45 Prediksi Millennial Indonesia (2017)

45 Prediksi Millennial Indonesia (2017)

“….Kalau kamu bagian dari ‘millennial’….
Mempekerjakan ‘millennial’….
Bekerjasama dengan ‘millennial’….
dan bekerja menjadi tim dari atasan seorang ‘millennial’….”

Mungkin beberapa informasi dan prediksi dibawah ini akan berguna sebagai bahan mengenal millennials Indonesia lintas bidang, yuk disimak :
  1. Dominasi Pemuda/i Indonesia dengan Global Mindset dan paham ‘Glocalizations’ lintas sektor.
  2. Menguatnya ‘Self Personal Branding‘. Semakin banyak dan menjadi ‘trend’ pemuda/i Indonesia memiliki personal branding berdasarkan apa yang sedang dan telah dilakukan melalui karya atau output karya lainnya. ‘One Man One Brand‘!
  3. Digital Personal Branding menjadi sangat penting dikarenakan sebesar 70% HRD diIndonesia akan menggunakan Linkedln sebagai platform mencari millennials dengan kualitas terbaik sesuai kompetensi yang dicari oleh perusahaan. Membangun citra secara digital (digital branding) yang kuat sangat penting bagi professional millennial dalam mendapatkan karir idaman ‘dream job’. Saya prediksi dua tahun sejak 2017 akan terjadi peningkatan pada penggunaan Linkedln secara drastis oleh Millennial Indonesia. Perekrut kerja semakin aktif dalam melakukan sistem ‘jemput bola’ dan secara langsung mendatangi talenta terbaik (best talent) via kanal networking online (Facebook / Linkedln). Hal ini dikarenakan bahwa para headhunter percaya bahwa ‘citra/kesan/image’ yang dibangun oleh millennial professional didunia online ‘sama penting’nya dengan kesan didunia nyata.
  4. Struktur organisasi baik pemerintahan atau swasta akan semakin ramping, datar dan efisien. Otomatisasi mesin menggantikan tugas administratif yang berbasis sistem dan rutin. Selain itu pembagian tugas tidak selalu mengikuti sistem baku perusahaan. Millennial tipikal memiliki kecenderungan tidak mudah tunduk dan patuh terhadap garis instruksi. Millennials are less tolerant to hierarchies because they expect to work in a community and collaborate with peers. They like two ways communications and value feedback that will help them constantly improve.
  5. Selain e-commerce dan tranportasi online beberapa saat kedepan akan semakin boomingnya fenomena “learning digital platform” seperti video tutorial, webbinars, workshop dan kuliah jarak jauh . Transaksi keuangan dalam bidang pendidikan akan meningkat tajam seiring berkurangnya rutinitas jumlah siswa/mahasiswa yang hadir fisik didalam ruang kelas.
  6. Lebih percaya “user generated content” dibanding informasi yang bersifat searah. Integritas , reputasi dan kepercayaan millennial terhadap media mainstream akan semakin pudar dan tidak menjadi referensi akurat dalam penerimaan berita yang berimbang. Dampak dari peristiwa ini pada ‘tokoh’ & ‘influencer’ yang memiliki kredibilitas dan reputasi baik akan cenderung membuat ‘media penyampaian informasi’ sendiri.
  7. Bukan pekerjaan yang penting, tapi ‘perjalanan karir’ dalam hidup mereka…Millennial kurang begitu peduli terhadap masa pensiun, millennial memiliki jiwa produktivitas yang tinggi. Mereka memiliki keinginan untuk terus bekerja hingga 65-69, bahkan hingga tutup usia. Jadi istilah ‘kutu loncat’ bagi millennial tidak selalu bermakna negatif.
  8. Semakin banyak sekolah untuk menjadi orang tua yang efektif “parenting school“. Bagi ‘family millennial‘ menyaksikan proses tumbuh kembang anak menjadi perhatian khusus bagi mereka. Family millennial akan ‘berlomba-lomba’ menjadi orang tua yang keren bagi anak-anaknya.
  9. Semakin banyak Pemuda/i Indonesia dengan gelar akademik yang mumpuni. Pendidikan semakin merata serta semakin banyak anak muda memiliki keinginan untuk meraih gelar S3 sebelum usia 30 tahun. Tujuannya akhir akan mengarah meningkatknya jumlah pegawai negeri dan pejabat publik berkualitas yang berasal dari kalangan millennial.  Indonesian millennial will become the most educated generation!. 

  10. Banyak millennial yang memilih profesi/pekerjaan sebagai guru dan dosen diberbagai universitas negeri dan swasta di Indonesia. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah yang bersangkutan dalam menyambut gelombang millennial intelektual yang menjadi pangajar atau dosen. Dalam hal ini tentunya kebijakan harus semakin jelas dan transparan karena mengingat karakteristik millennial yang ingin kejelasan, kritis, transparan dan mengutaman kecepatan dalam proses pertukaran informasi dua arah.
  11. Tingkat kompetisi karya dan dampak Pemuda/i Indonesia semakin meningkat dan berwarna. Oleh karenanya semangat gotong royong dan kolaborasi harus menjadi dasar pemuda/i dalam bergerak menciptakan perubahan serta dampak. Pemuda yang memiliki ‘intention‘ (niat) dan didukung oleh ‘action‘ (tindakan) akan menjadi ‘pemenang’. Dibanding punya banyak niat namun berkarat karena tak ada semangat.
  12. Pola pendidikan yang lebih  pada ‘skill/competence based‘ sehingga proses transfer ilmu berjalan dengan baik dan efektif. Merasa aman bekerja ketika punya “keahlian” sesuai kebutuhan pasar. Mereka percaya bahwa ‘kesuksesan’ diranah profesional diraih oleh ‘keahlian/skill’ yang memadai bukan hanya koneksi yang tepat semata. (Lifetime Employability Oriented)
  13. Nilai keagamaan dikhawatirkan memudar dikarenakan lemahnya “self defense” pemuda/i terhadap pengaruh paham barat dan berbagai macam paham modern lainnya.
  14. Jumlah populasi millennial yang semakin membesar akan berdampak pada bonus demografi diberbagai sektor. Kemampuan mengelola ego, kerjasama tim, mendengarkan antar sesama dan kerendahan hati menjadi kunci harmonisasi ditempat kerja.
  15. KPI (Key Performance Indicator) dalam pekerjaan yang paling efektif bagi millennial saat ini dan masa depan adalah “orientasi pada hasil” dimana hal ini didukung oleh “kecerdasan sosial dan emosional” yang mumpuni.

  16. Tingkat kompetisi ditempat kerja berpotensi pada meningkatnya ‘gesekan’ antar millennials. Faktor ‘like‘ & ‘dislike‘ jadi faktor utama penyebabnya.
  17. Banyak dan semakin beragamnya kegiatan dan pilihan menghendaki kedewasaan dan kematangan millennials Indonesia dalam mengambil keputusan terbaik mengenai peran apa yang dijalani dalam hidupnya.
  18. Travel Bonus” menjadi salah satu pertimbangan millennials dalam memilih kesempatan pekerjaan yang ditawarkan.
  19. Bukan soal “millennial” atau bukan namun arah ‘pekerjaan masa depan’ berbicara tentang siapa yg bisa beradaptasi, menghasilkan karya yg konsisten dan produktif mereka yg akan bertahan.Selain itu bagi sebagian millennial membuat perbedaan positif dinilai lebih penting dibanding pengakuan professional. Mereka mengutaman unsur kebahagiaan diatas jabatan.
  20. Orang tua masa depan ialah mereka yang dapat menjadi mentor dan sahabat terbaik bagi anak-anaknya. A well adjusted parents will support a high quality millennials.

  21. Membuat dan menginisiasi suatu gerakan(movement), prakarya digital / non digital, komunitas atau organisasi tidak hanya fokus pada ‘sosok’ namun pada kualitas kepribadian/produk/fisik dan proses “regenerasi” yang dilakukan secara matang, baik dan benar.
  22. Grafik anak muda optimis dan bahagia di Indonesia  menduduki peringkat paling tinggi didunia. Namun dari sekian banyak millennial optimis, banyak juga yang gampang nyerah dan putus asa. Hal ini terjadi karena kegagalan dan ketidakmampuan millennial dalam mengelola ‘harapan’ x ‘kenyataan’ serta ‘peta realitas’ x ‘realitas’ yang sebenarnya. Over expectation – Under Delivered.
  23. Millennials memaknai “Pekerjaan” selayaknya sebuah “misi” yang ketika dituntaskan akan menghadirkan efek bahagia dan keren. Perusahaan wajib memiliki ‘KPI’ yg terukur, jelas dan transparan agar tidak menghadirkan konflik karena ketimpangan kompetensi antar millenniasl ditempat kerja.
  24. Perusahaan masa depan lebih memilih calon pemimpin muda yg berani mengalahkan kepentingan dirinya demi lingkungan sosial yang lebih luas. Pekerjaan bukan melulu soal ‘profit’ tapi ada aspek ‘social gain’. Millennial yg berjiwa sosial dan memegang teguh idealisme akan memiliki nilai tambah diperusahaan. Companies looking millennial that have a high rate of volunteerism and community service.
  25. Siapapun bisa menjadi apapun…kemanapun dengan cara apapun. Era dimana semuanya menjadi “MUNGKIN“. Buka pikiran dan perasaan jadilah ‘pemain dan pelaku’!
  26. Modal Intelektual menjadi aset paling berharga dibanding aset berwujud dan aset keuangan. Banyak konsep “Corporate University” bermunculan yang bertujuan untuk menjaga talenta dan bibit terbaik menjaga stabilitas perusahaan dimasa depan. Millennial wajib punya ‘growth mindset’ kalau mau bertahan.
  27. Berkomunitas, berjejaring dan beraktivitas secara komunal merupakan aktualisasi millennial sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup ‘life survival’ diera sosial.

  28. Masa depan eranya “pertarungan ideologi”, millennial yang tidak memiliki sikap tegas dan idealisme yang teguh akan jadi selalu dihantui ketidakpastian/kegalauan.
  29. Berlakunya dan semakin validnya “Chaos Theory“, dimana perubahan terjadi secara tidak linear, diskontinyu dan tidak bisa diramalkan. Tingkat stress millennials akan meningkat bagi yg tidak mampu mengatasi situasi ketika bangkit dari kegagalan. “High  quality millennials MUST learn how to cope with rejections or criticism.  
  30. Semakin banyak millennial yang kena sindrom gratifikasi instan (Instant Gratification Syndrome). Remember! There is no such thing like ‘immediate satisfaction’. It’s not about the ‘Summit’, the mountain is your battle ground! Be prepared!
  31. Semakin menjamurnya fenomena “Young On Top“, namun ‘siklus antar generasi’ berulang dimana hanya millennials yg punya mental “PEMIMPIN” yang akan lebih unggul dari mental seorang “PIMPINAN”. Jangan bangga kalau hanya bisa jadi pimpinan namun tak mampu memimpin, karena kepemimpinan efektif selalu berbicara soal “PENGARUH”. True meaning of youth leadership is “EARNED” not “GIVEN”.
  32. Kedepan para HRD / Head Hunter akan “kerepotan” dalam proses seleksi millennials pencari kerja. Kenapa? Karena dari sisi kompetensi millennials sangat kompetitif, sehingga proses seleksi yang benar” akuratlah yang akan mendapatkan milllennial terbaik untuk bekerja diperusahaannya. Belum lagi, CV millennial akan cenderung lebih tebal karena dibubuhi oleh pengalaman organisasi dan karya yang melimpah ketika mereka kuliah. Era saat ini yang memungkinkan banyak ruang aktualisasi bagi millennial sebelum mereka masuk kedunia profesional.
  33. Dibutuhkan sosok leader yang bisa “ngemong”, ‘millennials don’t want fun, they want you to lead better’, mereka butuh kepemimpinan yang lebih humanis. Millennial perlu diyakinkan bahwa pekerjaan yg ditawarkan memiliki tujuan tertentu. Motivate them & make their work more meaningful and challenging. Pemimpin efektif “dream boss” bagi millennial, ialah mereka yang punya “empati” dan “kepedulian”. Millennials need to be recognized and they are ‘craving for attention’. Make sure the company treat them very well! Millennials respect authority figures that “walk the talk”
  34. Kuliah keluar negeri bukan suatu hal yang istimewa lagi, karena hampir semua millennial dikota besar mendapat kesempatan belajar di luar negeri dengan mendapatkan berbagai macam jenis beasiswa pemerintah ataupun non pemerintah. Yang keren adalah ketika ilmu yg didapat dari luar negeri diaplikasikan dan berdampak sebagai solusi atas permasalahan yang terjadi dinegeri ini.
  35. Sudah menjadi tugas penyedia jasa pekerjaan/perusahaan untuk menjadikan kantor sebagai ‘rumah kedua’ bagi para millennial. Kantor keren versi millennial adalah dapat memberikan fasilitas dan memanjakan millennial seperti dirumah sendiri.
  36. Salah satu yang dicari dan harapan millennial ketika bekerja adalah terbukanya kesempatan untuk ketemu sosok2 hebat yang inspiratif. Millennial percaya dan menghendaki bahwa tabungan paling berharga adalah networking (berjejaring) dan memiliki inner circle yang saling memberdayakan.
  37. Inovasi karya yang keren ialah yang dapat menyelesaikan berbagai masalah yang ada dilingkungan sehari-hari. Segala suatu akan dipertanyakan “kenapa karya km perlu ada?”, dsb. So, just make sure that you always start with “why”, because millennials don’t accept just blindy, they demand logic or valid reasons. Know your ‘why’. Why are you doing the work that you do? What does it mean to you personally? Pikirkan jawabannya baik-baik dari sekarang!
  38. Terjadi transformasi besar pada infrastruktur seluruh sektor pariwisata di Indonesia. Saat melakukan travelling, millennial berharap dan mendambakan tingkat kenyamanan penginapan yang setara dengan dirumah.

  39. Ketika Liburan menjadi kebutuhan dan keharusan bagi millennial. Wisata lokal akan menjadi tren baru nan keren dikalangan millennial Indonesia. Mereka berlomba-lomba mengunjungi ke-34 provinsi yang ada direpublik ini dan menjadikannya menjadi salah satu bucketlist dlm hidupnya. Oleh karenanya, selain perusahan harus menyiapkan paket wisata yang menarik dan keren, sementara itu sektor pariwisata Indonesia harus segera berbenah karena ‘millennial’ Indonesia adalah humas terbaik bagi pariwisata Indonesia saat ini dan masa yang akan datang. Keliling Indonesia akan menjadi tren yang viral dan mendunia!
  40. Millennial akan lebih bersifat komunal. Setiap individu millennial akan tergabung didalam berbagai komunitas diwaktu yang bersamaan. Millennial tend to find their ‘tribe’..find other like-minded people who share with their passions, energy and enthusiasm.
  41. Status kemapanan millennial bukan hanya dilihat dari kepemilikan aset fisik (rumah, mobil dan tanah) namun bagaimana para millennial sukses membuat dampak langsung yang dapat dirasakan dilingkungannya masing-masing. Dana yang tadinya disiapkan untuk membeli mobil, akan didahulukan untuk modal bisnis dan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.
  42. Adanya MRT/LRT dan semakin terhubungnya transportasi Jakarta akan berdampak pada pola gaya hidup dan mobilitas millennial kelas urban. Akan hadir berbagai komunitas kecil yang dihasilkan dari interaksi antar millennial pengguna MRT & LRT.
  43. Pola pikir millennial akan semakin kritis dan tidak mudah dipengaruhi oleh berita dimedia online. Daya tahan dan literasi akan semakin kuat, berbagai pesan akan disaring baik” sehingga tombol ‘like’ & ‘share’ menjadi suatu keistimewaan sendiri.
  44. Sejak dulu pola interaksi dan penggunaan media komunikasi selalu ‘berulang’. Tidak ada yang baru kecuali hadirnya berbagai kecanggihan platform teknologi dan aplikasi seiring berjalannya waktu. Kemampuan komunikasi tertulis akan menjadi suatu “tolak ukur” utama dari peradaban komunikasi dan pertukaran informasi dizaman modern. Millennial WAJIB memiliki adab/etika komunikasi secara tertulis, entah via email/chat messanger/website/dsb. Kalau km ‘millennial’ MOHON PERHATIKAN cara dan etika kamu mengirimkan sebuah ‘pesan’, sesuaikan adab penggunaan bahasa baik yang disesuaikan dengan target komunikan yang dituju. In this era, your 1st written message is also your 1st impression. Jangan ragu dan pelit untuk bersopan santun via komunikasi tertulis. Kenapa? Karena km tidak akan pernah tau dampak dari tulisanmu sejauh apa. So, please noticed from now!
  45. ” Future Working” atau kantor masa depan tidak terlalu mempermasalahkan apakah kamu berasal dari generasi x/y/z/alpha. Mereka hanya akan menilai siapa yang bisa “berkontribusi maksimal”, “bekerja keras” dan “beradaptasi” dengan berbagai tantangan perusahaan/organisasi. “Siapa” akan kalah dengan “apa yang bisa dikerjakan dan dilakukan”. Tetap belajar dan injak bumi.
Ke-45 hal diatas merupakan pengamatan saya pribadi yang mungkin juga bisa keliru, namun setidaknya informasi diatas saya dapat dari berdasarkan apa yang saya amati sejak tahun 2010lalu dan proyeksikan dimasa yang akan datang. Semoga generasi millennial Indonesia menjadi tumpuan bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045 mendatang. Salam kolaborasi!
Author 
Taufan Akbari (@mrtaufanakbari) is an Educator and Youth Leadership Analyst . Recently, Taufan initiated ‘Rumah Millennials’ (@rumah.millennials) a youth platform (hub) –  to share, connect and inspire Indonesian youth. He is knowledgeable in performing as a producer, event planner, and also a public speaker and moderator at variety of events. His interest and passion is to empower Indonesian youth which encouraged him to always share and learn in order to keep share, teach, learn and update the knowledge.

1 Comment

  1. Apakah sudah ada riset tentang generasi milenial yg di publis di jurnal ilmiah ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *