Rumah Sakit Apung Sebagai Pembuka Askes Kesehatan Wilayah Terpencil Indonesia

JAKARTA – RumahMillennials.com | Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, namun hingga saat ini masih banyak rakyatnya yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, terutama di daerah yang terpencil. Terbatasnya fasilitas kesehatan dan kurangnya tenaga medis yang bertugas membuat akses kesehatan di wilayah terpencil di Indonesia menjadi terhambat. Terkadang fasilitas dan akses kesehatan cukup memadai namun tenaga medisnya tidak tersedia, kondisi sebaliknya pun terjadi hingga saat ini. Kendala geografis menjadi alasan utama tidak meratanya distribusi pendukung akses kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, pada tahun 2009, terciptalah Rumah Sakit Apung pertama di Indonesia, yaitu Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan yang mulai melaksanakan tugasnya sebagai penyedia akses dan fasilitas kesehatan untuk melayani masyarakat dengan masalah kesehatannya di banyak daerah terpencil. Tidak hanya itu, bahkan sudah ada tiga Rumah Sakit Apung dan satu Dokter Terbang untuk menunjang pelayanan medis lebih baik lagi kepada seluruh masyarakat Nusantara.

Rumah Sakit Apung & dr. Lie Dharmawan

Maka pada kesempatan kali ini, saya menghadiri undangan spesial dari doctorSHARE dalam acara peringatan 10 tahun pengabdian doctorSHARE di Baywalk Mall, Jakarta Utara. Saya bersama tamu komunitas dan VIP lainnya diajak mengelilingi Rumah Sakit Apung terbesar di Indonesia, yang bernama Nusa Waluya II.

doctorSHARE adalah organisasi kemanusiaan non-profit yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan. Resmi berdiri pada 19 November 2009, doctorSHARE menyediakan akses bantuan medis secara holistik, independen, dan imparsial untuk masyarakat yang paling membutuhkan dan tidak memiliki jaminan sosial, yang berada di wilayah tertinggal, terpencil dan terluar di Indonesia. doctorSHARE memiliki visi memberdayakan masyarakat untuk keluar dari penderitaan yang dialami dengan tenaganya sendiri secara holistik. Sedangkan misi doctorSHARE adalah memperbaiki derajat kesehatan Indonesia, terutama di Indonesia Timur melalui penyediaan akses pelayanan kesehatan holistik dan program inovatif berkesinambungan berbasis semangat kerelawanan.

Menurut pendiri doctorSHARE, dr. Lie Dharmawan, Indonesia sebagai negeri kepulauan perlu memiliki sistem layanan kesehatan terpadu yang memudahkan masyarakat hingga ke pelosok nusantara. Selama pelayanan bersama doctorSHARE, dr. Lie Dharmawan melihat berbagai masalah berlapis saat masyarakat membutuhkan layanan kesehatan yang layak.

“Sudah selayaknya setiap masyarakat di Indonesia mendapatkan layanan kesehatan yang sama. Masyarakat di kota maupun di pedesaan harus mendapat layanan kesehatan yang layak. Ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja, melainkan tugas kita besama untuk mewujudkannya.” Kata dr. Lie Dharmawan.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, hampir 63% masyarakat menyatakan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di rumah sakit masuk dalam kategori sulit dan sangat sulit. Angka lain menyebutkan masih ada 60,8% masyarakat di Indonesia yang kesulitan mengakses layanan kesehatan primer seperti Puskesmas atau Klinik.

Definisi sulit dalam Riset Kesehatan Dasar dilihat berdasarkan jenis moda transportasi yang digunakan, waktu tempuh dari menuju lokasi akses kesehatan, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk menuju fasilitas kesehatan terdekat.

“Pemerintah pusat melalui Dinas Kesehatan di berbagai daerah telah berusaha untuk mengurangi masalah kesehatan. Penguatan sisi promotif dan preventif di Puskesmas menjadi hal utama yang diupayakan pemerintah saat ini.” Ucap Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan, drg. Saraswati

Saraswati menambahkan bahwa pemerintah melakukan perumusan hingga mengevaluasi kebijakan di bidang pelayanan kesehatan untuk masyarakat di semua wilayah termasuk daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan. Tenaga kesehatan di seluruh daerah dibimbing agar selaras dengan kebijakan pusat.

Indonesia menjadi salah satu dari 193 negara, berkomitmen untuk membawa perubahan dunia di tahun 2030. Komitmen tersebut tertuang dalam Sustainable Development Initiatives (CISDI), Egi Abdul Wahid memaparkan sebelumnya ada Millennium Development Goals (MDGs) yang juga memiliki target dalam kesehatan. MGDs masih meninggalkan yang belum selesai pada 2015. Saat ditrasformasikan menjasi SDGs, terdapat beberapa target tambahan yang komprehensif dan lintas sektoral.

“Kesehatan menjadi input sekaligus output dari pencapaian SDGs, inoasi diperlukan darp para ahli kesehatan masyarakat melalui pendekatan akademik maupun interensi kesehatan langsung,” ujar Egi.

Berdasarkan perpres no.59 tahun 2017, kesempatan untuk mengembangkan daerah sesuai dengan SDGs bisa dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah daerah, akademis, pihak swasta, filantropi, masyarakat sipil, dan media.

“SDGs memberi peluang terciptanya pendekatan baru dengan mitra-mitra baru yang dapat membantu pemerintah untuk mengoperasionalisasikan SDGs dengan baik dan efektif,” tambah Egi.

Kondisi ini yang turut menjadi dasar doctor SHARE dalam mengembangkan program layanan kesehatan. “doctorSHARE menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dalam upaya pemerataan akses kesehatan. Ini selaras dengan salah satu Nawa Citra pemerintah yaitu membangun Indonesia dari pinggiran,” tutur dr.Lie yang ditemui pada peringatan 10 tahun doctorSHARE di Baywalk Mall Pluit, Jakarta utara.

Setelah sesi press conference dan jamuan makan siang bersama dr. Lie Dharmawan beserta tim relawan docotrSHARE, saya berkesempatan untuk mengunjungi dan berkeliling Rumah Sakit Apung Nusa Waluya II yang sudah bermuara di depan Baywalk Waterfront Ampitheathre bersama dengan komunitas dan media.

Saya mulai menaiki kapal jet kecil bersama 9 orang lainnya, hanya 5 menit dari dermaga menuju ke Rumah Sakit Apung Nusa Waluya II. Setelah tiba di Rumah Sakit Apung, diberikan safety briefing oleh awak kapal dan pembuka dari guide tour, yang merupakan relawan apoteker di Rumah Sakit Apung ini.

Saat memasuki lorong pertama, terlihat ruang pendaftaran dan ruang tunggu. Setelah itu, saya mulai memasuki satu per satu ruangan dalam Rumah Sakit Apung, antara lain Ruang Radiologi, Ruang Gawat Darurat, Ruang Bedah, Ruang Bersalin, Ruang Rawat Inap, Depot Farmasi, Ruang Edukasi Pasien, Ruang Fisioterapi, Ruang Perawatan Gigi, Ruang Poli Umum, Apotek, bahkan Ruang Jenazah. Hebatnya, seluruh fasilitas di seluruh ruangan sangat lengkap, terkecuali Ruang Radiologi yang hanya mempunyai X-Ray.

“Di Ruang Perawatan Gigi, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan tambal, cabut dan pembersihan karang gigi secara gratis. di Ruang Bedah, masyarakat bisa mendapatkan tindakan bedah minor dan mayor, yang mayoritas masyarakat yang memiliki benjolan (massa) atau fraktur, dengan peralatan yang cukup lengkap dan steril. Ruang Gawat Darurat, disinilah banyak pasien ditangani saat gawat darurat, namun belum ada yang mengalami henti napas dan henti jantung hingga saat ini. Ruang Radiologi, hanya mempunya X-Ray, namun jika membutuhkan tindakan MRI/CT Scan, RS Apung memberikan rujukan ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas tersebut. Ruang Rawat Inap, mempunyai + 50 bed untuk memfasilitasi pasien yang membutuhkan perawatan lebih atau setelah operasi, ruang wanita dan pria terpisah, biasanya dijaga oleh 3-4 perawat per shift nya. Ruang Bersalin, memiliki fasilitas yang sangat memadai, termasuk USG dan incubator yang menunjang proses kehamilan dan kelahiran bayi, bahkan disini sudah ada 16 bayi lahir secara normal sepanjang satu dekade ini.” ujar Aloy, sebagai tour guide Rumah Sakit Apung.

“Kami juga mempunyai Ruang Fisioterapi untuk menunjang kemampuan motorik tubuh, baik bagi lansia maupun yang mebutuhkan rehabilitasi medik. Terdapat juga Ruang Edukasi Pasien, dimana jika ada pasien yang memiliki keluhan namun sulit untuk diungkapkan, bisa berkunjung ke Ruangan ini. Dan hingga saat ini, sudah ada + 1500 sukarelawan yang terdiri dari dokter, perawat, apoteker, dan lainnya. Jumlah pasien sudah + 15.000 pasien yang sudah tertangani di Rumah Sakit Apung ini, dengan jumlah terbanyak saat kunjungan ke Palu pasca gempa dan tsunami pada 2018, yaitu 9.938 pasien.” lanjut tour guide.

“Jika kalian berminat untuk menjadi relawan tenaga medis di Rumah Sakit Apung ini, kalian bisa daftar lewat website dengan menyertakan STR dan sertifikasi BTCLS bagi perawat. Untuk Rumah Sakit Apung ini beroperasi dengan jangka waktu program satu tahun per daerah, dikarenakan Rumah Sakit Apung ini tidak memiliki mesin kapal, sehingga ditarik menggunakan kapal tongkang menuju daerah target. Sedangkan Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan beroperasi dengan jangka waktu program 2-3 bulan, sehingga dapat menjangkau hamper seluruh daerah dalam setahun.” kata Aloy.

Dengan adanya Rumah Sakit Apung ini, diharapkan aka nada banyak tenaga kesehatan yang secara sukarela dapat memberikan pelayanan dan perawatan kesehatan terbaiknya bagi masyarakat nusantara, terutama daerah terpencil, tertinggal dan terluar; serta berinteraksi dan mempromosikan gaya hidup sehat bersama seluruh masyarakat Indonesia.

Dirgahayu doctorSHARE, semoga dapat terus memberikan pelayanan kesehatan terbaik menuju kemudahan akses kesehatan bagi masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *