Belajar Nilai Hidup dari Penata Musik Film Terbaik Wanita Indonesia

Bandung – RumahMillennials.com | Musik latar (scoring) menjadi salah satu elemen penting dalam film. Kualitas pengalaman penonton pada cerita didukung oleh aspek ini. Salah satu penata musik Indonesia yang sudah memiliki segudang pengalaman adalah Tya Subiakto. Dalam sesi M-Talks online Sabtu 30 Mei 2020, Tya membagikan perjalanan karirnya. Bisa dibilang, ia mulai belajar musik di usia sangat dini yakni di umur 3 tahun. Ia pun menekuni dunia tersebut secara serius dengan mengikuti studi piano klasik di Yayasan Musik Indonesia.

Prestasi yang ia torehkan dalam bidang ini pun sudah banyak. Pada tahun 1998, Tya berhasil menjadi conductor wanita termuda yang berhijab. Ia pun akhirnya memiliki studio sendiri pada tahun 2005 dan setelah 3 bulan tidak memiliki pekerjaan, ia ditawari untuk mengisi theme song sebuah iklan. Pada tahun 2007, film Sang Dewi menjadi film perdananya sebagai penata musik. Karir berlanjut pada tahun 2008 ia menggarap musik untuk film keduanya yaitu Ayat-ayat Cinta karya sutradara Hanung Bramantyo yang pada saat itu sukses besar dengan 3,6 juta penonton.

Ia pun membentuk orchestra T&T yang mengisi scoring untuk film Merry Riana, Habibie & Ainun 3, dll. Film Habibie & Ainun 3 berhasil menghantar Tya sebagai Best Music Director dalam Asia Pasific Film Festival (APFF) 2017. Produktivitasnya dalam menghasilkan karya-karya dalam dunia film sangat mengagumkan bahkan Tya dapat mengerjakan scoring untuk 13 film dalam setahun.  

Bagi Tya, seorang music director selain tahu musik juga harus tahu keadaan masyarakat karena musik itu produk sosial. Penting untuk mempelajari ilmu sosial, budaya, dan ekonomi untuk bisa menguasai feel yang akan diberikan dari sebuah film.

Karir musik Tya juga tak lepas dari tokoh-tokoh yang mempengaruhi yaitu Chand Parwez Servia dan Manoj Punjabi sebagai produser. “I like the way they think as producer”, kata Tya. Hanung Bramantyo juga memiliki pengaruh besar dalam karir film nya. Berawal dari proyek Ayat-ayat Cinta hingga terus kerja sama di film Soekarno: Indonesia Merdeka; Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta; dan lain-lain.

Dengan semua kesuksesan itu, new chapter baginya adalah setelah bertemu Agyl Syahriar seorang aktor dan sutradara Indonesia yang kemudian resmi menjadi suaminya pada tahun 2019. Bersama Agyl, Tya dapat berdiskusi banyak mengenai film. Pada titik ini, ia menemukan esensi film adalah cerita bukannya musik, sinematografi, aktris yang keren, dsb. Ia mulai berpikir bahwa musik memberikan edit value pada sebuah film yang membantu untuk memberi feature film (audio visual).

Pada bulan Januari 2020, ia mulai memaknai cerita adalah pesan yang ingin disampaikan ke orang maka ia mulai menulis dengan handphone-nya hingga tercipta novel perdananya berjudul “Panggil Aku Mama” yang menurut Tya mengandung 60% fiksi dan 40% fakta. Editor novel yang awalnya berbentuk skenario ini, Oksand, mengatakan sudah memiliki bayangan akan adegan-adegan pada novel tersebut. Ilustrator novel ini yaitu Roosdy Fisher membuat ilustrasi cover tangan ibu yang menggenggam tangan anaknya juga berdasarkan permintaan Tya.

Sebagai seorang penata musik, menerbitkan novel adalah kesempatan baru baginya. Ia harap dapat memberi motivasi kepada sobat Millennials untuk terus memanfaatkan kesempatan yang ada. “Kesempatan yang datang hari ini tidak selalu akan datang di esok hari”, begitu kata Tya. Itu dibuktikannya saat proses menulis, ketika ide itu datang maka ia akan segera menulisnya dan terus menikmati prosesnya hingga cerita itu telah selesai dikerjakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *