Apa yang “WAJIB” dilakukan Anak Muda (millennial) dalam berorganisasi?

Apa yang “WAJIB” dilakukan Anak Muda (millennial) dalam berorganisasi?

Banyak anak muda tergiur dengan banyaknya rekrutmen relawan yang berharap nanti kalau tergabung, bisa memenuhi pundi-pundi daftar pengalamannya di curriculum vitae (CV).

Memang, pengalaman adalah salah satu alasan utama ikut organisasi. Memiliki pengalaman berorganisasi nantinya bisa menjadi modal masuk ke dalam dunia kerja. Mudah-mudahan juga bisa dipakai untuk “modal” melamar ke calon mertua.

Mengenai mencari pengalaman, banyak anak muda yang kurang bijak dalam berorganisasi, yaitu bergabung dengan banyak organisasi dalam periode yang bersamaan.

Entah apa motivasinya, tapi yang saya lihat, anak muda yang mengikuti beragam organisasi lebih di tiga tempat, ditambah kesibukan sebagai pelajar atau mahasiswa dan sebagai seorang anak dalam sebuah keluarga, hanya segelintir yang bisa menjalani hal tersebut bersamaan dan tetap menunjukkan performa yang baik.

Ada juga anak muda yang berorganisasi di sedikit tempat, namun tidak menunjukkan keseriusan bahkan performa yang baik. Ada saja alasan-alasan yang selalu disampaikan, apalagi jika mereka diajak rapat atau mengerjakan tugas tim.

Jika mereka seorang mahasiswa, alasan yang sering muncul: “lagi siap-siap mau UTS”, atau “ada tugas”. Ada pula yang “ngebantalin” keluarga atau orang tua.

Organisasi anak muda yang ada di dalam atau di luar kampus, mayoritas bersifat volunteering.  Melalui alasan-alasan seperti UTS, UAS, atau acara keluarga, pada akhirnya anggota tim lain dalam organisasi tersebut tidak bisa memaksakan tanggung jawab. Di sini, hanya ada kesadaran diri dalam komitmen berorganisasi.

Padahal, niat mereka bergabung ke dalam sebuah organisasi yaitu ingin cari pengalaman. Tapi, kalau akhirnya dijalani dengan beragam alasan, bagaimana mereka bisa dapat pengalaman?

Terdaftar dalam organisasi dan bisa cantumin di CV saja sih pasti.

***

Dari ilustrasi di atas, berdasarkan pegalaman saya ada beberapa hal yang mesti diluruskan untuk para anak muda yang sedang berorganisasi.

Organisasi sangat perlu, tapi jangan sebatas mempercantik CV

Berorganisasi itu membuat kita terbentuk menjadi manusia yang bisa mengenal diri sendiri, mengembangkan soft skills, praktek langsung teori yang dipelajari di kelas, juga belajar bekerja sama dengan tim.

Apalagi kalau bergabung dalam organisasi yang memiliki anggota banyak. Di sana bisa bertemu dengan beragam orang dan berjejaring. Pastinya leadership skill dan communication skill akan terasah.

Pengalaman di CV seabrek tapi realita dalam eksekusi nihil, sama aja membohongi diri sendiri

Nah, ini sangat perlu jadi pertimbangan anak muda. Pengalaman di CV seabrek, bahkan CV bisa lebih dari 3 halaman. Isinya, ikut organisasi A, organisasi B, C, dan seterusnya.

CV memang perlu di isi dengan pengalaman, tapi yang lebih penting adalah apa yang dilakukan dalam organisasi tersebut bisa dibuktikan dengan fakta atau karya. Sayang kalau hanya banyak-banyakin daftar pengalaman, tapi ketika wawancara kerja diminta bukti atau demonstrasi tidak bisa.

Komitmen yang diberikan ke organisasi harus dibuktikan

Ketika anak muda berkomitmen terjun berorganisasi, prinsip yang harus dipegang adalah selesaikan apa yang sudah dimulai. Jangan setengah-setengah. Manfaatkan kesempatan yang diberikan oleh organisasi untuk mengembangkan diri dan membesarkan organisasi.

Kalau setengah-setengah, yang didapat juga setengah-setengah.

Berorganisasi di masa muda, sama dengan belajar.

Jadilah anak muda yang haus ilmu dengan terjun langsung ke lapangan. Belajar dari kesalahan, namun tidak lupa belajar dari yang berpengalaman. Sehingga, bisa mengurangi jumlah kesalahan.

Manfaatkan label di jidat kalau kita adalah anak muda.  Generasi yang ingin belajar banyak dari yang pengalamannya lebih dari kita. Mereka dulu juga tidak berpengalaman.

Di mana kita berada, di situ kita 100 persen.

Sering kali ada yang mengatakan, kita membagi prioritas kita yang seratus persen untuk beberapa hal, seperti keluarga, teman, pacar, pendidikan dan organisasi.

Dari hasil pembagian tersebut, kira-kira berapa persen untuk organisasi? Mungkin kalau dibuat ranking pasti bisa di bawah 3 besar. Sayangnya, organisasi adalah tempat di mana banyak orang memupuk modal untuk masa depan juga.

Coba kita pikir ulang, apakah dengan membagi prioritas akhirnya bisa memberikan hasil yang baik? Belum tentu. Kadang, kalau kita lebih banyak urus organisasi, bapak ibu kita protes. Tapi kalau lebih banyak pacaran, biasanya ditinggal teman bermain atau kuliah jadi berantakan.

Jadi harus bagaimana? Hal terpenting adalah, totalitas 100 persen dimanapun tempat kita berada.

Tempatkan diri kita 100 persen untuk keluarga, 100 persen untuk pendidikan, 100 persen untuk organisasi, dan 100% persen di mana pun kamu berkegiatan atau beraktivitas.

Jika memang dirasa sejak awal tidak yakin mampu, lebih baik putuskan segera untuk tidak terlibat. Karena akan banyak yang dirugikan termasuk diri kita sendiri.

Kecuali untuk keluarga dan pendidikan ya, yang ini tidak boleh ditinggalkan. 😀

Author :

Gilang Pratama Putra – Chairman Sinergi Muda (Indonesian Youth Conference)

1 Comment

  1. Setelah baca ini saya menjadi “ngeuh” bahwa memang komitmen dengan organisasi tidak boleh setengah-setengah. Mungkin banyak dr kalangan millennials yg mengikuti byk sekali organisasi namun sampai lupa esensi dan manfaat apa yg telah mereka berikan di suatu organisasi tsb. Terima kasih banyak! Artikel ini sungguh bermanfaat 🙂
    – Salam, millennials 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *