Biar Mantap Dalam Berkomunikasi, Generasi Muda Harus Banyak Main Dan Piknik

Bekasi – RumahMillennials.com | Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda/i Indonesia wajib menguasai kemampuan berkomunikasi. Komunikasi yang sudah menjadi bagian dari hidup manusia sejak dahulu kala, terus mengalami perkembangan seiring dengan inovasi teknologi dan arus informasi yang lebih luas.

Jika generasi muda Indonesia ingin sukses dalam berkarya apapun bidangnya, dan mewujudkan cita – cita Indonesia Emas 2045, maka kuasai keterampilan komunikasi apapun bentuknya.

Dalam acara webinar “Gerenasi Muda Bisa Bicara”, yang diselenggarakan oleh Purna Paskibraka Indonesia Jakarta Pusat (PPI JP), Minggu 23 Agustus 2020, tiga narasumber telah dihadirkan untuk berbagi pengalaman, wawasan, dan sudut pandang terkait pentingnya komunikasi bagi generasi muda. Ketiga narasumber tersebut yakni Vivid F. Argarini (Praktisi Pendidikan & Komunikasi), Yuslihayanti (Presenter TV), dan saya sendiri Audi Rahmantio (Radio Announcer & Wakil Ketua Bidang Public Speaking Rumah Millennials).

Di era saat ini, komunikasi terbagi menjadi dua bentuk yakni verbal & non-verbal, serta online & tatap muka. Dalam komunikasi verbal, Yuslihayanti atau biasa disapa Iyus menekankan agar jangan pernah takut dan khawatir berkomunikasi dengan orang lain dan bertemanlah dengan semua kalangan. Dengan lebih banyak bertemu orang lain, kita bisa tahu bagaimana berkomunikasi dan beradaptasi dengan beragam latar belakang. Sehingga, kita terbiasa melatih diri untuk berkomunikasi dengan mantap dan mampu beradaptasi dengan tempat serta lingkungan kita berada agar tidak canggung.

Sependapat dengan Iyus, saya menyarankan agar generasi muda Indonesia mumpung masih muda banyak – banyak main, piknik, dan ngobrol dengan beragam orang baru dari latar belakang yang jauh berbeda dari kamu. Misalkan, latar belakang pendidikan dan pekerjaanmu ada bidang hukum, cobalah nongkrong bareng anak – anak street dancer atau content creator, lalu ngobrol santai saja tidak usah yang terlalu serius. Kalau perlu, kamu piknik alias jalan – jalan keliling Indonesia dan berinteraksilah dengan warga – warga lokal di setiap daerah yang kamu kunjungi.

Dengan begitu, kamu dapat memahami sudut pandang dan pola komunikasi dari orang – orang baru tersebut sehingga kamu sendiri akan lebih luwes dan mudah beradaptasi saat di setiap lingkungan.

Maka dari itu, Vivid mengingatkan agar jangan memandang diri kita sendiri rendah di hadapan orang lain. Setiap orang memiliki potensi dan kemampuan yang unik maka penting bagi kamu untuk memahami potensi diri sendiri. Dengan begitu, kharisma akan muncul secara natural sehingga kamu akan mendapatkan respek dari orang – orang sekitar.

Untuk komunikasi non-verbal, saya dan Vivid sepakat bahwa menulis itu adalah bentuk ekspresi diri untuk menuangkan isi hati dan pikiran dalam menyampaikan pesan, serta punya fungsi untuk melatih kepercayaan diri. Memulai menulis bisa dengan melihat benda – benda sekitar kamu, misalnya kamu melihat smartphone milikmu, coba kamu tulis smartphone kamu itu bentuknya seperti apa, fungsinya apa, di dalamnya ada aplikasi apa saja, dsb.

Kamu juga bisa mulai latihan menulis dengan menulis buku harian, sehingga kamu akan terbiasa menuangkan isi hati dan pikiranmu dalam menulis. Untuk melatih kemampuan menulis lebih lanjut seperti jurnalistik, kamu bisa mengambil kelas jurnalistik baik offline maupun online, atau mulai dengan membuat blog pribadi lalu promosikan di media sosial. Hal – hal simpel seperti bisa kamu mulai kapan saja, dan ini akan membantu kamu melatih kemampuan menulis.

Dalam hal komunikasi online terutama sebagai pemuda bagaimana berperan dalam memerangi hoax, Iyus mengingatkan bahwa setiap dari kita bisa menjadi pelaku hoax di media sosial jika memposting sesuatu tanpa mencari data yang lebih valid.

Hal ini dikarenakan manusia cenderung percaya dengan apa yang terlihat di mata dan dari luarnya saja, terlebih lagi jika pemberitaan tersebut sensasional, mengundang kontroversi, dan negatif. Selain mencari data yang lebih valid, kalau perlu tanya langsung sama narasumber yang menjadi objek berita tersebut, atau paling tidak tanyakan orang – orang yang bisa dipercaya untuk memastikan berita tersebut benar atau tidak.

Sejalan dengan Iyus, Vivid mengatakan generasi muda harus lebih cerdas dalam mencerna informasi. Berpikir dulu sebelum repost atau forward berita di media sosial, lalu kaji lagi apapun informasi yang kita dapatkan.

Saya menambahkan, jangan hanya lihat judul atau caption yang terlalu sensasional seperti penulisan yang semuanya huruf kapital atau link berita yang sumbernya bukan media yang valid. Gali lagi data dari berbagai sumber, lalu saring dulu sebelum sharing. Ingat, tidak semua berita harus di share, pikirkan juga dampak apa yang dihasilkan dari share berita tersebut dan mengapa orang – orang harus tahu informasi tersebut.

Terakhir, dalam berkomunikasi memiliki sikap yang baik dan selalu rendah hati itu sangat penting. Seperti Vivid dan Iyus, yang keduanya sudah lebih senior dan punya banyak pengalaman, namun tetap rendah hati dalam berkomunikasi dengan menunjukan bahwa mereka berdua bukan yang paling pintar atau paling benar, dan selalu ingin belajar hal – hal baru dari siapapun.

Sikap seperti ini harus diteladani bagi generasi muda Indonesia! Jangan hanya karena berprestasi, memiliki gelar, sudah baca buku – buku, atau rajin ikut seminar, merasa paling pintar dan paling benar dalam menyampaikan opini. Tetap rendah hati dan hargai setiap orang yang memiliki itikad baik dalam berkomunikasi dengan kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *