Mendengar, Merasa, Dan Berkomunikasi Dengan Tubuh Sendiri Lewat Penampilan Seni Musik

Mendengar, Merasa, Dan Berkomunikasi Dengan Tubuh Sendiri Lewat Penampilan Seni Musik

JAKARTA – RumahMillennials.com | Rumah millennials bersama Laring Project berklaborasi menghadirkan pertunjukan musik kontemporer bertajuk Tubuka: Tubuh, Bunyi, dan Kata. Bertempatan di Bentara Budaya Jakarta, pada 25 dan 26 Oktober 2018, Laring Project memperkenalkan seni musik dengan gaya baru; menggunakan tubuh sendiri sebagai media musik.

Dalam pertunjukan malam itu, kelima performers menyuguhkan penampilan musik dengan melakukan pendekatan yang berbeda. Mereka mengandalkan tepukan badan, suara, dan seni pencahayaan yang dipandu oleh Lighting Artists, Firsty Soe. Sekitar lebih dari 30 penonton yang hadir dalam acara itu menikmati pertunjukan dengan hikmat, hingga diakhir acara, mereka memberikan penghargaan dengan tepuk tangan meriah. Acara dilanjutkan dengan sesi talkshow yang dipandu oleh Arina Habaidillah, manger Laring Project.

Di sesi ini, Gema Swaratyagita, composer Laring Project, yang juga salah satu performer dalam acara malam itu, berbagi cerita tentang arti dari penampilan Tubuka, dan bagaimana dia berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menampilkan pertunjukan pada malam itu.

Gema menjelaskan maksud dari Tubuka yang merupakan pertunjukan music untuk vocal dan tubuh yang menggunakan TUbuh, BUnyi, dan Kata sebagai konsep, metode, dan bahan dasar karya. Intinya, Tubuka itu mengeksplorasi tubuh sebagai media seni musik.

Bagi Gema, Tubuka merefleksikan tubuhnya pada diri sendiri, sejauh mana kita mau mendengar tubuh sendiri. Karena, di dalam kehidupan masyarakat, terutama di era digital seperti saat ini, kita selalu melihat tubuh – tubuh lain, sibuk memikirkan apa kata orang, atau iri melihat apa yang orang lain pakai di tubuh mereka.

Padahal belum tentu semua itu cocok dengan tubuh kita, maka Gema ingin mengajak masyarakat untuk lebih mendengar suara tubuh sendiri, dan merefleksikan diri melalui pertunjukan seni music yang menggunakan tubuh sendiri sebagai media musiknya.

Pada karya ini, selain lima pemain dan 1 musisi elektronik, komponis juga berkolaborasi dengan seniman cahaya yaitu Firsty Soe dan Visual Artist, Fiametta Gabriela. Kolaborasi ini, menurut Gema, adalah bagaimana kita bekerja dan menyatu bersama dengan tubuh – tubuh lain, karena itu adalah poin penting dalam berkarya.

Gema Swaratyagita menunjukan bahwa menjadi dalam menciptakan karya, menjadi otentik dan unik, yang berarti berbeda dari yang lain, adalah poin yang sangat penting. Disaat pertunjukan seni music lainnya menggunakan instrument, baik tradisional maupun modern, Gema memberikan perspektif baru dengan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai media musiknya.

Dengan kreatifitas dan kerja kerasnya, dia sudah tampil di berbagai acara – acara nasional seperti Yogyakarta Contemorary Music Festival, Festival Musik Tembi, hingga internasional sebut saja Indonesia Lab (Frankfurt, Jerman) dan Holland Festival (Amsterdam, Belanda).

Gema juga perempuan yang pernah meraih EWA kelola 2012 – 2013 dan Hibah Seni Karya Inovatif 2018. Dia juga pernah berkolaborasi dengan berbagai musisi dan seniman dari mancanegara dan lokal dalam pertunjukan theatre, visual art dan performance art.

Inilah salah satu contoh generasi millennial yang berdaya melalui inovasi dan kreatifitas dalam bidang seni panggung, berkarya melalui pertunjukan seni musik Tubuka, dan Bermakna bagi Indonesia dengan dereta prestasinya di kancah nasional dan Internasional.(audi)

Journalist and Publication Coordinator at Rumah Millennials
The man who love to share about interesting and unique story of Indonesia as well as youth development through youth organization community. Currently, Audi started his career as public speaker in radio and being freelance MC and Moderator for several events

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *