From Critical Commentaries To Concrete Solutions: Millennial Harus Kritis Dan Konstruktif

JAKARTA – RumahMillennials.com | Sobat millennials! Sabtu lalu telah diadakan Indonesia Millennial Summit 2019 di Hotel Kempinski. Pembicaranya adalah orang-orang keren yang telah berprestasi di bidang ataupun posisi yang digeluti. Penulis menghadiri salah satu panel eksplorasi yang berjudul From Critical Commentaries to Concrete Solution dan pembicaranya adalah Kepala Staf Presiden, Jenderal (Purn) Moeldoko, Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Jurnalis senior serta founder narasi TV, Najwa Shihab. Apa saja yang disampaikan oleh mereka?

Awal sesi ekplorasi ini teman-teman, dibuka dengan pertanyaan tentang prestasi pemerintahan selama 4 tahun. Hal ini dijawab dengan lugas dan penuh semangat oleh Pak Moeldoko. Beberapa poin penting yang beliau sampaikan adalah bahwa secara ekonomi, pencapaian pemerintah cukup bagus.

Dibuktikan dengan tingkat ekonomi yang masih diatas 5% ditengah ketidakstabilan ekonomi di era disruptif. Selain itu, gini ratio turun dari 0.41 ke 0.39 dan angka pengangguran yang menurun dari 10 juta ke 9 juta adalah pencapaian berikutnya. Beliau juga mengatakan indeks demokrasi Indonesia cukup baik.

Menteri ESDM kita Ignasius Jonan, memberitahu kita apa saja trik dalam keberhasilan negosiasi Freeport. Sebenarnya tidak ada trik khusus, dan memang pada pemerintahan sebelumnya sudah ada upaya untuk itu. Presiden pun, dalam perkataan Pak Menteri, tidak memiliki trik khusus dan hanya bersungguh-sungguh dalam bekerja dan bernegosiasi. Dengan sedikit candaan, beliau menegaskan kalau ada trik tidak akan berhasil.

Selain itu, ketika ditunjuk untuk menduduki posisi menteri beliau menekankan bahwa yang penting keberadaan kita bermanfaat bagi masyarakat, karena ini jabatan publik, berguna bagi bangsa dan negara.

Di sisi lain sobat millennial, ketika Najwa Shihab ditanya mengenai awal mula didirikannya Narasi TV, dia mengatakan bahwa dia tidak sendiri dan memiliki beberapa partner kerjasama yang satu visi dengannya.  Dia juga setuju kalau sekarang adalah era kolaborasi bukan kompetisi.

Menurutnya, dunia berubah dengan cepat dan jika tidak bisa beradaptasi, kita akan tertinggal. Ia mengutip satu quotes dari Benjamin Franklin yang berbunyi “If you stop changing, you finish”. Dia mencontohkan bagaimana pelukis Perancis yang digadang-gadang karyanya akan abadi namun setelah ditemukannya kamera, dia menurun.

Hal yang sama juga dengan mengkonsumsi media. Sebagai industri media, harus menyesuaikan dengan perubahan. Najwa memberitahu bahwa di era hoaks, skill yang dibutuhkan adalah memilah informasi, mana yang sampah, mana yang merupakan virus dusta dan mana yang merupakan informasi kredibel.

Oleh karena itu, anak muda harus punya pemikiran yang kritis dalam memilah mana yang penting, mana yang janji, mana yang retorika, mana yang punya rekam jejak untuk melaksanakan janjinya. Cara yang paling mudah menurutnya adalah dengan membaca, buat punya kedalaman imajinasi, keluasan hati, dan tidak gampang diprovokasi.

Ketika Pak Moeldoko dan Pak Jonan ditanya mengenai cara menangani kritik maupun hoaks, mereka memiliki jawabannya sendiri. Dari pihak KSP telah banyak mengundang influencer, blogger dan lainnya, mengumpulkan sekjen di kelembagaan untuk mendiskusikan perkembangan komunikasi saat ini dan mengumpulkan para humas seluruh Indonesia.

Sementara Pak Jonan mengatakan bahwa kritik yang konstruktif mungkin akan dipertimbangkan dan digunakan dan dia menghimbau untuk coba menyuarakan sesuatu secara konstruktif dan positif serta tidak mengandung pesimistis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *