4 Upaya Membuka Akses Pekerjaan Untuk Disabilitas di Era Millennials

4 Upaya Membuka Akses Pekerjaan Untuk Disabilitas di Era Millennials

JAKARTA – RumahMillennials.com | Zaman globalisasi atau era Millennials telah membawa perubahan yang sangat cepat dan signifikan dalam taraf kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut tidak semata-mata memandang golongan tertentu tapi menyeluruh mencakup lapisan masyarakat termasuk kaum disabilitas.

Disabilitas adalah keterbatasan diri (disability) yang bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, atau pengembangan dari kombinasi tersebut.

Di era millennials ini, perubahan dan persaingan dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang mendapatkan pekerjaan bukan suatu hal yang mudah bagi penyandang kaum disabilitas.
Beberapa faktor yang menjadi penghalangan, yaitu sebgai berikut:

Akses yang Terbatas
Untuk mendapatkan suatu pekerjaan, kaum difabel memiliki ruang gerak yang cukup terbatas. Dimana banyak perusahaan atau lembaga yang merekrut seorang pekerja sering menegaskan kritetria umum yaitu sehat jasmani dan rohani. Dengan syarat tersebut tentu secara tidak langsung menutup akses pekerjaan untuk penyandang disabilitas.

Fasilitas Yang Terbatas
Bukan hanya akses, fasilitas juga menjadi suatu faktor yang membuat perusahaan tidak dapat mempekerjakan kaum difabel. Sebagai contoh, perusahaan atau lembaga yang bekerja di bagunan bertingkat dan hanya memiliki eskalator atau tangga manual sehingga seorang difabel tidak bisa menjangkau karna harus menggunakan kursi roda. Untuk memfasilitasi itu, perusahaan tentu akan mengeluarkan anggaran. Pertimbangan keterbatasan fasilitas tersebut juga menjadi penghambat bagi difabel.

Lingkungan Yang Tidak Ramah Disabilitas
Lingkungan memang sangat memberi pengaruh yang luar biasa untuk kaum difabel. Di Indonesia masih banyak orang-orang yang mengganggap kaum disabilitas adalah orang-orang cacat dan tidak bisa bekerja. Lingkungan yang tidak mendukung akan membuat kaum difabel merasa terasing dan sebaliknya lingkungan yang memperlakuan kaum difabel dengan baik akan menjadi sangat bisa membawa perubahan budaya positif di dalam lingkungan pekerjaan.

Untuk mematahkan faktor-faktor diatas, di era millennials ini sudah tumbuh banyak komunitas dan platform yang memberi wadah atau akses yang membuka peluang bekerja dan berkarya bagi difabel. Lalu bagaimana membuka akses pekerjaan untuk disabilitas di era millennials ini?

1. Membuat Platform
Membuat platform sebagai salah satu solusi untuk memudahkan akses kaum difabel untuk bekerja.
Sebagai contoh adalah adalah Kerjadibilitas. Kerjadilitas ini merupakan subuah platfrom yang mempertemukan antara kaum difabel dengan perusahaan yang ingin memperkerjakan kaum difabel. Kaum difabel cukup mendaftarkan diri memberikan daftar riwayat hidup dan nnatinya kerjadibiltas akan mengkomunikasikan terkait kondisi dan fasilitas yang dibutuhkan olhe difabel didalam perusahaan tersebut.

2. Penyediaan Program Magang
Rekomendasi dari Surya Sahetapy selaku Aktivis Tuli, seorang difabel dapat mengikuti program inklusif melalui magang-trial dan acara. Ini akan sangat membantu untuk menyakinkan perusahan bahwa difabel mampu untuk bekerja.

3. Apresiasi Terhadap Perusahaan
Pemberian apresiasi kepada suatu perusahann yang mampu mempekerjakan dan memperlakukan baik kaum difabel akan membuat perusahan lain akan mencontoh hal yang sama. Dengan pemberian apresiasi ini akan memberikan reputasi yang baik dan nilai plus suatu perusahaan.

4. Mensosialisasikan Kuota Pekerjaan
Mungkin masih banyak yang tidak tau tentang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2016 yang mengatur hak-hak penyandang disabilitas dan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tetang implementasi UU tersebut, bahwa setiap perusahan yang memiliki jumlah pekerja lebih dari 20 orang maka wajib memiliki 1 persen pekerja difabel dari total seluruh karyawan yang dimiliki.
Dengan demikian hal ini perlu disosialisikan sehingga masyarakat dan setiap perusahan tau dan menjalankan aturan yang sudah ada sehingga penyandang disabilitas di Indonesia bisa menempati kuota tersebut dan tetap produktif. (dore)

Partnership Division di Rumah Millennials
Alumni Universitas Sriwijaya
Seorang Karyawan Swasta
Anggota Komunitas Mata Kita Region Jakarta
Travel blogger

Teacher Volunteer di Non Government Organization Global Peace Foundation Indonesia dalam bidang pengembangan masyarakat secara khusus anak-anak dalam pendidikan non formal Bahasa Inggris, juga menumbuhkan rasa kepercayaan diri anak-anak rusun bahwa mereka juga mampu bersaing dengan anak-anak yang sedang atau telah mendapatkan fasilitas dan pendidikan yang lebih baik.

Facilitator Volunteer di Wahana Visi Indonesia, yang bergerak dalam perlindungan anak-anak rusun terhadap kekerasan.

Sangat tertarik dengam issue kemanusiaan dan pengembangan masyarakat.
Menyukai dunia petualangan dan sangat bangga dengan alam Indonesia yang begitu indah.
Hobby mendaki gunung dan terlatih bernyanyi paduan suara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *