Fear of Missing Out, Penyakit Gen Y ?

Fear of Missing Out, Penyakit Gen Y ?

Apa itu Fear of Missing Out (FOMO)?

Sahabat, beberapa dari kita mungkin pernah merasakannya. Sering mengatakan iya pada setiap peluang yang dijumpai, seperti conference, leadership training, networking session, free webinar dan merasa kecewa bila peluang tersebut tidak diambil. Ataupun sering melihat social media dan merasa tidak nyaman jika tidak bisa terhubung dengan dunia maya. Untuk yang sedang bekerja, selalu gundah akan karir yang sudah dipilih, ataupun ingin ikut serta dalam setiap pengambilan keputusan rapat karena merasa ada yang tertinggal jika tidak bisa berkontribusi. Ini adalah beberapa contoh dari gejala FOMO.

Istilah FOMO dimasukkan  ke Oxford Dictionaries pada tahun 2013, yang mana pengertiannya ialah:

FOMO; NOUN; mass noun; informal: ‘’Anxiety that an exciting or interesting event may currently be happening elsewhere, often aroused by posts seen on social media.’’

Dalam pemahaman lain, FOMO diartikan sebagai perasaan khawatir yang berlebihan dikarenakan merasa ada yang hilang/belum diraih. Sering dipicu oleh hal – hal yang terlihat di social media. Biasanya diawali oleh pertanyaan, ‘’ what’s going on when I am not around’’.

Pentingnya Memahami FOMO untuk diantisipasi

Sebuah video menarik diunggah oleh YouTube Channel, ‘’Moby’’ berjudul ‘’Are You Lost In The World Like Me?’’ menceritakan kebiasaan orang – orang pencandu social media dan gadget. Diperlihatkan, bahwa pada zaman sekarang, orang – orang sudah acuh tak acuh dan kehilangan empati.

Ada beberapa scene yang merefleksikan hal – hal tersebut. Contoh: kala ada sebuah kejadian yang berbahaya, khalayak akan lebih cenderung untuk merekam terlebih dahulu ketimbang mengambil inisiatif untuk menolong. Seorang perempuan mengambil foto sambil tersenyum meski ia sedang bersedih dengan tujuan untuk impressing others melalui social media. Dengan mudahnya seseorang menjadi gunjingan ketika aibnya diperlihatkan di dunia maya. Hal lain yang sangat ironis adalah ketika beberapa orang yang sedang bersosialisasi, namun mereka lebih memprioritaskan komunikasi di social media ketimbang di dunia nyata. Video lengkap dapat dilihat dari link dibawah:

https://www.youtube.com/watch?v=VASywEuqFd8

Video tersebut memperlihatkan tentang dampak negative dari social media yang pada akhirnya menimbulkan gejala FOMO. Banyak pihak berfokus pada dunia maya karena takut akan ketinggalan suatu berita. Social Media bisa dikatakan sebagai sebagai tools effektif guna menjalin silaturrahim dengan orang banyak. Untuk para public figure yang sudah sukses, ini juga bisa digunakan untuk berbagi ilmu kepada follower mereka. Untuk beberapa NGO/perusahaan yang terlibat proyek kemanusiaan, kabar tentang projeknya akan tersebar lebih cepat, sebagian akan menjadi inspirasi seperti yang ditampilkan di laman social media kitabisa.com. Untuk para pemerintah, menampakkan transparansi kerja dan berkomunikasi dengan masyarakat adalah salah satu manfaatnya. Tak lupa untuk para pebisnis, pengenalan produk di dunia maya juga sangatlah effektif.

Namun disisi lain, dibandingkan dengan generasi terdahulu, penggunaan social media membuat sisi kehidupan pribadi seseorang lebih sering diekspos atau yang disebut dengan pencintraan. Asumsi rumput tetangga lebih hijau merupakan faktor utama terjadinya FOMO. Ketika apa yang ditampilkan di social media menjadi gengsi utama dan lebih menjadi prioritas, ketimbang dengan apa yang terjadi pada kehidupan sebenarnya.

Beberapa orang merasakan  kecenderungan tidak puas dengan kondisi kehidupan masing – masing, oleh sebab ‘’melihat’’ orang lain yang lebih sukses, hingga membuat seseorang menjadi khawatir, tidak tenang dan cepat – cepat mengevaluasi diri serta mengambil tindakan karena terpikirkan waktu yang tetap berjalan namun merasa masih berjalan di tempat. Ambil contoh: ketika hendak berisitrahat bersama keluarga, tiba – tiba melihat postingan seorang teman menghadiri pesta/conference,  hingga kemudian ada perasaan tidak tenang, lalu membatalkan istirahat tersebut guna ingin mencari peluang lain.

Tantangan Gen Y dalam Menghadapi FOMO

Gen Y identik dengan perkembangan teknologi, dan menikmati manfaatnya dari usia dini. Sebuah riset dari http://www.huffingtonpost.com/2013/05/14/fear-of-missing-out-life-dissatisfaction-fomo_n_3275349.html menunjukkan bahwa FOMO sering dikaitkan dengan perasaan ketidakpuasan, dan semua berasal dari Social Media. Kebanyakan orang sering mengupload gambar – gambar dengan tujuan ‘’bersaing’’ dengan orang lain. Hingga berimpak pada evaluasi hidup melalui pembandingan – pembandingan prestasi yang bisa berakibat menurunnya percaya diri. Menimbulkan kekhawatiran karena acap kali memikirkan bagaimana kehidupan itu semestinya berdasarkan tanggapan orang lain menggambarkan diri mereka sendiri. Kebanyakan pengguna social media adalah Gen Y, yang mana gejala FOMO akan lebih cepat mendominasi generasi ini.

Tips untuk menghilangkan rasa ‘Fear of Missing Out

Sebelum menulis artikel ini, sebagai seorang Gen Y, penulis pernah merasakan FOMO terutama di awal – awal kehidupan kuliah. Selalu ingin terlibat dan termotivasi untuk belajar lebih baik, menyibukkan diri dan tidak mahu tertinggal, hingga akhirnya sampai pada titik exhausted, lelah dengan semua yang pekerjaan dan peluang yang tidak ada habisnya. Menyadari istilah FOMO dari pertengahan tahun 2016 ketika membaca artikel dari FORBES (https://www.forbes.com/sites/melodywilding/2016/07/06/career-fomo-how-to-stop-fear-of-missing-out-from-ruining-your-happiness/#6b7b788f2924). Setelah melakukan sedikit riset, berikut adalah kesimpulan yang ditarik untuk mengatasi FOMO:

  1. Mengubah persepsi tentang penggunaan social media. Beberapa pengguna social media menggunakan tools ini sebagai media untuk menjaga tali silaturrahim, menginspirasi, berbagi dan segala bentuk niat positif lain. Meski sebagian menggunakan untuk pamer atau pencintraan, social media adalah sebuah tempat untuk mengabadikan moment hidup yang bagus saja, namun tidak mewakili semua bagian kehidupan seseorang. Setiap orang sukses membuat sebuah pengorbanan dan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sehingga, kala melihat prestasi atau fun moment  seseorang, tukar persepsi dan hindari  membandingkan diri dengan orang tersebut, hindari untuk mengevaluasi diri secara berlebihan namun menjadikannya sebagai inspirasi tanpa perlu khawatir akan ada hal – hal yang telah terlewatkan. Mencoba berpikir bahwa dibalik momen kesuksesan yang terlihat tersebut, ada pengorbanan yang luar biasa.
  2. FOMO adalah sebuah pilihan. Sebagian orang ada yang sudah meraih sukses pada usia 20 an, namun pada dasarnya semua orang mempunyai jalan tersendiri. Tidak semua akan sama karena peran masing – masing orang juga berbeda. Sukses adalah perjalanan dan semua akan datang pada waktu yang tepat. Ambil contoh: President Barack Obama mengakhiri masa jabatan beliau pada Umur 55, sedangkan Donald Trump baru akan memulai pada umur 70 tahun. Kolonel Sanders pendiri KFC membangun perusahaanya pada usia 62 tahun, dan meninggal pada usia 90 tahun. Manakala ada orang lain telah sukses pada usia 25 tahun, namun sudah meninggal pada usia 55 tahun. Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan FOMO. Relax, stop worrying. Sukses pasti akan datang jika diusahakan. Kala datang rasa khawatir berlebihan ini karena sering terkejar waktu, segera mengingat bahwa setiap ikhtiar yang dibuat pasti akan membuahkan hasil J
  3. Mengalokasikan waktu untuk menjauh dari social media dan teknologi. Salah satu sumber FOMO adalah Social Media. Meski teknologi sangat krusial keperluannya di era sekarang, menjauh sejenak guna memberikan hak badan juga ada manfaatnya. Ibarat bermain game, sesekali tidak masalah asalkan energi untuk bekerja bisa refresh kembali. Namun jika sudah berlebihan, maka akan berdampak pada kelalaian management waktu. Sama dengan social media, sesekali tidak masalah. Namun tentu tidak baik jika sudah kecanduan. Satu riset menyebutkan bahwa orang – orang yang menghabiskan waktu di dunia maya akan berkurang kebahagiaannya. Karena kebahagiaan sejati didapat membangun emotional connection, having real conversation bersama orang – orang yang kita pedulikan dan sayangi serta menerimanya kembali dari orang tersebut.. Hal ini tertulis pada riset dari Harvard yang bisa dibuka pada link di bawah:  https://www.forbes.com/sites/georgebradt/2015/05/27/the-secret-of-happiness-revealed-by-harvard-study/#49b8b5206786
  4. Memahami bahwa waktu hanyalah 24 jam dan menerima bahwa tidak semua bisa dikerjakan. Hal normal bila terkadang ada perasaan khawatir jika tidak mengambil sebuah tindakan, apalagi jika sudah kepepet dengan deadline dan banyak yang harus dilakukan. But look, jika mengejar 2 ayam sekaligus keduanya akan lepas. Memang sudah ada hal yang akan terlewatkan, tidak semua bisa diikuti dan dikerjakan. Waktu memang sangat berharga, namun bila senantiasa khawatir akan ada yang terlewatkan, kita kehilangan semuanya. Hidup adalah pilihan, dan memilih untuk mengerjakan sesuatu yang benar – benar penting/prioritas untuk impact yang lebih positif dan panjang adalah krusial.

Saat ini juga sudah dikembangkan teknologi terbaru untuk mengatasi kecanduan seseorang dalam bersosial media dan gadget, yang disebut Light Phones. Melalui Light Phones, seseorang tetap bisa menerima dan membuat panggilan telepon melalui nomor pribadi. Tidak ada aplikasi special dalam Phone ini, bahkan tidak ada penerima pesan.  Light Phones dibuat dengan tujuan agar masyarakat bisa kembali berinteraksi dengan normal, tanpa ada gangguan dari aplikasi – aplikasi pada Android/IPhone yang acapakali mengganggu fokus. Juga dibuat sebagai alternative ketika seseorang tengah menjauhkan diri dari teknologi, namun tetap siap menerima telepon darurat. Lebih lengkap tentang Light Phones bisa dilihat dari video di bawah:

https://www.youtube.com/watch?v=p-59xljxyAY

Bersemangat dalam meraih impian bukanlah hal yang buruk. Gejala FOMO bisa membuat seseorang termotivasi untuk mencoba hal – hal yang baru. Penasaran untuk mencoba sesuatu hal yang baru adalah hal yang sangat bagus, namun bila sudah disertai kekhawatiran,’’did I miss something’’, hanya akan menurunkan kebahagiaan dan berimpak pada produktivitas. Bila sudah berlebihan menggunakan social media dan tidak mahu ketinggalan berita tentang orang lain, selalu kepo – kepo, dan memprioritaskan tampilan di sosmed ketimbang dunia nyata, ini bukanlah hal yang wajar.

Stay bless, Gen Y!

 

Author :

Josandy Maha Putra @j_mahaputra. Bachelor of International Business Management Universiti Utara Malaysia (UUM), a former President of International Students Society (UUM) who was elected as the first President from the Asia Continent, Vice Chairman of Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Minang in Malaysia, alumni of Forum Indonesia Muda 15 and Asean Future Leader 4.

Email : josandymahaputra@gmail.com ; Linkedln : https://www.linkedin.com/in/josandymahaputra

Source:

Research and Development at Rumah Millennials

International Activist in Youth Development.
Public Speaker and Writer.
Passionate about Culture and Personal Growth.

Content Specialist at ProspectsASEAN 
Member at ASEAN Future Leaders Summit
Founder of Forum Indonesia Muda Chapter Diaspora
Former President
at International Student Society University Utara Malaysia (the first President elected from Asia)
Former Vice Chairman
at Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Minang in Malaysia
Former Representative in Malaysia of Forum Indonesia Muda

Email : josandymahaputra(at)gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *