Pertama Kali Dalam Sejarah! Lebih Dari 40 Komunitas Lintas Bidang Dan Agama Turut Serta Mendoakan Indonesia Secara Virtual

Bekasi – RumahMillennials.com | Awal tahun 2021 banyak sekali harapan dari warga seluruh dunia khususnya Indonesia untuk bangkit dan memulai lembaran baru setelah 2020 lalu, banyak orang mengalami periode sulit akibat pandemi covid-19. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain.

Indonesia bukan hanya mengalami cobaan berupa kasus covid-19 yang terus meningkat hingga tembus di angka 1 juta kasus positif hingga saat ini, tetapi rangkaian bencana datang dalam waktu yang berdekatan. Dimulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182, tanah longsor di Sumedang, gempa bumi di Sulawesi, banjir bandang di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir, dan tanah longsor di Manado, hingga erupsi Gunung Merapi, Gunung Semeru, dan Gunung Sinabung. Belum lagi semakin maraknya isu – isu intoleransi yang menyangkut SARA di antara masyarakat dan lain sebagainya.

Melihat kondisi Indonesia saat ini, sebagai komunitas yang tergabung dalam Indonesia Community Network, Rumah Millennials menginisiasi kegiatan “Doa Bersama Awal Tahun 2021 Lintas Agama dan Komunitas Untuk Indonesia”, dengan mengundang lebih dari 40 komunitas seperti Sabang Merauke, Komunitas Historia Indonesia (KHI), Bike To Work, Blood For Life, dan masih banyak lagi. Menguusung konsep dasar #KolaborasiKomunitasUntukBangsa, Indonesia Community Network berharap acara ini selain untuk mendoakan negeri agar segera pulih, tapi juga dapat sebagai ajang untuk bersilaturahmi dan bertoleransi antar komunitas dan agama sesuai semboyan bangsa Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.

Tidak hanya generasi millennial saja yang ikut dalam acara Doa Bersama ini, namun generasi z dan generasi – generasi senior seperti gen x dan baby boomers juga hadir dalam kegiatan yang dihelat secara online lewat Zoom, Jum’at 29 Januari 2021.

Acara dibuka dengan berdoa yang dilakukan oleh 6 agama berbeda seperti Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan Kong Huchu, dipimpin oleh perwakilan dari Sabang Merauke. Kemudian dilanjutkan pembacaan puisi untuk negeri oleh founder Blood For Life, Valencia Mieke Randa.

Setelah itu, komunitas – komunitas yang hadir diberikan ruang untuk saling berdiskusi tentang bagaimana kegiatan komunitasnya sejauh ini dan harapan untuk Indonesia. Perwakilan dari Youth Rangers mengutarakan bagaiaman saat ini mereka tengah melakukan program – program yang lebih inovatif untuk menyesuaikan dengan minat anak – anak muda khususnya remaja untuk membantu mereka menemukan apa yang menjadi passion mereka.

Adapun Poetoet Soedarjanto dari komunitas Bike To Work mengingatkan bahwa dalam menginisiasi gerakan sosial, kita harus tahu latar belakang dan alasan mengapa kita memulai gerakan tersebut, sehingga itu yang nanti menjadi visi-misi dari komunitas. Ditambah lagi, Shafiq Pontoh mengatakan bahwa setiap individu punya keotentikan dan keunikan masing – masing. Di era digital seperti ini, semua ada jejaring dan marketnya, hanya perlu lihat sudut pandang yang lebih luas untuk menemukan jejaring dan market tersebut. Shafiq menambahkan, membangun komunitas akan lebih baik dari sesuatu yang memang kita sendiri passionate dengan hal itu.

Di akhir acara, ada pembacaan deklarasi #kolaborasikomunitasuntukbangsa yang dipimpin oleh perwakilan dari Pramuka. Setelah itu, doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan – perwakilan komunitas seperti Komunitas Historia Indonesia, Speak Up Now, Kita Progresif, dan lain – lain. Sebelum acara ditutup, Rumah Millennials mengajak komunitas untuk ikut berdonasi membantu saudara – saudara yang sedang ditimpa musibah.

Yang menarik dari acara ini bukan hanya silaturahmi yang terjalin secara virtual antar komunitas, namun usaha dan kerja keras agar kegiatan Doa Bersama ini tetap terlaksana. Segala persiapan sudah kami lakukan sebelum acara, namun tantangan terbesar dari menggelar kegiatan virtual adalah sinyal. Sinyal internet yang entah kenapa sangat buruk membuat kami keteteran di awal – awal acara karena semua orang suaranya terputus – putus. Jadi bukan sinyal jelek dari satu orang, tapi semuanya pun mengalami hal yang sama.

Dari Zoom, akhirnya pindah ke Google Meet, tetapi karena Google Meet kuota yang bisa masuk room terbatas, maka sebagian ada yang tetap di Zoom, sebagian masuk Google Meet. Bahkan dari komunitas – komunitas yang hadir turut ikut membantu panitia agar acara ini tetap terlaksana.

Semangat seperti inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini. Bagaimana kita semua bergotong royong dalam melakukan kebaikan, tidak peduli dari mana asal dan latar belakang agama, suku, dan budaya. Jika semangat kolaborasi seperti ini secara konsisten dilakukan dalam kehidupan sehari – hari, maka Indonesia akan cepat pulih dari berbagai sisi. Semoga silaturahmi dan kolaborasi antar komunitas lintas bidang dan agama ini bisa terus berlanjut untuk menciptakan dampak positif yang lebih terasa manfaatnya ke masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *