Semangat kolaborasi Indonesia

Semangat kolaborasi Indonesia

RumahMillennials.com | Leluhur bangsa Indonesia terkenal dengan semangat gotong-royong dan budaya saling membantu satu sama lain. Tetapi kenapa generasi millennials susah untuk diajak berkolaborasi?

Tanpa disadari dari kecil kita dididik untuk menang diatas kekalahan orang lain. Sistem peringkat di pendidikan sejak sekolah dasar hingga menengah atas, secara tidak langsung membentuk pribadi kita untuk menang sendiri dan di sisi lain mengalahkan orang lain. Kita dibentuk untuk selalu berkompetisi dimanapun kita berada. Padahal tahun 2020 di Indonesia akan tejadi Bonus demorafi yaitu usia angkatan kerja ( 15-64 tahun ) mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun kebawah dan usia di atas 65 tahun) yang akan terjadi pada tahun 2020-2030, kata Plh Deputi Bidang Penelitian BKKBN Ida Bagus Pernama. Hal ini berarti, jika tidak ada kolaborasi diantara anak muda, masalah seperti pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas akan melonjak tinggi.

Sudah seharusnya kita termotivasi oleh negara Amerika yang memiliki Sillicon Valley. Sillicon Valley merupakan rumah bagi perusahaan-perusahaan ternama di dunia seperti Google, Facebook, Youtube Uber, Twitter dan masih banyak perusahaan lainnya. Google yang merupakan search engines pertama dan terbaik di dunia adalah merupakan hasil kolaborasi dari Larry Page, Sergey Brin dan Eric Schmidt.
Dengan menganut budaya remote, quality over quantity, result driven dan collaboration, Sillicon Valley berhasil menjadi kiblat dari para startup yang ada di dunia. Dapat dilihat Sillicon Valley tidak berdiri sendiri, mereka berkolaborasi untuk bisa mencapai predikat tersebut. Dan yang tidak kalah menakjubkannya adalah perusahaan-perusahaan startup di Amerika kebanyakan dibangun oleh generasi millennials!

Semangat kolaborasi sangat dibutuhkan oleh generasi millennials. Dalam kehidupan sehari-hari kita, jika tidak ada kolaborasi mungkin hidup akan lebih sulit. Seperti contoh kecilnya, seorang ayah harus berkolaborasi dengan ibu atau mungkin dengan keluarga dan lingkungan sekolah agar anaknya dapat menjadi orang yang berpendidikan.
Tetapi, sayangnya masih banyak diantara generasi millennials yang takut atau tidak mau untuk berkolaborasi dengan alasan tidak butuh orang lain, karena ingin saat usaha ini berada “diatas” yang tersebut hanya nama orang bersangkutan, dan juga karena takut idenya malah dicuri oleh orang lain. Padahal belum tentu semua hal itu terjadi, malah jika berkolaborasi tingkat kesuksesan akan meningkat karena kita jadi lebih terbuka.

Berikut ini adalah alasan mengapa anda harus berkolaborasi :

1. Kolaborasi dapat menghasilkan akuntabilitas
Saat anda bekerja sama untuk melakukan suatu hal dengan orang lain, orang tersebut akan sering menanyakan hal itu kepada anda. Mereka ingin melihat apa yang mereka kerjakan sukses dan anda akan merasa bertanggung jawab untuk membuat hal tersebut kenyataan.

2. Kolaborasi membantu kita untuk menentukan apa yang non-negotiables
Terkadang kita terlalu terikat pada hal yang telah kita lakukan di masalalu, sehingga kita susah untuk melihat dari sisi lain. Akan sangat membantu jika kita mengundang orang lain untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang kita kerjakan, kita dapat melihat dari sisi yang berbeda.

3. Kolaborasi memperlihatkan bagaimana anda menghargai orang lain.
Entah anda berbicara dengan pekerjaan orang lain maupun sebaliknya, hal itu membuat kesempatan yang bagus untuk menghargai orang lain, kreatifitas mereka, dan juga opini. Saat anda menawarkan bakat yang unik, keterampilan dan suara untuk berkolaborasi dengan orang lain, kamu akan menghargai mereka dan mereka akan bekerja dengan lebih baik

4. Kolaborasi meningkatkan partisipasi orang lain dalam cerita anda
Hal ini sangat penting dalam dunia tanpa profit. Saat orang berfikir bahwa mereka tidak dibutuhkan, mereka tidak akan ikut campur tangan. Anda membuat orang lain bahagia saat anda membuat mereka bagian sebuah proses dan berkontribusi dalam pencarian solusi

Bagaimana generasi millennials, apakah sudah siap untuk berkolaborasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *