Dalam Bekarya, Passion Bukanlah Hal Terpenting!

Bekasi – RumahMillennials.com | Passion! Satu kata ini sejak masuk era tahun 2010-an, dimana perkembangan dunia digital meningkat pesat dan pekerjaan baru terus bermunculan, kata “passion” jadi satu hal yang sexy untuk dibahas.

Banyak sekali narasi – narasi mengenai passion yang sering dibahas di seminar – seminar atau buku – buku pengembangan diri. Narasi yang cukup umum, kurang lebih seperti ini:

Do what you love, love what you do

Passion itu sesuatu yang dimana saat kamu lakukan, kamu benar – benar mencintai dan menyukai hal itu. Temukan passionmu selagi masih muda”

Akhirnya banyak sekali generasi muda dari kalangan millennal dan gen z, berusaha mencari – cari apa passion mereka. Konflik batin kerap terjadi karena aktivitas berupa pekerjaan maupun kuliah, sering dirasa kurang sesuai dengan passion sehingga lebih condong berpikir untuk berhenti saja dan melakukan apa yang dicintai.

Masalahnya, memang passion itu sebenarnya benda apa? Apakah genrasi muda Indonesia cukup memahami apa itu passion? Apakah berkarya itu perlu banget yang namanya passion? Terus, memangnya passion itu bisa ketemu begitu saja katakanlah dalam 10 tahun di umur 20-an, lalu settle saat sudah berumur 30-an?

Agar kamu tidak salah kaprah memahami soal passion, Rumah Millennials telah mendatangkan tiga narasumber yang inspiratif untuk berbagi soal passion di sesi webinar “Berkarya” dengan tema “I Was Born To Create“, dalam rangkaian webinar B3Fest untuk merayakan tiga tahun berdirinya Rumah Millennials.

Ketiga narasumber tersebut terdiri dari pemuda/i yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam berkarya di bidangnya masing – masing. Ada Dea Salsabila Amira (Founder Rentique & Ketua Bidang Fashion Rumah Millennials), M Ario Adimas (Vice President Marketing Loket.com & Board of Advisor Rumah Millennials), dan Ari Juliano (Staf Ahli Reformasi Birokrasi & Regulasi Kemenparekraf). Sesi kali ini dimoderatori oleh Karina Soerja, Radio Announcer Mustang FM 88.0 & Ketua Bidang Seni & Tari Rumah Millennials.

Menurut Ario Adimas, banyak anak muda yang salah memahami passion sehingga cenderung mengagungkan passion itu sendiri. Terutama ketika lulus kuliah, fresh graduate dihadapkan dengan dua saran yang bertolak belakang seperti:

“Jangan mau kerja ama orang, mumpung masih muda kamu bikin bisnis supaya kamu bisa meng-explore diri kamu lebih dalam dan punya penghasilan besar”

“Kerja dulu sama orang, belajar yang banyak sama mereka baru setelah itu kamu mungkin bisa mendirikan bisnis sendiri”

Pada akhirnya seakan – akan semua orang harus jadi entrepreneur untuk memiliki penghasilan dan kehidupan yang lebih baik dan sustainable. Tetapi, tidak semua orang passionate untuk menjadi seorang pebisnis, dan itu tidak apa – apa.

Menurut Ario, passion itu bukan kamu yang memilih, tapi passion-lah yang akan memilih kamu setelah kamu menjalankan berbagai aktivitas, yang mungkin awalnya bisa jadi kamu gak menyukai hal itu. Setelah banyak melakukan aktivitas, nanti hati kamu dengan sendirinya akan condong pada satu hal maka dari itu ada baiknya kamu ikuti banyak kegiatan.

Karya itu tidak perlu dipaksa kehadirannya, karena terkadang orang punya perbedaan dalam mengartikan sebuah karya. Saat punya karya sendiri, pastikan kamu bisa memberikannya di momen dan orang yang tepat. Untuk itu Ario menekankan pentingnya karakter yang kuat saat berkarya.

Bicara soal passion dan menjadi pebisnis, Dea Salsabila Amira salah satu pemudi yang sebenarnya sudah tahu bahwa dia sangat passionate terhadap bisnis. Namun, dia merasa tidak cukup hanya dengan bisnis yang profitable, maka dia tinggalkan bisnis pertamanya meskipun sudah menghasilkan banyak uang baginya. Dea ikut program diplomat muda dari PBB dan berkesempatan untuk berpidato mengenai climate change di kantor PBB di Geneva, Swiss. Dari situlah, Dea menemukan bahwa passion-nya adalah memberikan dampak.

Dari situlah akhirnya Dea mendirikan Ur-Farm untuk memberdayakan petani – petani kopi di Indonesia. Bisnis Ur-Farm meningkat cukup baik, tetapi lagi – lagi Dea merasa tidak cukup hanya dengan mendirikan bisnis sosial. Akhirnya dia kembali menjalani pekerjaan lain dengan bekerja untuk Jakarta Smart City dan menjadi konsultan di perusahaan keuangan.

Namun pada akhirnya, Dea memang punya jiwa bisnis yang lebih tinggi dan kembali mendirikan startup bernama Rentique, dimana para wanita bisa menyewa baju untuk berbagai kebutuhan. Dari semua itu, Dea belajar bahwa creative thinking penting dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. Dia pun berpindah – pindah haluan untuk mempertajam mentalnya dalam membuat dampak positif, sesuai dengan passion-nya.

Melihat karir hanya berdasarkan passion saja tidaklah cukup. Ari Juliano mengatakan bahwa kita harus melihat dunia profesi dan karir secara global, tidak bisa hanya di Indonesia saja. Berdasarkan data dari World Economic Forum, di 2030 nanti ada sekitar 400 juta pekerja di dunia yang kehilangan pekerjaan karena otomatisasi. Hanya pekerjaan yang menuntut kecerdasan emosi dan kreativitas yang akan mampu bertahan dari otomatisasi.

Dalam kasus Indonesia, kreativitas orang Indonesia sebenarnya sudaha diakui oleh banyak pihak di berbagai industri di dunia. Misalnya industri musik, Rich Brian dan Weird Genius poster mereka sudah muncul di Times Square, New York.

Jadi bagi kamu sobat millennials, passion bukanlah segalanya, dan hidup itu tidak linier. Kamu terkadang akan menjalani fase yang berbelok – belok, “berdarah – darah”, namun jika kamu melakukannya dengan ketekunan dan totalitas, passion itu akan memilih kamu nantinya. Dari situlah, karaktermu menjadi lebih kuat dalam berkarya dan membuat dampak yang lebih positf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *