Indonesia dan Kompleksitas Layanan Kesehatan Mental

Seperti yang kita semua ketahui, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu kesehatan mental masih tergolong cukup rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyak stigma serta diskriminasi terhadap isu kesehatan mental yang menyebabkan terhambatnya proses perkembangan kesadaran masyarakat akan isu tersebut. Meski begitu, bukan berarti isu ini menjadi hal yang baru terjadi di negara kita. Secara sadar tentu kita telah menjumpai orang-orang di sekitar kita yang mengalami masalah gangguan mental seperti depresi, bunuh diri, gangguan kecemasan, dan lain-lain.

Menurut data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, ada sekitar 450.000 keluarga di Indonesia dengan minimal satu anggota keluarga yang mengalami skizofrenia **(gangguan mental) dan minimal satu anggota keluarga mengalami depresi dalam empat juta keluarga di Indonesia. WHO meramalkan pada 2020 angka bunuh diri di Indonesia secara global menjadi 2,4 per 100.000 jiwa dan diperkirakan jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia sekitar 1.800 kasus per tahun. Tentunya hal ini menjadi sebuah tantangan bagi pemberi layanan kesehatan mental di Indonesia.

Socconians tahu enggak, sih, pelayanan kesehatan mental yang tersedia di Indonesia ada tiga tingkat, lho! Di antaranya adalah primer yang dilakukan di Puskesmas, kemudian sekunder di Rumah Sakit Umum (RSU), dan tersier di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) atau RSU yang memiliki dokter spesialis kedokteran jiwa. Sayangnya, layanan kesehatan mental di Indonesia masih terbatas. Dengan banyaknya angka penderita yang mengalami gangguan jiwa, sebagian besar dari mereka belum mendapat akses pengobatan yang layak karena minimnya layanan kesehatan mental. Kurangnya ahli kesehatan mental, seperti psikiater dan dokter spesialis serta terbatasnya fasilitas pengobatan seperti rumah sakit jiwa terutama di wilayah terpencil menyebabkan penderita gangguan mental tidak bisa melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi lebih lanjut tentang apa yang mereka alami.

Faktanya, berdasarkan data sebaran RSJ di Indonesia, masih terdapat 7 provinsi yang tidak memiliki RSJ, yaitu provinsi pemekaran di Provinsi Kepulauan Riau, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat. Dapat dilihat bahwa pelayanan kesehatan mental masih belum merata untuk semua daerah di Indonesia. Minimnya layanan kesehatan mental dan akses pengobatan langsung ke ahlinya menjadi salah satu penyebab penderita penyakit mental merasa kehilangan arah. Parahnya lagi, di beberapa daerah yang belum cukup teredukasi, penderita tidak memiliki lingkungan yang mendukung sehingga banyak dari mereka berakhir dengan bunuh diri.

Masalah kompleksitas layanan kesehatan mental di Indonesia menjadi salah satu alasan mengapa angka depresi di Indonesia masih sangat tinggi, nih, Socconians. Kabar gembiranya, di samping layanan kesehatan mental yang biasa dilakukan di rumah sakit dan puskesmas, sekarang sudah banyak **aplikasi atau komunitas yang menyediakan konseling psikologi gratis maupun berbayar secara daring, lho! Pastinya hal ini sangat bermanfaat dan memudahkan para pasien yang ingin berkonsultasi tanpa harus mendatangi tempat layanan kesehatan mental yang mungkin belum tersedia di daerahnya.

Nah, jika kamu merasa butuh dukungan kesehatan mental, Social Connect adalah jawaban yang tepat! Kamu juga bisa, lho, bergabung dan menjadi bagian dari Social Connect di Grup Komunitas di Telegram. Di sana kamu akan mendapat dukungan dari teman-teman lainnya. Kamu juga bisa follow Instagram Social Connect di @socialconnect.id untuk melihat informasi seputar webinar kesehatan mental yang bisa kamu hadiri! So, tunggu apalagi? Yuk, bergabung dengan komunitas kesehatan mental Social Connect!

Tentang Social Connect
Social Connect adalah salah satu komunitas kesehatan mental terbesar di Indonesia yang hadir untuk membangun akses terhadap informasi dan pengetahuan kesehatan mental kepada siapa pun! Mimpi kami sangat sederhana, yakni menciptakan Indonesia yang inklusif, di mana orang-orang

Tentang Djiwa
Social Connect meluncurkan Djiwa sebagai salah satu alternatif untuk mengoptimalkan tidur dan mencapai kebahagian dalam hidup. Aplikasi berbasis website ini diluncurkan pada 17 April 2021 dan dibuka untuk umum sejak 20 April 2021 secara gratis. Akses Djiwa sekarang di sini.

Tim Penulis dan Penyusun
Ditulis oleh Ayu Shafa Azzahra sebagai Media Relations Analyst di Social Connect. Penulis berada dibawah supervisi tim Media & PR Special Project dan tulisan ini sudah di review secara bahasa dan kesesuaian dengan konteks informasi oleh Belanida Aldinisalma sebagai Editor Tata Bahasa di Social Connect. Apabila terdapat kesalahan pengejaan nama, tempat, dan lainnya silakan hubungi kami untuk direvisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *