4 Srikandi Dari Beda Generasi Ini Membuktikan Wanita Adalah Bagian Penting Dalam Pembangunan Nasional

Bekasi – RumahMillennials.com | Rumah Millennials berkolaborasi dengan Institute Kepentingan Nasional Republik Indonesia (KENARI) dan Gerakan Revolusi Pemuda (GARUDA) mengadakan webinar spesial bertajuk “Srikandi Bicara”, Selasa 25 Agustus 2020. Bertemakan “Kiprah Perempuan Indonesia Mengisi Kemerdekaan & Berwawasan Kebangsaan Di Era Revolusi 4.0”, webinar ini mengundang empat wanita inspiratif yang telah memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara.

Keempat pembicara yang dihadirkan yakni:

1. Meutia Farida Hatta – Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan periode 2004 – 2009 & Dewan Pertimbangan Presiden (2010 – 2014)

2. Poppy Susanti Dharsono – Sr. Fashion Designer / Entrepreneur, Pendiri & Ketua Umum APPMI, Presiden IFW

3. Connie Rahakundini – Analis Pertahanan dan Militer

4. Dyah Roro Esti – Anggota Komisi VII DPR RI

5. Beti Nurbaiti – Pemerhati Ekonomi & Gender (Moderator)

Sebelum pembicara memaparkan materi, Tri Hanurita selaku Founder Srikandi Institute Kepentingan Nasional Republik Indonesia memberikan sambutan. Tri mengatakan bahwa gelaran webinar ini diperuntukan untuk semua kalangan, dengan lintas profesi, suku, budaya, dan agama yang peduli pada pembangunan Republik Indonesia.

Mengenai pembangunan RI, Connie Rahakudini mengatakan perempuan Indonesia merupakan bagian penting dari pembangunan Indonesia dan punya hak untuk memberdayakan dirinya sendiri. Dia mencontohkan salah satu tokoh sejarah yang merupakan Ratu kesultanan Jepara yaitu Ratu Kalinyamat.

Meskipun hanya 30 tahun berkuasa, lebih sedikit dibanding pendahulunya, namun Ratu Kalinyamat berjasa sangat besar dalam membuka sekaligus mempertahankan akses atau jalur perdagangan bagi daerah – daerah di dalam dan di luar wilayah Nusantara dan kawasan. Selain itu, cucu dari Raden Patah itu juga berhasil membangun kepercayaan diri bangsa menjadi negara maritim yang disegani oleh pemimpin kawasan dan dunia.

Sama dengan Connie yang mengambil contoh tokoh wanita, Poppy juga terinspirasi dari perjuangan RA Kartini yang telah membuka ruang dan kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk menunjukan karyanya kepada dunia. Sebagai fashion designer, Poppy selalu menunjukan hasil – hasil karya pelaku industri kreatif asli Indonesia khususunya Jepara yang berupa tenun, batik, dan ukir – ukiran saat menghadiri acara – acara di luar negeri. Hal itu mengundang decak kagum masyarakat international karena mereka tidak memiliki itu, sehingga Poppy menyarankan untuk setiap designer harus menggali akar budayanya sendiri, agar lebih terlihat.

Di ranah pemerintahan, dua wanita dari generasi yang berbeda yaitu Meutia Farida Hatta dan Dyah Roro Esti masing – masing telah mendedikasikan diri mereka dalam kebijakan pemerintah di sektor yang mereka kuasai. Saat menjadi menteri di era pemerintahan SBY periode 2004 – 2009, Meutia diberi kepercayaan untuk menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, dan menjalankan UU tentang “Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), sebagai aspirasi nasional.

Selain itu, Meutia juga menjadi bagian dari pengesahan UU Pornografi 2009, mengingat dalam kedua UU tersebut, korban paling banyak dari kekerasan dan kekerasan seksual menimpa kaum perempuan dan anak – anak, baik laki – laki maupun perempuan. Salah satu gebrakan Meutia saat mengusulkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan diubah menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, agar anak – anak bangsa bisa tumbuh dengan baik secara fisik dan mental. Harapannya generasi masa depan bangsa itu akan menjadi pelaku pembangunan dan pemimpin bangsa masa depan yang handal dan cakap untuk mencapai kemajuan bangsa dan negara.

Di sisi lain, sebagai anggota legislator yang tergolong muda, Dyah Roro Esti fokus pada kelangsungan energi dan lingkungan hidup di Indonesia. Roro merasa dirinya terpanggil untuk selalu berbagi pada masyarakat dan kepuasaan bahwa ternyata sebagai perempuan dari generasi millennial dia bisa memberi manfaat lebih untuk banyak orang. Menurut politisi berusia 27 tahun itu, sebagai perempuan memasuki dunia politik dan parlemen merupakan tantangan tersendiri karena masih didominasi oleh pria. Namun Roro mengatakan sebagai perempuan harus berani terjun ke dunia yang terlihat menakutkan.

Sebagai wakil rakyat di DPR, Roro memiliki tiga visi. Pertama menciptakan masa depan yang berkelanjutan dari segi ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesehatan. Kedua, meningkatkan transparasi dan citra institusi DPR RI. Ketiga, mewakili negara Indonesia di forum internasional. Kedepannya, Roro berharap negara Indonesia dapat merealisasikan sustainable economic development.

Itulah empat wanita hebat dari generasi yang berbeda – beda, namun tetap memiliki dedikasi yang sama yaitu mengabdi pada bangsa dan negara lewat bidangnya masing – masing. Gender bukanlah masalah dalam berkarya, yang menjadi persoalan adalah seberapa besar kemauan dari dalam diri untuk terus konsisten berkarya agar menjadi anak bangsa yang memberikan makna lebih bagi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *