Defining Outliers Millennials: The Can Do, Will Do, Generation

#Launching Rumah Millennials Sesi 3

Generasi Millennials selalu dikait-kaitkan dengan tema-tema impian dan ekspresi diri. Mereka banyak menceritakan gagasan dan ambisinya yang sedemikian rupa. Namun dari banyak sekali gagasan dan ambisi tersebut yang tidak terwujud. Muncul pertanyaan, mengapa mereka gagal? apa yang salah? Bukankah mereka adalah generasi yang kuat? Memiliki sumber daya, informasi dan bahkan jaringan. Apa bedanya mereka yang gagal dengan generasi Millennials yang berhasil? Pertanyaan-pertanyaan tersebut rupanya terjawab saat sesi III grand Launching Rumah Millennials berlangsung di Auditorium Galeri Smartfren, Sabang Jakarta Pusat pada 22 Juli 2017.

Ternyata generasi Millennials harus menjadi generasi yang bisa melakukan. Tidak peduli apapun rintangannya. Mereka disebut sebagai generasi Millennials yang berani menyimpang atau outliers. Beberapa Millennials nyeleneh tersebut hadir dalam sesi III yang berjudul Defining Outliers Millennials: The Can Do, Will Do, Generation.

Generasi Millennials yang nyeleneh itu salah satunya adalah pendiri House of Perempuan, Citra Natasya. Citra merupakan merupakan perempuan muda yang tidak ragu untuk berkarya. Citra menyebutkan bahwa memang karakter millennials cenderung menunjuk diri sendiri. Ingin menjadi bos diri sendiri dan menginginkan waktu kerja yang fleksibel. “Mereka menginginkan work life integration, bukan work-life balance. Integration artinye integrasi antara dunia kerja dan kehidupan sebab keduanya tidak lagi bisa dipisahkan bagi generasi millennials,” ujar Citra. Sedangkan House of Perempuan sendiri berusaha untk melakukan leadershift dengan menciptakan dunia yang bisa menempatkan anak-anak muda menjadi pengendali dunia. “Ada urgency untuk mengubah status quo,” ungkap Citra.

Citra yang juga merupakan manager dari band pengusung Gamelan for Millennnials, V1mast mengungkapkan bahwa cara mengubah satatus quo sebagai seorang generasi millennials salah satunya adalah dengan harus bisa memilah antara job dan career. Jika job hanyalah sebatas titel kerja, maka career adalah sesuatu yang harus dikejar seumur hidup karena tidak terikat dengan titel namun berdasarkan keahlian dan kemampuan seseorang. Dirinya juga menjelaskan bahwa perempuan di era generasi Millennials seperti ini seharusnya mampu menjadi partner bagi laki-laki sehingga bisa terjalin kerja sama. Sebab untuk bertahan di dunia Millennials seperti saat ini dibutuhkan pola pikir atau mindset yang benar. Apa itu? “Terus belajar dan bergabung komunitas. Sedangkan untuk mengubah pola pikir wanita bahwa mereka bisa berkarya adalah dengan memberikan contoh langsung. Terus mencoba, pelan-pelan, jika satu orang perempuan mau menjadi contoh, maka lainnya akan mengikuti,” pesan Citra.

Sementara itu, pemuda Millennials berikutnya yang berani untuk mengambil jalan “asing” adalah Rahmat Dwi Putranto. Seorang anak muda yang berani untuk mendirikan perusahaan digital rintisan bernama Legal Go, sebuah aplikasi digital untuk menaungi para profesional hukum. Rahmat yang juga menjadi CEO Legal Go, menjelaskan bahwa generasi Millennials yang berani untuk beraksi adalah mereka yang berani muncul diantara kerumunan atau being above the crowd. Muncul diantara kerumunan diperlukan oleh generasi Millennials karena dengan begitu generasi ini bisa memunculkan sinyal. Sinyal merupakan pengibaratan yang menarik sebab, sinyal hanya bisa disuarkan ditempat yang tinggi dan tidak terhalang. Lewat sinyal ini kemudian para generasi Millennials bisa menyampaikan sebuah pesan ke setiap orang yang ada di sekitar kita. “Setelah mampu pesan tersampaikan, kita bisa menjadi pemimpin dengan membawa nilai yang telah kita sampaikan,” kata Rahmat.

Rahmat juga menjelaskan bahwa ketika generasi Millennials berhasil menjadi pemimpin, mereka akan bisa mulai memikirkan sebuah legacy atau warisan. Peninggalan apa yang bisa diberikan untuk generasi berikutnya. Menurutnya, inilah tujuan utama dari impian-impian yang disampaikan oleh generasi Millennials. Namun menurutnya, generasi Millennials saat ini cenderung mengalami rasa cemas. “Generasi Millennials mengalami insecurities tentang apa sejatinya panggilan hidupnya. Padahal tidak semua orang harus memilikinya.” Dirinya menjelaskan bahwa, panggilan jiwa yang spesifik bukanlah milik semua orang. Sebab sebagian besar orang bisa saja menjadi seorang generalis. “Tidak semua orang memiliki jalan lurus, ada kalanya harus berbelok-belok dan bahkan rezekinya berada di persimpangan jalan. Itu mengapa generalis dan spesialis sama-sama dibutuhkan” jelas Rahmat.

Rahmat menjelaskan lebih jauh bahwa untuk mencapai sesuatu, generasi Millennials perlu untuk melakukan sesuatu. “It’s all about doing, it’s all about execution,” tekannya. Menurutnya jika generasi Millenials memiliki suatu ide, perlu dilakukan tindakan selanjutnya yakni dibagikan. Tanpa dibagikan, sebuah ide tidak akan pernah tahu apakah ide tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak. “Sebuah ide perlu dilakukan validasi,” tambah Rahmat. Hidup generasi Millennials tidaklah mudah. Oleh karenanya Rahmat berpesan “tidak ada kehidupan yang mudah, jadi mengapa berharap pada sebuah quote.”

Kemudian, untuk menjadi generasi Millennials yang berani untuk melakukan eksekusi diperlukan sebuah tindakan yang segera. “Tidak perlu menunggu” begitu kata CEO Care Institute dan pendiri Isbanban Foundation, Panji Aziz Pratama. Aziz yang berangkat dari kepedulian untuk pada pendidikan anak-anak di Banten memulai mendirikan Istana Belajar Anak Banten (Isbanban) hanya dengan lima relawan. Pada saat itu, Aziz masih berstatus mahasiswa di Universitas Indonesia dengan tiga program kegiatan, taman belajar, peningkatan literasi dan beasiswa anak lanjut sekolah. Lewat Isbanban ini, dirinya bertekad untuk bisa mengubah wajah Banten yang dahulu lekat dengan pandangan-pandangan negatif. Usahanya itupun akhirnya berhasil, kini setelah Isbanban banyak dikenal. Total relawan yang pernah bergabung dengan Isbanban mencapai ratusan anak muda dan telah membina anak-anak di 7 kabupaten/kota di Banten. Kunci kesuksesan seperti ini bisa diraih lewat satu hal: “konsistensi,” ujar Aziz.

Bila Aziz ingin mengubah kualitas Banten menjadi lebih baik lewat Isbanban, berbeda lagi dengan perempuan yang satu ini. Dirinya belakangan dikenal sebagai perempuan muda yang dengan berani beragu argumen dengan seorang anggota dewan. Dirinya merasa bila memang benar jangan pernah takut. Dia adalah Tsamara Amany, perempuan muda pendiri Perempuan Politik.

Politik kerap kali dikesankan sebagai bidang yang sangat kejam. Namun Tsamara bergeming untuk berusaha mengubah wajah politik. “Jika politik diserahkan pada orang-orang kejam, kebijakan neger ini akan terus dikuasai oleh orang-orang kejam. Lalu kenapa politik tidak bisa dikuasai oleh orang baik?” ujarnya.

Tsamara yang rupanya juga telah mendirikan partai politik tersebut juga menjelaskan bahwa untuk mengubah politik harus terjun lewat partai politik. “Untuk membenahi sistem harus dari dalam sistem. Ribut diluar seperti twitter hanya akan mengakibatkan debat logis namun tidak mengubah sesuatu,” jelas perempuan yang masih aktif sebagai mahasiswi Universitas Paramadina itu.

Diremehkan, adalah sesuatu yang lumrah dialami oleh para generasi Millennials. Tsamara pun tidak ketinggalan, dirinya juga diremehkan sebagai bau kencur saat memutuskan untuk masuk parlemen. Namun dirinya menolak jika diremehkan hanya karena umur. “Seseorang harus dinilai berdasarkan kualitas argumennya, bukan umurnya. Para pendiri bangsa saat memperjuangkan Indonesia juga masih muda saat itu. Mereka juga bisa disebut bau kencur,” ungkap Tsamara.

Tsamara berpesan agar jangan pernah cacian, hinaan dan fitnah membuat pemuda menjadi down (menyerah) dan lemah. “Jangan pernah takut untuk bicara dan bersikap. Jangan biarkan orang kotor menguasai politik,” serunya.

Author :

Bagus Ramadhan (Koordinator Konten Rumah Millennials)

Photo Credit by : @nah.creative

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *