4 Langkah Penting Yang Harus Kamu Lakukan Agar Terlindung Dari Paham Radikalisme!

Bekasi – RumahMillennials.com | Kasus terorisme yang terjadi di Indonesia akhir – akhir ini cukup menggegerkan dan meresahkan masyarakat. Baru – baru ini, terjadi aksi bom bunuh di depan Gereja Katedral Makssar pada Minggu 28 Maret 2021, dan penyerangan di Mabes Polri pada Rabu 31 Maret 2021. Keduanya dilakukan oleh pemuda/i dari generasi millennial.

Ya, millennial kembali disorot karena dua kasus teroris tersebut masih muda. Tentu hal ini kian memprihatinkan disaat kondisi Indonesia belum sepenuhnya kondusif akibat pandemi virus corona dan beragam bencana alam yang terjadi di daerah seperti gempa di Malang dan banjir bandang di NTT.

Apakah generasi millennial kian rentan terhadap paham radikalisme dan berpotensi menjadi pelaku teroris? Bagaimana bisa seorang wanita muda nekat menerobos masuk ke Mabes Polri dan melakukan baku tembak dengan petugas setempat?

Kali ini, Rumah Millennials bersama AbdiMuda menggelar webinar bertajuk Millennial Talks (M-Talks) dengan topik pembahasan “Peran Millennials Dalam Mendukung Anti Radikalisme”, Sabtu 10 April 2021. Dipandu oleh M. Affin Bachtiar, Ketua Bidang Pertahanan & Keamanan Rumah Millennials, M-Talks ini mengundang dua pembicara yakni Yudi Zulfahri, Direktur Yayasan Jalin Perdamaian, dan Muhammad Syauqillah, Ketua Program Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia.

Sebagai orang yang pernah terpapar paham radikalisme, Yudi Zulfahri mengatakan bahwa paham radikal itu tidak serta-merta masuk dalam diri seseorang. Terorisme dengan kedok agama, menggunakan ayat – ayat di kitab suci untuk men-doktrin pengikutnya. Pertama – tama diajarkan sampai punya rasa intoleran dan pemikiran tertutup terhadap apapun yang berbeda dari sudut pandang yang diajarkan. Hal itu menyebabkan orang mudah menghakimi negatif orang lain yang punya pemahaman agama berbeda dari yang sudah diajarkan.

Kalau sudah memiliki pemikiran tertutup dan intoleran, akan lebih mudah mendapatkan doktrin tentang paham – paham radikalisme yang menjurus ke aksi terorisme. Saat sudah masuk paham radikalisme, Yudi berujar kalau di dalam diri selalu muncul energi kebencian dan permusuhan. Energi kebencian itu terlalu besar sehingga fitrahnya sebagai manusia hancur, hingga merusak hubungan dengan manusia lain seperti keluarga dan orang – orang sekitar.

Maka dari itu, penting bagi generasi muda untuk banyak – banyak belajar dari berbagai sumber, berdiskusi dengan orang – orang yang berbeda latar belakang agama, suku, dan budaya, serta ajak keluarga dan teman – teman untuk memiliki pemikiran yang terbuka.

Senada dengan Yudi, Muhammad Syauqillah menambahkan menjaga hubungan harmonis dalam keluarga juga berperan penting dalam menjaga diri kita dan orang – orang sekitar dari paham radikalisme. Selain itu, jika ada anggota keluarga atau teman – teman di lingkungan baru mulai belajar agama, perhatikan dari mana sumber belajarnya. Dari penelitian yang dilakukan Syauqillah bersama timnya, banyak keluarga yang senang – senang saja ketika melihat anggota keluarga belajar agama dari buku, video di media sosial, dan ikut pengajian. Namun, jika sumber belajarnya tidak diperhatikan, bukan mengajarkan kebenaran malah ke arah intoleran, kita harus mengambil langkah pencegahan agar orang itu tidak terpapar paham radikalisme.

Menurut Syauqillah, ada empat peran yang bisa millennial maksimalkan agar melawan radikalisme. Pertama, adakan konseling remaja. Sediakan fasilitas konseling bagi remaja, baik di lingkungan sekolah, kampus, maupun perumahan, agar remaja mendapatkan tempat untuk mencari mentor dan berkeluh kesah tanpa dihakimi. Kedua, maksimalkan peran organisasi kepemudaan dan keagamaan. Lewat kegiatan dan gerakan organisasi, pemuda/i akan merasa lebih dekat dan memiliki teman karena kegiatan dan gerakan tersebut diinisiasi oleh pemuda itu sendiri.

Ketiga, penguasaan narasi media sosial. ISIS itu memiliki narasi media sosial yang luar biasa dalam menyebarkan kampanye radikalisme, maka dari itu millennial yang melek teknologi dan akrab dengan dunia digital, harus lebih kuat dan berisik dalam mengampanyekan anti radikalisme. Keempat, moderasi. Generasi muda bisa menjadi media dalam diskusi tentang berbagai hal termasuk masalah hidup, agama, dan keluarga agar pemuda/i lainnya merasa memiliki orang – orang yang satu frekuensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *