Simak Kisah Dian Sastrowardoyo, Karina Syahna, Risnawati Utami, dan Cheta Nilawaty Dalam Menghadapi Isu Disabilitas

Jakarta – RumahMillennials.com | Halo, Sobat Millennials! Gimana Hari Kartininya? Ngomong-ngomong soal Hari Kartini, sekarang, Kartini bukan lagi tentang kesetaraan kaum perempuan tetap soal hal yang lebih luas lagi.

Kalian tahu gak sih kalau sekarang di Indonesia banyak banget perempuan yang berdedikasi untuk kaum disabilitas? Pas banget nih, Rumah Millennials berkolaborasi bersama Koneksi Indonesia Inklusif mengadakan M-Talks bertemakan Wanita Penggerak Inklusi. M-Talks ini dihadiri oleh 4 narasumber dan berlangsung pada Minggu, 19 April 2020, 15.00-17.45 WIB menggunakan Zoom.

Cheta Nilawaty, seorang wartawan tuna netra TEMPO, bercerita bahwa, ia menyandang tuna netra sejak tahun 2016, tepatnya pada umur 34 tahun. Saat itu, sudah tahun ke-10 ia bekerja di Tempo. Jadi, memang Cheta menjadi wartawan terlebih dahulu baru menderita tuna netra. Tempo sendiri kemudian memperbolehkan Cheta untuk melanjutkan karirnya sebagai wartawan setelah ia kursus komputer khusus tuna netra selama 4 bulan di Yayasan Mitra Netra yang terletak di daerah Lebak Bulus dan melatih insting menulisnya selama 1 tahun di Kanal Indonesiana.

Cheta menegaskan, kisahnya ini bukan menjadi hambatan bagi teman-teman yang berkebutuhan khusus untuk berkecimpung di dunia wartawan. Karena sekarang banyak banget website yang menerima teman-teman baik disabilitas maupun non-disabilitas untuk menjadi wartawan. Selain itu, di zaman yang serba inklusif ini, keterbatasan bukanlah apa-apa, asalkan kita bisa bersaing, mau, dan suka menulis. Yang paling penting nih, belajar setiap hari ya, sobat millennials!

Sebagai seorang disabilitas, Cheta merasa lebih nyaman di masa work from home ini karena ia hanya cukup mengakses berbagai informasi dari gawai dan gak perlu bermobilitas. Cheta berpesan, bahwa jangan pernah lelah untuk menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas karena kita harus melihat performa mereka, bukan hanya fisiknya. Kita juga gak usah ragu untuk melakukan pendekatan kepada difabel. Karena, difabel gak menggigit dan gak beracun.

Sementara itu, Risnawati Utami, WNI pertama yang duduk di bangku Komite Disabilitas PBB & Disability Rights Adviser OHANA menegaskan, kita memang perlu melakukan perlawanan di bidang keadilan sosial. Sebagai pengguna kursi roda sejak kecil, Risna sering mengalami diskriminasi. Namun, ia tidak pernah menyerah. Hal ini yang mendorong dirinya untuk melakukan hal yang berbeda dan kemudian mencetak dirinya menjadi wanita yang kuat.

Hingga akhirnya, Risna Mendirikan OHANA di tahun 2012. Saat itu juga, ia berkiprah di isu kebijakan hak penyandang disabilitas. Berlatar belakang kesehatan masyarakat dan hukum, Risna pun tergerak untuk mengembangkan community practice di Indonesia yang akhirnya membuat ia bekerja sama dengan berbagai negara di dunia.

Risna berpesan bahwa, isu disabilitas harus menjadi isu kita bersama karena isu ini lekat sekali dengan kehidupan kita. Kita harus memiliki kepekaan bahwa disabilitas bukanlah isu yang berbeda dengan isu pembangunan yang lain. Jadikanlah isu disabilitas bagian dari kehidupan kita sehingga mengurangi stigma dan diskriminasi dengan orang yang mengalami disabilitas. Risna juga berharap, agar anak muda bisa menjadi support system dari ekosistem disabilitas untuk memberikan pergerakan dan kemajuan.

Karina Syahna, Top 10 Miss Indonesia 2019 yang juga seorang koreografer penari down syndrome, juga memiliki pengalaman di bidang disabilitas walaupun ia bukan seorang difabel. Awalnya, ia menari di sanggar yang berkolaborasi dengan sebuah yayasan kala mempunyai project menari di acara luar negeri. Setelah 1 tahun persiapan hingga perform, Karina merasa diajari banyak hal lewat kemampuan teman-teman berkebutuhan khusus dalam berinteraksi. Hingga akhirnya, Karina diamanati untuk memegang kelas menari khusus down syndrome tersebut sejak tahun 2013 sampai saat ini.

Sementara itu, pandemi yang terjadi saat ini, awaalnya menyulitkan Karina karena teman-teman disabilitas ditantang untuk beradaptasi dengan teknologi. Tak gentar, Karinapun memutuskan untuk mencoba terlebih dahulu les menari secara online. Tak disangka, teman-teman berkebutuhan khusus melakukan semuanya dengan passionate. Tidak ada bedanya antara latihan di studio dengan di rumah. Bahkan, dengan sistem online seperti ini, teman-teman berkebutuhan khusus menjadi lebih aware dengan diri sendiri, lebih mandiri, dan disiplin mengikuti latihan sampai selesai. Karin sendiri sempat mengalami kesulitan di tahun pertama dan kedua saat menjadi guru tari anak berkebutuhan khusus. Namun, semua itu bisa dilewatinya dengan mengetahui kesenangan dan kesukaan anak tersebut.

Menurut Karina, selain menerima, kita juga harus percaya kalau mereka bisa. Kita juga gak perlu memulai sesuatu secara besar-besaran. Yang penting, kita menyukainya. Dalam menjalani aktivitasnya, Karina berpedoman pada ketulusan dan ketotalan. Segelap-gelap ruangan, pasti ada setitik cahaya.

Dian Sastrowardoyo, seorang aktris, produser, dan pegiat isu sosial yang juga seorang ibu, ternyata punya pengalaman tentang anak berkebutuhan khusus lho, sobat millennials! Hal ini berawal saat anak pertamanya, Shain yang berusia 4 bulan. Saat itu, Shain sering mengalami tantrum ketika berada dalam perubahan yang menurut orang normal hal tersebut biasa saja. Seperti, dari gelap ke terang, dingin ke panas, dan lain sebagainya. Namun dengan insting keibuan Dian yang tajam, dia berinisiatif untuk mencari tahu gejala yang dialami Shain melalui internet. Setelah mendapatkan banyak informasi dan kecurigaan, Dian memutuskan untuk membawa Shain ke dokter. Ternyata, Shain didiagnosa berkebutuhan khusus dan harus menjalani terapi. Akhirnya, Shainpun mulai terapi saat usianya 8 bulan dan saat ini, Shain sudah divonis normal. Hanya  saja, daya imajinasinya perlu diasah lagi.

Sebagai seorang public figure, Dian mantap terbuka kepada khalayak tentang kondisi Shain karena ia terinspirasi dari para iparnya yang membuat sebuah event tentang anak berkebutuhan khusus. Hal ini diapresiasi Dian karena para iparnya sudah mau terbuka dan membagikan persoalan ini untuk dipecahkan bersama-sama. Selain itu, dengan adanya acara-acara seperti ini, Dian yakin kalau pola pikir masyarakat di pelosok desa akan berubah. Dari yang tadinya tidak terbuka, menjadi terbuka. Dian juga berpesan kepada kita untuk tidak sibuk menyalahkan keadaan. Justru, ini suatu kesempurnaan dan kita harus melihatnya secara positif.

Sebagai penutup, Dian memberi tips kepada kita untuk menuliskan 10 hal yang harus disyukuri hari ini. Caranya, setelah bangun tidur di pagi hari, kita jangan dulu ngecek gawai kita tetap tulis 10 hal yang harus kita syukuri dengan format “Saya bersyukur hari ini masih … karena … terrima kasih 3x”. Contoh: “Saya bersyukur hari ini masih punya pulpen karena dengan pulpen saya bisa menulis. Terima kasih, terima kasih, terima kasih”. Dian sendiri telah membuktikan keajaiban dari menulis 10 hal yang harus kita syukuri ini loh, sobat millennials. Dari mulai kelucuan, kelancaran dalam segala urusan, dan masih banyak lagi.

Tunggu apa lagi? Yuk kita sama-sama accept challengenya Dian!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *