Pemerintah Mengajak Generasi Muda Untuk Mengoptimalisasi Edukasi dan Bisnis Digital Selama Pandemi

Bekasi – RumahMillennials.com | Selama pandemi covid-19 yang telah mewabah di Indonesia sejak Maret lalu, banyak sekali sektor – sektor yang terdampak terutama edukasi dan bisnis. Tercatat dari data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) per Agustus 2020, tingkat pengangguran Indonesia mencapai 9,77 juta orang dan 29,12 juta angkatan kerja terdampak seperti dirumahkan dan PHK.

Di sektor edukasi, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat sekolah yang belum bisa dibuka, berdampak pada kegiatan belajar mengajar bagi pelajar (SD – SMA) sampai tingkat perguruan tinggi. Metode belajar online yang sebelumnya belum pernah dilakukan, tiba – tiba semuanya harus beralih menggunakan platform digital, sehingga baik guru maupun murid sama – sama memiliki tantangannya masing – masing.

Untuk itu, pemerintah terus berupaya mencari solusi demi menghidupkan ekosistem bisnis dan menjalankan kegiatan belajar mengajar di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini.

Kali ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerja sama dengan Komisi I DPR RI dan Rumah Millennials dalam menggelar webinar #MerajutNusantara dengan tema “Optimalisasi Edukasi dan Bisnis Secara Digital oleh Generasi Muda”, Sabtu 28 November 2020. Webinar ini bertujuan mendorong generasi millennial dan z agar dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara aman serta optimal dalam kegiatan edukasi dan bisnis.

Diskusi virtual kali ini diisi oleh tiga narasumber yakni Christina Aryani selaku Anggota Komisi I DPR RI, Yuliandre Darwis sebagai Komisioner KPI Pusat, dan Dian Martin, Ketua Asosiasi Digital Marketing Indonesia & Rumah Millennials Advisor. Lewat Zoom, ketiga pembicara masing – masing memaparkan materi, baru menjawab pertanyaan – pertanyaan dari peserta yang berjumlah mencapai 180 orang.

Menurut data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), hingga November 2020, pengguna internet di Indonesia meningkat 8,9%, atau setara dengan 197 juta orang dari 74% populasi di Indonesia. Ini membuktikan internet menjadi kebutuhan primer bagi banyak orang seiringan dengan kebijakan Work From Home (WFH) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Selain itu, banyak bisnis – bisnis baik itu dari UMKM, UKM, startup, maupun bisnis yang sudah mapan beralih ke platform digital untuk memasarkan dan meningkatkan penjualan produk dan jasa mereka.

Melihat fenomena yang terjadi selama pandemi covid-19, Christina Aryani mengatakan pemerintah telah memberikan dukungan bagi ekosistem bisnis dan pendidikan. Di sektor bisnis, pemerintah mengembangkan program UMKM Go Digital, yang digelar oleh BAKTI Kominfo dan idEA. Ada juga program peningkatan startup, dengan Digital Talent Scholarship, Gerakan Literasi Digital, dan 1000 Startup Digital.

Selain itu, bagi para karyawan yang terkena PHK, pengagguran, atau pelaku UMKM yang usahanya terdampak akibat pandemi, pemerintah memberikan pelatihan secara online lewat program Kartu Prakerja. Yang terbaru, UU Cipta Kerja kian memudahkan perizinan usaha secara daring bagi UMK (pasal 91) dengan pembebasan biaya sertifikasi jaminan produk halal (pasal 48 angka 20), dan kemudahan administrasi perpajakan (pasal 92).

Lebih lanjut, menurut Christina, pemerintah melihat internet menunjang kegiatan PJJ selama pandemi dan meningkatkan kreativitas generasi muda. Terjadi peningkatan jumlah content creator baik di YouTube, Podcast, dan TikTok hingga tiga kali lipat yang mayoritas berasal dari gen z sebesar 51,56%, dan millennials 45,93%. Untuk pendidikan formal, pemerintah lewat Kemendikbud telah memberikan pulsa bagi siswa/i di seluruh Indonesia untuk mendapatkan akses PJJ, serta bekerja sama dengan media seperti TV dan radio untuk membantu proses belajar.

Dengan kondisi tersebut, Yuliandre Darwis optimis ekonomi digital akan memberikan dampak positif bagi pembangunan Indonesia. Terlebih lagi, usaha level UMKM saja sudah familiar dengan memasarkan produk dan jasanya secara online. Yuliandre juga menginisiasi #GerakaneBeliDariKawan (GEBRAK), dengan tujuan menanamkan karakter gotong royong khas Indonesia dengan saling membeli produk dari bisnis teman, keluarga, atau tetangga untuk kebutuhan. Dengan begitu, masyarakat bisa saling menguatkan ekonomi satu sama lain.

Sedangkan Dian Martin melihat cara memberikan edukasi dan materi belajar saat ini tidak harus dengan cara yang konvensional seperti menggunakan papan tulis dan spidol. Bisa dengan membuat konten – konten kreatif seperti di TikTok yang semakin populer di kala pandemi. Banyak konten – konten edukasi yang dikemas dengan cara kreatif dan menarik di TikTok, hal inilah yang sekarang relevan bagi generasi muda Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *