Melalui Diskusi Virtual, Asosiasi Alumni MSU Membahas Covid-19 Dan Dampak Ekonominya

Jakarta – RumahMillennials.com | Halo, Sobat millennials! Kita sangat paham kalau Covid-19 berdampak pada semuanya dan multi-sektor. Kita masih belum tahu kapan ini akan selesai lalu, bagaimana sih pencegahannya dan potensi dampak perekonomian bagi bangsa? Atas latar belakang ini, Asosiasi Alumni Michigan State University mengadakan diskusi yang membahas tentang covid-19 dan dampaknya bagi perekonomian Indonesia.

Satya Hangga Yudha Widya Putra, Presiden Asosiasi dan juga ketua bidang ESDM Rumah Millennials, dilansir dari suara banyu urip, berkata bahwa ada dua tujuan besar dari diskusi ini: “Tujuan acara ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam upaya pencegahan dan penanggulangan COVID-19, serta menganalisa dampak pandemi COVID-19 dalam perspektif pembangunan ekonomi Indonesia”.

Diskusi ini dibagi jadi dua sesi. Sesi pertama mengajak para peserta untuk mengenal lebih jauh pandemi covid-19. Sesi ini diisi oleh Profesor Siddhart Chandra, B.A.,A.M. selaku Profesor di James Madison College MSU dan juga ketua pusat studi kajian Asia, Guru besar FKH UGM Prof. Dr. Hastari Wuryastuti,M.Sc, CEO Unlimited Media Partner, Indra Jaya Sihombing. Moderator dalam sesi ini ialah Dr. Dwi A. Yuliantoro, S.Pd. (B.A.), MA, direktur sekolah pengembangan, dirjen pradipta dirgantara.

Dalam sesi pertama, Profesor Siddharth berkata kalau ada pelajaran dari kasus pandemik influenza di Jawa dan Madura 1918-1919. Pemerintah Belanda pada waktu itu mencatat korban kasus flu ini sebesar 1,2 juta. Tapi, berdasarkan prediksi ilmiah, jumlahnya mencapai lebih dari 3 juta orang. Dahulu, praktek pelaporan berdasarkan ASN (Asal Negara Senang) marak dijumpai. Namun, di zaman kemerdekaan saat ini, upaya menutupi hal semacam itu sangat berbahaya.

Profesor Wuryastuti lebih berbicara soal pencegahan covid-19. Pencegahan lebih baik dari pengobatan dan pemerintah telah menerapkan kebijakan social distancing. Semua pencegahan ini bergantung pada kedisiplinan masyarakat itu sendiri. Tapi, sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang memahami soal ini.

CEO Unlimited Media Partner, Indra Jaya lebih memandang bagaimana keputusan cepat yang diambil tim medis dapat berpengaruh terdapat peluang kesembuhan pasien. Indra pun juga mengajak partisipan untuk mengambil pelajaran dari tim medis yang mempraktekkan prinsip dasar kemanusiaan. “Jadi siapapun yang menderita penyakit ini harus dirawat dan ditangani dengan baik, tidak ada penolakan, tidak ada perbedaan, semua sama semua setara,” jelasnya kepada partisipan.

Memasuki sesi kedua, sesi ini membahas prediksi dampak covid-19 terhadap perekonomian nasional dan masyarakat di pedesaan. Sesi ini diisi oleh para praktisi seperti Dr. Ir. Pos M. Hutabarat yang juga Dirjen Perdagangan Internasional dan Kerjasama Industri Kementerian Perindustrian periode 2002-2003, sekaligus Ketua Trade Management Development Indonesia. Hadir juga di sesi ini, staf khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Dodik Pranata Wijaya, S.H.,LL.M. Terakhir, ada Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian periode 1998-2003 dan Ketua Gabungan Asosiasi Perkebunan Indonesia. Melina Gabriella, A.A., B.A., M.IDEC peneliti ekonomi pembangunan IESR menjadi moderator dalam sesi ini.

Mantan Dirjen Perdagangan Internasional dan Kerjasama industri ini mengatakan bahwa sektor perekonomian dan perdagangan Indonesia akan mengalami perlambatan drastis. Pemerintah juga harus berperan aktif menyikapi hal tersebut dan setelah selesai pandemi, pemerintah harus segera mendorong sektor pertanian, perhubungan, dan industri. Dia juga mengatakan berdasarkan laporan WTO, mereka memprediksi ekonomi dunia akan turun 36% pada tahun 2020.

Dodik Pranata Wijaya lebih berbicara soal upaya penanganan desa. Dia memberitahukan bahwa Kementerian Desa punya banyak jaminan sosial dan program-program lainnya untuk membantu masyarakat. Tapi, katanya, seluruh desa harus memprioritaskan program padat karya tunai. Program padat karya tunai merupakan upaya pemerintah untuk memberdayakan para penduduk desa untuk memberikan tambahan upah/pendapatan serta meningkatkan jual beli.

Terakhir, Agus Pakpahan memberikan perspektif tentang cara kerja imunitas. Ada perspektif umum yang mengatakan kalau negara maju jauh lebih sehat dan kuat (imunitas). Padahal, banyak riset yang mengatakan kalau imunitas dipengaruh oleh konsumsi makanan. Selain itu, negara maju jauh lebih rentan untuk terkena covid-19 dilihat dari jumlah korban yang meninggal.     

Hasil diskusi ini, Hangga mengatakan, akan digunakan sebagai rekomendasi bagi pemerintah dan masyarakat umum untuk meningkatkan kewaspadaan soal covid-19 ini dan apa yang perlu dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *