Generasi Wirausaha Sosial untuk Percepatan yang Akseleratif

Generasi Wirausaha Sosial untuk Percepatan yang Akseleratif

RumahMillennials.com | Pertanyaan yang kemudian harus kita jawab bersama, bagaimana kita mampu menjadikan momentum percepatan ini sebagai upaya menciptakan lompatan besar? Kita butuh lebih dari pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Kita harus mampu menciptakan konvergensi gerakan yang menjadi titik akupuntur dalam menyembuhkan berbagai masalah kita. Apa itu? Saya yakin wirausaha sosial muda jawabannya.

Saya ajak anda berselancar bagaimana wirausaha sosial membangun berbagai Bangsa di Eropa dan apa yang menggerakkan pemuda-pemuda disana membangun berbagai wirausaha sosial yang berdampak besar bagi negaranya.

Pada sebuah penelitian di Eropa, ketika ditanya “Apa alasan yang memotivasi mreka menjadi wirausahawan sosial muda?” jawabannya adalah

  • 21% ingin melakukan sesuatu yang lebih baik,
  • 18% menjadi bos untuk diri sendiri,
  • 17% memenuhi kebutuhan,
  • 17% ingin mengubah dunia,
  • 12% mengambil peluang,
  • 6% menghindari karir perusahaan,
  • 3% tidak dapat melakukan hal lain yang lebih baik,
  • 2% menjadi kaya,
  • 4% alasan lainnya.

Jawaban yang diberikan tersebut cukup menarik, karena hampir seperlima menyatakan peluang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dengan memperbaiki layanan dan produk yang sudah ada. Yang cukup menarik, hanya 2% dari responden yang memiliki motivasi ingin menjadi kaya, hal ini menunjukkan orientasi finansial tidak menjadi alasan yang signifikan untuk menjadi wirausaha sosial muda.

Penelitian diatas harus menjadi rujukan kita dan penyadaran kita dalam membangun kesadaran pemuda Indonesia untuk mamu dan mampu basah kuyup berjuang menjadi wirausaha sosial muda Indonesia. Kita harus menularkan semangat dan mentalitas untuk menjadi wirausaha sosial yang berjiwa altruistik.

Dalam perspektif lain, penelitian tersebut menganalisis “apa isu atau halangan utama yang anda hadapi atau telah dihadapi sebagai wirausaha sosial muda?”

Jawaban mereka antara lain adalah

  • keterbatasan sumber finansial 23%,
  • kerangka kerja regulasi dan legal 12%,
  • keterbatasan pengalaman bisnis 9%,
  • keterbatasan tim 8%,
  • keterbatasan laynanan pengembangan dan pendukuk bisnis 7%,
  • menyeimbangkan profit atau tujuan sosial 7%,
  • kesulitan mengakses pasar 7%,
  • kesulitan mengkomunikasikan nila 6%,
  • keterbatasan kepercayaan diri 5%,
  • usia 5%,
  • kesulitan meningkatkan 4%,
  • keterbatsan pelatihan dan penelitian 3%,
  • keterpatasan kemampuan kepemimpinan 2%,
  • kompetisi 2%.

Praktisi yang diwawancara menunjukkan bahwa kekurangan pembiayaan atau sumber pembiayaan mewakili penyebab utama pemuda dan menjadi halangan utama untuk membuat wirausaha sosial baru atau memastikan pertumbuhannya.

Oleh karena itu yang harus dilakukan pemerintah dalam mendukung perkembangan kewirausahaan sosial muda adalah menciptakan instrumen-instrumen pembiayaan yang memungkinkan untuk diakses para wirausahawan muda. Hal yang tidak kalah penting adalah membeikan pendampingan pengembangan non finansial yang berkelanjutan.

Selama ini kita sudah menyadari bahwa jumlah wirausaha di kalangan pemuda Indonesia masih kurang yang hal tersebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi bangsa. Terlebih lagi wirausaha sosial muda yang mana menjadi pondasi penting dalam mewujdukan keadilan sosial di masyarakat.

Oleh karena itu, saya melihat menjadi penting dan mendesak untuk berbagai sektor mampu mengenal, memahami, dan memperhatikan wirausaha sosial lalu bersama-sama membentuk arus yang mampu melahirkan jutaan wirausaha sosial baru di Indonesia.

Gerakan wirasusaha sosial ini saya yakini bisa menjadi strategi yang solutif untuk peningkatan produktivitas pemuda dan percepatan pertumbuhan bangsa yang juga pada saat yang sama dapat menyelesaikan isu ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi di Indonesia.

Saya yakin, menuju tahun 2020 kita akan sampai sebuah momentum besar yang mungkin tidak terulang dalam 10 dekade ke depan, dimana pemuda melakukan gerakan kewirausahaan sosial secara massive, nyata, cepat yang berdampak besar.

Kita harus jujur bahwa saat ini memang benar Bangsa kita sedang mengalami ketertinggalan, namun adanya bonus demografi, pertumbuhan teknologi informasi, dan menguatnya kesadaran pemuda untuk mengambil tanggung jawab sosial akan mampu mendorong kita melakukan sesuatu yang Pak Harto sebut sebagai “percepatan yang akseleratif”. Suatu saat Bangsa ini akan menyadari bahwa kita adalah generasi yang dinanti-nanti.

*Bagian terakhir dari tulisan “Generasi Millennials (Y) & Post Millennials (Z) : GENERASI YANG DINANTI-NANTI ?” oleh salah satu “Penjaga Rumah Millennials” dr. Gamal Albinsaid (CEO Indonesia Medika)

Bagian 1: Wajah Baru Gerakan Pemuda Indonesia
Bagian 2:
 Momentum Akseleratif Pemuda Indonesia

CEO Indonesia Medika, Motivator Internasional, 50 most impactful social innovator.
Seorang dokter, wirausaha sosial, inovator kesehatan, inspirator pemuda Indonesia, dan penulis buku “Muda Mendunia”..

Mengembangkan berbagai inovasi kesehatan sosial, diantaranya Klinik Asuransi Sampah, Livestock Waste Insurance, Homedika, Sabuk Bayi Pintar, Mother Happiness Center, Care4Mother, Siapapeduli.id, dan lain sebagainya.

Inovasinya telah membantu ribuan pasien kurang mampu mendapatkan layanan kesehatan. dr. Gamal Albinsaid menjadi pemuda pertama di dunia dan satu-satunya di Asia yang meraih penghargaan Kehormatan, HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur Award dari Kerajaan Inggris.

Meraih lebih dari 40 perhargaan dan 9 penghargaan internasional dari Jerman, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Amerika, Thailand, Kamboja, Jerman, dan Peru.

www.GamalAlbinsaid.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *