan ibunya untuk mengambil pendidikan sarjana, maka Evan terus menjalani kuliah sambil kerja.

Dalam salah satu pekerjaan freelancenya di EO, Evan bertemu dengan Taufan Akbari yang saat itu mengadakan hari komunitas nasional. Meskipun sama – sama di LSPR dan bertemu di hari komunitas nasional, namun Evan dan Taufan belum terlalu mengenal baik. Mereka kenal baik saat Evan masuk Gojek dan Taufan mendirikan Rumah Millennials, saat itu ia beberapa kali dipanggil untuk jadi pembicara di kampusnya sendiri LSPR.

Akan tetapi, bekerja untuk perusahaan memang bukan jadi identitas Evan, karena ia merasa bahwa ada value yang lebih dari dirinya. Ia ingin memenuhi hasratnya sebagai entrepreneur, karena menurut Evan, entrepreneur seperti seni. Maksudnya, sebagai entrepreneur kita harus menyelesaikan masalah dengan membuat suatu produk, mendorong orang lain membeli produk tersebut yang nantinya berdampak pada produk selanjutnya. Evan mengatakan sesuatu yang unik yaitu “I love learning, but I hate study”. Bagi Evan, “learning” adalah proses setiap manusia untuk bertumbuh menjadi lebih baik dengan cara belajar dari pengalaman hidup, berdiskusi dengan orang lain, berbagi, dan berani melakukan kesalahan, sedangkan “study” hanya sekedar belajar di dalam kelas.

“Entrepreneur is solving problems and willing to learn”
Evan Sebastian, Founder of Fitco

Berangkat dari kesenangannya olahraga dan hidup sehat, Evan akhirnya memutuskan untuk membuat startup digital yang dapat membantu orang – orang memiliki gaya hidup lebih sehat dan membiasakan diri untuk berolahraga. Startup tersebut bernama “Fitco”, dengan visi meningkatkan kesadaran hidup sehat masyarakat demi meningkatkan kesejahteraan, dan sudah launching sejak Februari 2019.

Dengan Fitco, Evan mengajak para users untuk memulai hidup sehat, sesimpel dengan berjalan kaki. Ini merupakan kegiatan yang pasti setiap hari kita lakukan, maka dengan menghitung langkah kaki dari mobile apps, users tahu seberapa jauh dan sering mereka berjalan kaki di kesehariannya. Target market Fitco adalah orang – orang yang berada di kelas B, yaitu mereka yang menjalani kesehariannya sebagai mahasiswa atau pekerja di kota metropolitan seperti Jakarta. Inilah value yang ingin diberikan Evan melalui Fitco.

Tak lama setelah launching, Fitco akhirnya merger dengan Fit company. Awalnya, Evan sama sekali tidak berpikir akan merger dengan Fit Company, ia hanya diminta untuk presentasi di Fit Company mengenai Fitco. Namun saat ia hendak keluar dari gedung, Evan bertemu dengan CEO Fit Company di lobi, dan ia mengatakan bahwa sudah tahu tentang Fitco lalu ingin meeting dengan Evan dalam waktu dekat. Tak butuh waktu lama, CEO Fit Company menawarkan merger dengan Fitco, Evan lalu berdiskusi dengan timnya dan mereka setuju.

Setelah merger, ke depannya Fitco akan menjadi holistic apps yang secara konsisten memberikan pelayanan soal healthy lifestyle dan workout ke users. Ibaratnya, marketplace yang berisi informasi soal makanan sehat, kegiatan workout bareng komunitas, healthy lifestyle, dan konsultasi langsung dengan admin Fitco soal hidup sehat. Evan berencana akan melakukan pendekatan pada komunitas – komunitas lari, workout, sepeda, dan lain sebagainya, karena bagi Evan, ia lebih suka melakukan organic sales dengan ikut dan sharing dengan komunitas.

Kolaborasi Evan Sebastian dengan Stephanie Cecillia & Mediccation

Perjalanan Evan memang masih panjang, akan ada banyak tantangan yang akan ia hadapi sebagai founder Fitco. Namun, ia berhasil melewati masa – masa tersulitnya sebagai individu saat ia harus hidup tanpa ibunya, finansial yang terbatas, serta kegagalan dalam mendirikan startup pertamanya. Kegagalan dan masa lalu yang tak terlalu baik itu, menjadikan Evan lebih kuat ibarat bola kalau jatuh membal keatas bukan kaca yang jatuh lalu pecah dan tak berbentuk lagi.

Apapun yang terjadi pada masa lalumu ataupun jika orang – orang di lingkungan sekitarmu sering memberi pengaruh negatif terhadap dirimu, kamu tetaplah seorang manusia yang punya hak untuk menentukan kemana arah hidupmu. Kalau kamu pasrah saja dengan apa yang menimpamu, atau nurut – nurut saja apa yang dikatakan oleh orang disekitarmu termasuk keluarga padahal itu bukan jalan hidup yang kamu mau, akan sulit bagimu untuk membangkitkan potensi terbesar dalam dirimu dan menjadi pribadi yang terbaik.

Seperti Evan, ia bisa saja memilih untuk menjadi anak yang bandel, rusak, dan gak karuan karena kondisi keluarga dan finansialnya yang tak terlalu bagus. Tapi, ia memilih untuk bangkit dan berusaha bangkit dari kegagalan, terlebih setelah gagal di startup pertamanya.

Nah kalau kamu, mau milih jalan hidup yang seperti apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *