Menghadapi Perubahan Zaman Dan Skenario Teknologi Di Masa Depan (2)

B. Human & Robots are in One Ecosystem and How to Prepare for that Situation?

Salah satu robot yang sempat menjadi trend pada tahun lalu adalah Sophia, robot humanoid yang dikembangkan oleh perusahaan berbasis di Hong Kong, Hanson Robotics. Robot ini sudah diberikan kewarganegaraan Arab Saudi.

Sophia, Robot Humanoid

Sophia mampu berinteraksi dan dibekali artificial intelligence, yang tentunya membuat robot ini sangat cerdas. Nah, merujuk pada bahasan exponential technology pada artikel sebelumnya, yaitu percepatan teknologi terjadi dalam kurun waktu singkat, hitunglah umur sekarang adalah 25 tahun, saat berumur 35 tahun, siapkah menghadapi Sophia ini pada 10 tahun kedepan?

Manusia juga harus bisa memposisikan robot sebagai pesaing modern, bukan hanya sebagai partner.

Di salah satu industri di salah satu kota di Indonesia, sudah kehilangan 10.000 orang akibat downsizing company ini. Salah satu cara untuk beradaptasi dengan situasi tersebut, yakni dengan belajar untuk meningkatkan skill – skill yang sekiranya diperlukan di masa depan, diantaranya:

1. Advance Soft-skill

Penting untuk mengasah keahlian – keahlian dan meningkatkan kompetensi, yang sekiranya akan tetap diperlukan agar tetap menjadi SDM yang dibutuhkan perusahaan, sehingga robot pun tidak bisa menggantikan. Seperti misalnya;

  1. Leadership skill: Bekerja sama dan memanage berbagai ragam latar belakang orang dan kemungkinan juga akan memanage robot
  2. Critical Thinking dan analytical: Melimpahnya informasi zaman sekarang membuat orang – orang harus bijak dalam mencernanya. Lain dari itu, skill ini juga tetap akan diperlukan dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan.
  3. Emotional Intelligence: Secanggih apapun sebuah mesin, kemampuan manusia untuk terhubung dengan manusia lain tidak mudah untuk digantikan. Orang – orang dengan EQ tinggi akan tetap dibutuhkan di masa depan.
  4. Creativity: Dengan peluang – peluang bekerja sama dengan robot dan mesin, manusia dituntut untuk lebih kreatif untuk bisa menggunakannya, agar bisa memaksimalkan manfaat – manfaat yang bisa didapat. 

2. Keterampilan Memahami Teknologi, Data, Dan Hal – Hal Bersifat Online

Inovasi – inovasi teknologi yang terus berkembang, menyebabkan akan berubahnya juga skill – skill yang diperlukan. Ada namanya sekolah Fourty Two (42) di Prancis, foundernya adalah billionaire Prancis, Xaxier Neil. Ini adalah sekolah programming, yang tidak ada guru, tidak ada kurikulum, tidak ada gelar yang akan disematkan juga, dibuka 24 jam sehari, dan gratis. Setiap orang diperbolehkan untuk belajar sesuatu sampai dia di hire. Sekolah ini terinspirasi oleh cara-cara modern baru dalam belajar, yaitu belajar dengan teman sekelas dan project-based learning.

Inisiasi ini merupakan cerminan usaha meng’’digital’’kan manusia. Hal ini bisa dikatakan sudah menjadi kebutuhan orang – orang sekarang, sama seperti terjadinya edukasi tidak langsung pada driver Ojol yang diawal tidak banyak yang melek teknologi. Coba bayangkan, jika Ojol ini tidak siap dengan penggunaan smartphone, berapakah dari mereka yang tidak bisa bertahan hidup? Ini baru konteks yang kecil, pada area penggunaan smartphone oleh driver Ojol. Untuk hal – hal lain, pasti ada konteks yang lebih luas, sehingga perlunya pemahaman teknologi yang luas juga.

Keterampilan untuk memahami teknologi dengan lebih baik ini bisa diraih asalkan ada keinginan untuk selalu belajar dan mencoba. Memang sangat simple, namun banyak juga bisa dilihat bisnis – bisnis mati karena tidak mampu beradaptasi, dan itu semua diawali dengan ketidakterbukaan pikiran untuk belajar. Nokia (HP), Kodak (fotografi), Blockbuster (penyewaan video), Reader’s Digest Association (pernah menjadi majalah kesehatan terbesar), adalah beberapa contoh kecil perusahaan yang tidak bisa bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

3. Thought-Disrupting

Ada 3 bentuk respon kebanyakan orang – orang dalam menjawab era penuh disruptif.

  • Pertama, orang – orang yang bersemangat menyambutnya, karena melihat banyak peluang yang bisa dimaksimalkan
  • Kedua, yang mengatakan bahwa efek dari disruptif ini masih jauh untuk dirasakan
  • Ketiga, kumpulan orang – orang yang langsung menolak hal ini terjadi.

Berbagai respon dalam menyikapi hal ini, bisa menjadi sedikit bayangan kondisi sosial masyrakat kedepan, dalam menyambut perubahan. Bayangkan, kembali lagi pada Elon Musk, salah satu ide gilanya yakni untuk menempatkan teknologi chip canggih ke dalam otak manusia. Rencananya, hal tersebut akan dilakukan melalui Neuralink, salah satu perusahaannya yang didirikan pada 2016 lalu, untuk mengembangkan brain-computer interface (BCI). Ia berencana, untuk menggabungkan manusia dengan AI.

Nah, pada waktu sekarang ini, ide Elon Musk terdengar aneh atau bisa dibilang berbahaya. Tidak akan banyak yang mau mencoba, untuk sekarang ini. Namun di masa depan, seperti konsep 6D fase Democratization, apabila nantinya dipakai dan semakin banyak orang yang memiliki akses untuk menggunakannya, lama – kelamaan hal ini akan menjadi suatu hal yang biasa. Pertanyaanya, siapkah kita dengan ide – ide lain yang mungkin akan terdengar gila sekarang? (bukan di masa depan)

Menjadi open minded sudah tidak cukup, ataupun hanya sekedar thought-provoking. Pola pikir kita dan sudut pandang harus benar – benar mau pula untuk di ‘’disruptif’’,  dalam menerima perubahan. Sehingga, ibarat nya sebagian besar orang mampu memanfaatkan social media untuk berbisnis, dengan mendisruptif pikiran sendiri bisa timbul ide – ide kreatif yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Salah satu trend sekarang di dunia, adalah sudah mulai terbukanya perusahaan atau kampus untuk menerima seseorang tanpa sertifikat yang relevant. Seperti yang terjadi di Standford University, yang 5% dari jumlah total mahasiswanya diterima tanpa test dan sertifikat. Selama dia menunjukkan portfolionya, lalu kelas online learning yang pernah diikuti dan punya clear vision kedepan.

Perubahan kurikulum pendidikan yang terjadi seperti ini adalah tanda bahwa, cara orang menghargai kualitas seseorang sudah bukan dengan sertifikat atau dokumen monoton lainnya. Dengan melimpahnya kesempatan untuk belajar apapun melalui internet, orang – orang juga akan cenderung melihat, apa yang bisa dilakukan kedepan dibanding apa yang pernah dilakukan.

Kesempatan belajar tidak terbatas pada edukasi formal. Dan keinginan untuk belajar yang non-formal, akan menentukan bagaimana sikap manusia menghadapi era disruptive oleh teknologi.

1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *