Mari Belajar Kemampuan Mendengarkan Dari Si Anjing!

Bekasi – RumahMillennials.com | Tiap hari pasti kamu berkomunikasi dengan orang lain. Meskipun kamu tetap di rumah aja selama pandemi, tapi tetap saja kamu berkomunikasi dengan orang – orang yang ada di rumah seperti keluarga, tetangga, bahkan dengan hewan peliharaanmu. Akan tetapi, apakah kamu benar – benar sudah melakukan yang namanya komunikasi? Apa komunikasi yang kamu jalani dengan orang – orang sekitarmu berjalan dua arah atau hanya satu arah? Jangan – jangan, komunikasinya cuma bicara, bicara, dan bicara saja tapi tak pernah benar – benar mendengarkan.

Banyak orang mengira, komunikasi itu sesimpel adanya percakapan antara dua orang atau lebih. Ngobrol, diskusi, tegur sapa, basa-basi sudah dianggap sebagai aktivitas “komunikasi”. Namun, banyak orang yang tidak benar – benar berkomunikasi dengan baik. Hal ini ditandakan terlalu sering orang berfokus pada bicara, konteks bicara, cara bicara, tapi jarang yang menaruh perhatian pada sisi mendengarkan.

“Mas Audi, kan kita tiap hari dengerin orang kalo gak denger ya budeg dong!”

Mohon maaf ni sobat millennials, denger bukan asal denger bunyi atau suara. Sama seperti halnya bicara, dengar itu kata kerja yang bisa menjadi aktif (mendengarkan) dan pasif (didengarkan). Artinya, dengar itu sesuatu yang kita lakukan dan kita latih sama seperti halnya bicara. Sayangnya, tidak banyak orang – orang di sekitar kita bahkan professional seperti public speaker, penjual, dan motivator yang fokus membahas materi kemampuan mendengarkan.

Jeff Lazarus, seorang konsultan ilmu kesehatan yang telah berkarir selama lebih dari dua dekade bersama perusahaan farmasi terbaik di dunia, pemegang gelar BA dalam komunikasi, dan pengajar public speaking di tingkatan universitas, mengupas tuntas soal kemampuan mendengarkan yang banyak diabaikan oleh orang lain. Lewat bukunya berjudul “Listen Like A Dog” yang terbit pada 2016 lalu, Jeff menggunakan anjing sebagai percontohan hewan yang memiliki kemampuan mendengar luar biasa sehingga patut dicontoh oleh manusia.

“Lah, si anjing ini emang ngerti apa yang kita omongin? Jangan ngadi – ngadi deh Mas Audi”

Jangan salah sobat millennials! Kalau kamu yang pernah bermain dengan anjing, pasti mengerti bagaimana makhluk pintar ini bisa memahami bahasa komunikasi kita dan bisa menjadi pendengar yang baik. Seekor anjing memahami bahasa manusia lewat gestur tubuh, nada suara, dan ekspresi yang ditunjukan oleh manusia. Jika kita merasa sedih, anjing akan senantiasa berada di dekat manusia dan menemani sampai merasa lebih baik. Meskipun tidak mengerti kata – kata yang manusia ucapkan, anjing selalu setia menatap dan mendengarkan keluh kesah manusia tanpa sedikitpun terganggu dengan hal lain, menghakimi masalah yang dialami manusia, dan memberikan nasihat yang tidak perlu.

Sebagai pendengar, sering kali kita tidak benar – benar mindful, yakni menghadirkan diri sepenuhnya disini-kini untuk lawan bicara kita. Misalnya, saat ada orang lain curhat ke kita, alih – alih mendengarkan dan memahami orang itu, kita malah sibuk mencari solusi, bahkan mencari – cari kesalahan lawan bicara akan masalah yang ia alami.

We Are Different Yet We Are The Same

Maksudnya apa? Kita memang berbeda dan memiliki keunikan masing – masing, tapi kita semua memiliki perasaan yang sama yaitu:

“Gak ada orang yang ngerti aku”

Ya, kan? Jujur aja deh sob, kamu juga merasa gak ada orang yang benar – benar bisa memahami dirimu seutuhnya kan? Memang begitu adanya kehidupan manusia, karena itulah semua orang memiliki kebutuhan yang sama yaitu ingin dipahami, didengarkan, dan diperhatikan. Caranya mudah, cukup dengan menghadirkan diri seutuhnya disini-kini untuk lawan bicara lalu berikan empati dan perhatian penuh, serta pahami apa kebutuhannya. Lewat kemampuan mendengarkan, kamu bisa melakukan hal itu.

Ada tiga definisi dari mendengarkan yang dipaparkan Jeff menurut dictionary.com:

1. Memberikan perhatian dengan telinga; memperhatikan dengan saksama untuk tujuan mendengarkan; memberikan perhatian

2. Memperhatikan; menyimak; menuruti

3. Menunggu dengan penuh perhatian untuk mendengarkan sebuah suara

Makhluk apa yang bisa memenuhi tiga definisi di atas? Anjing. Sekali lagi, anjing tidak menghakimi cerita kita ataupun tindakan yang kita ambil, dia hanya memperhatikan, mendengarkan, dan hadir sepenuhnya untuk kita. Lalu bagaimana mendengarkan seperti seekor anjing? Ada 15 cara tapi di artikel ini, saya hanya membagikan 5 saja, antara lain:

1. Mendengarkan dengan seluruh jiwa, bukan hanya dengan telinga mereka

2. Menggunakan bahasa tubuh yang siaga dan kontak mata yang bagus

3. Mengirimkan energi yang murni, positif, dan penuh cinta

4. Menjadikan lawan bicara sebagai pusat kehidupan seakan – akan kehadiran kita adalah hadiah untuk mereka

5. Belajar dan merespons sesuai dengan energi lawan bicara

Kalau kamu mau tahu dan belajar lebih dalam soal kemampuan mendengarkan, kamu bisa langsung beli buku “Listen Like A Dog” karya Jeff Lazarus baik yang versi asli bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Saya tidak menemukan buku ini di toko buku manapun, tapi saya membelinya di e-commerce sehingga jadi lebih mudah. Buku ini benar – benar memberikan panduan lengkap dengan bahasa yang sederhana, tidak teoritis, dan sangat practical jadi bisa langsung kamu praktekan saat ngobrol dengan orang – orang sekitarmu.

Ingat sobat millennials, we are different yet we are the same. Kita memang berbeda tapi kita memiliki kebutuhan yang sama yaitu ingin dipahami, didengarkan, dan diperhatikan. Kalau kamu bisa kuasai kemampuan mendengar, kehidupan sosial dan karir kamu bisa meningkat lebih baik.

Buku: Listen Like A Dog

Penulis: Jeff Lazaruz

Tahun Terbit: 2016

Diterbitkan oleh: Health Communication, Inc. (HCI)

Kota: Florida, Amerika Serika

Terjemahan Indonesia oleh: PT Elex Media Komputindo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *