Tika Savitri Pandanwangi, Millennial Yang Berdedikasi Secara Tulus Dalam Disaster Management

Jakarta – RumahMillennials.com | Ketika kamu memilih jalur pekerjaan yang akan menjadi jenjang karirmu, apa yang kamu pertimbangin? Gaji, pasti dong ya kan hidup butuh cuan. Apalagi? Kesempatan naik level, ya kali masa mau di level junior mulu. Atau, kesempatan belajar yang luas? Ya lah, millennial ngeliat kerjaan itu kayak sekolah terbuka yang banyak prakteknya.

Coba sob, biasanya nih kalo denger kata ‘millennial’ atau ‘pemuda zaman now’ kira – kira mereka tuh kerja di bidang apa sih? Kalo dari penelitian yang saya lakukan lewat mbah Google dan tanya – tanya orang sekitar, banyakan mereka tuh yang kerja di bidang content creator, digital startup, karyawan startup unicorn, pekerja kreatif, agency, digital marketing, social entrepreneur, BUMN, perusahaan korporasi swasta yang besar, dsb. Terus kantornya tuh di daerah – daerah perkantoran Jakarta atau yang kerjanya di co-working space. Millennial banget, kan ya?

Tapi, gimana kalo disaster management atau penanggulangan bencana? Ada kah millennial yang mau berkarir di bidang ini? Ada dong! Kalo gak ada, ambyar Indonesia secara negeri kita ini ada di daerah ring of fire yang memiliki banyak gunung berapi, negara kepulauan yang rentan bencana, bahkan ibu kotanya aja berapa kali kena banjir. Kalo gak ada yang sosialisasi, advokasi, dan edukasi dengan cara – cara kekinian yang biasa dilakukan millennial, gimana kamu mau nyiapin biar meminimalisir dampak bencana kalau sewaktu – waktu terjadi sama kamu?

Untuk itulah, sosok ini mengambil peran untuk menanggulangi bencana lewat berbagai kegiatan. Inilah dia Tika Savitri Pandanwangi, Ketua Penanggulangan Bencana Alam Rumah Millennials dan Program Manajer PREDIKT, sebuah startup yang membuat board games untuk mengedukasi anak – anak bersama keluarga soal kebencanaan.

Ketertarikan Tika akan manajemen bencana berawal saat dia melihat tsunami yang melanda Aceh 2004 lalu, dimana belum ada BNPB dan banyak lembaga – lembaga international termasuk PBB turut serta membantu menanggulangi bencana. Saat itu, Tika sebenarnya tertarik untuk bekerja di lembaga international seperti PBB tapi belum tahu bidangnya apa. Akhirnya dia mengambil jurusan komunikasi masa di London School of Public Relation (LSPR).

Setelah lulus, sempat bekerja sebagai education consultant selama tiga tahun dua bulan, lalu memutuskan resign karena ingin memenuhi keinginannya untuk sekolah lagi dan mencoba peruntungan mencari kerja di lembaga international. Saat mencari informasi soal kuliah S2, temannya Tika memberi tahu kalau Kementerian Pertahanan sedang membuka beasiswa di Universitas Pertahanan untuk program S2. Disana ada jurusan disaster management for national security. Tika melihat dia bisa mendapatkan dua ilmu yakni manajemen bencana dan pertahanan. Akhirnya Tika mengambil kesempatan tersebut, dan dari sinilah langkahnya di bidang kebencanaan dimulai.

Akan tetapi, namanya juga anak muda pasti ada saatnya galau dan melihat orang lain yang sepertinya ‘rumputnya’ lebih hijau dibandingkan kita. Tika sempat galau dan diskusi dengan salah satu kolonel yang juga dosen bahwa sepertinya dia salah jurusan. Kolonel itu memberikan pesan pada Tika agar tetap belajar, ketika ditempatkan oleh Tuhan pada suatu posisi, maka pelajarilah sebaik – baiknya. Pesan ini dipegang betul oleh Tika, dan menanamkan pola pikir bahwa ini posisi yang Tuhan berikan padanya maka harus dijalani secara serius.

Tika sempat menjadi pegawai honorer di BNPB. “Udah lulus S2, dulu ambil S1 juga bidang komunikasi, kenapa juga Tika mau jadi honorer?” Itulah pertanyaan yang sering Tika dapatkan ketika mengambil keputusan ini. Dosen – dosen Tika memberi wejangan berharga dalam hal ini “jangan liat nominalnya! Jangan lihat pekerjaan dari angka, tapi apa yang kamu pelajari dan dapatkan”. Pesan ini menguatkan diri Tika untuk mengawali karir di bidang kebencanaan dari level paling bawah, karena jika terus – terusan dengerin apa kata orang lain, terjebak oleh rasa insecure karena melihat teman – teman yang karirnya dan gajinya sudah lebih baik, itu tidak akan ada habisnya.

Dari BNPB, Tika akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja di lembaga international yakni di ASEAN Secretariat selama tiga tahun setengah untuk menangani bagian disaster management and humanitarian assitance. Disini, Tika sebenarnya turut berdiplomasi tapi di bidang kebencanaan, karena hampi sebagian besar pekerjaannya dia harus bertemu dengan berbagai pihak terkait manajemen kebencanaan.

Setelah dari ASEAN Secretariat, Tika saat ini bekerja untuk start-up yang didirkan oleh tiga temannya bernama PREDIKT (Prepareness for Disaster Toolkit) yang tujuannya mengomunikasikan edukasi bencana lewat cara yang asik seperti membuat board game tentang kebencanaan untuk anak – anak yang bisa dimainkan bersama keluarga dan teman – temannya.

Berkarir di bidang kebencanaan sebenarnya adalah jalan yang penuh resiko dengan taruhan nyawa. Bagaimana tidak? Tika harus datang ke lokasi bencana setelah peristiwa terjadi, seperti ke Halmahera dimana setelah gempa Tika langsung datang ke sana dan masih terus terasa gempanya. Tika juga pernah ke wilayah Sinabung, Sumatera Utara setelah gunung meletus, dan dia melihat sendiri batu – batu kecil hasil semburan dari gunung, dan melihat jalur lahar dingin. Tidak hanya itu, pulau – pulau kecil di penjuru negeri, untuk menuju kesana ombaknya tak jarang ganas. Tapi ketika sudah menjadi passion dan keinginan untuk memberikan bantuan sudah terlalu besar, bahayapun tak menjadi penghalang karena dimanapun kita berada, bahaya bisa saja datang. Seperti, siapa yang menyangka tsunami melanda wilayah Banten akhir 2018 lalu atau awal tahun 2020 Jakarta dan sekitarnya tenggelam oleh banjir?

Selain tantangan dari alam, Tika bisa menjadi sosok yang tangguh seperti sekarang ini karena dia sudah melewati berbagai fase hidup, yang bisa saja menjatuhkan dirinya. Seperti saat dia berada di lingkungan yang salah, dan orang – orang sekitarnya banyak mengatakan hal negatif, tentu sadar tidak sadar itu akan masuk dalam alam bawah sadar. Misalnya, kamu dibilang bodoh oleh orang lain, kalau dibilangin begitu terus-menerus alam bawah sadarmu akan ‘iya ya, gw bodoh banget ya’. Itu yang dialami Tika, sehingga membuat self-confidence Tika berada di titik paling bawah bahkan merasa gagal terhadap dirinya sendiri. Bagi yang mengenal Tika, terjadi perubahan negatif pada dirinya karena dia lebih sering emosian dan mengeluh akan keadaan.

Namun, inilah pentingnya support system dan dukungan orang – orang terdekat. Tika diingatkan lagi apakah yang ia jalanin worth it atau gak, dan coba untuk bersyukur dengan apa sudah dimiliki selama ini. Tika berusaha untuk berhenti merasa rapuh dan belajar menerima rasanya direndahkan oleh orang lain, dianggap tidak mampu, sehingga di pekerjaan selanjutnya bisa lebih menghargai orang lain. Tika merasa kalau memang Tuhan memberikan situasi ini padanya, maka dia harus belajar menghadapinya bukan mengeluhkannya. Tanpa menghargai proses dan perjuangan, seseorang tidak bisa mencapai kesuksesan dalam hidup.

Jadi sobat millennials, apakah dirimu juga pernah ada disituasi seperti Tika? Tenang aja, kamu gak sendiri karena Tika pernah menghadapinya dan dia berhasil melewatinya untuk bangkit kembali lalu menjadi wanita yang lebih kuat. Kamu pun bisa. Kalau kamu merasa apa yang kamu pilih ini jalan yang benar atau tidak, kamu bisa belajar dari cerita Tika yang meyakinkan diri bahwa langkah yang ia ambil merupakan hal yang tepat. Jika kamu merasa ada panggilan dalam dirimu, seberapapun capeknya pasti kamu kuat – kuat aja kok ngejalaninnya.

3 Comments

  1. Selamat Tika untuk perjalanan karir yang terus maju. Masih teringat saat kita berdiskusi di Unhan dulu. Akhirnya komitmenmu yg kuat telah mengantarkan dirimu sukses dalam banyak hal. Teruslah berkarya.

    1. Terimakasih banyak atas segala bimbingan dan supportnya Pak Rujito, thank you for believing in my dreams. It’s something that I will never forget!

  2. Semoga jadi teladan buat generasi millennial, terus berkarya Tika!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *