Citra Natasya, Berdiplomasi Dengan Memadukan Seni Budaya Indonesia Dan Modern

Jakarta – RumahMillennials.com| Sobat millennials, apa yang keluar di kepalamu saat mendengar kata ‘seni budaya Indonesia’? Mungkin, kamu akan langsung kepikiran batik, tari ratoh jaroe, gamelan, dsb. Nah sekarang, berapa dari kamu yang pernah atau suka menampilkan seni budaya Indonesia?

Dari sekian banyak pemuda/I yang saya temui, tidak banyak yang pernah atau passionate dalam menampilkan seni budaya Indonesia. Bahkan, ada yang gak tahu kalau tari saman yang selama ini kamu kenal di ekstrakurikuler sekolahmu itu, nama aslinya ada Ratoh Jaroe atau Ratoh Doek. Parahnya lagi nih sob, ada yang gak hapal letak geografis Indonesia seperti di Sulawesi ada provinsi apa saja, atau lokasi Lampung dan Riau itu di sebelah mananya Sumatera.

Suka atau tidak suka, itulah kondisi generasi millennial dan z saat ini. Waktu akhir 1990-an hingga tengah 2000-an, anak – anak muda lagi suka – sukanya budaya barat dengan MTV yang bisa ditonton secara gratis on air di TV nasional. Tengah 2000-an sampai awal – awal 2010-an, budaya Jepang lewat anime dan cosplay lagi ngetren pada saat itu, dan awal 2010-an hingga sekarang anak – anak remaja lagi tergila – gila dengan K-Pop seiring bersinarnya BTS dan Blackpink.

Jadi, dimana ruang untuk seni budaya Indonesia? Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemuda/I Indonesia zaman now agar menjaga budaya Indonesia jangan sampai hilang dari karakter bangsa. Salah satu anak muda Indonesia yang tetap menjaga passion akan seni budaya meskipun sudah bekerja dan berkeluarga, adalah Citra Natasya. Citra merupakan Ketua Bidang Pelestarian Budaya dan salah satu pengurus CIOFF (International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts) partner resmi dari UNESCO, dan Founder House of Perempuan.

Sejak kecil, Citra sudah mulai belajar menari tapi baru mendalami tarian Indonesia saat SMA ketika bergabung ekskul tari Ratoh Jaroe. Saat itu, dia ikut misi budaya keluar negeri, tepatnya ke Turki untuk mengikuti kompetisi dan mendapatkan juara dua. Dari momen ini, Citra diajak untuk bergabung CIOFF yang kegiatannya mengadakan acara – acara festival budaya untuk mempromosikan seni budaya baik di dalam dan di luar negeri.

Dengan berada di CIOFF, Citra semakin mendalami seni budaya Indonesia terutama seni tarian dengan mempelajari pakem – pakem tarian dari berbaga daerah. Untuk informasi, pakem tarian setiap daerah itu berbeda – beda, misalnya tarian Bali lebih mengandalkan teknik olah tubuh kaku dan ekspresi, beda dengan pakem tarian Betawi yang lebih mengandalkan kelincahan dan kelenturan tubuh. Jadi, untuk mempelajari satu pakem tarian ke yang lain tidak mudah karena badan yang biasa belajar dan menarikan tarian Bali, tiba – tiba harus menyesuaikan dengan tarian Betawi itu harus kembali beradaptasi.

Selama ini, Citra sudah sering tampil sebagai penari tarian tradisional baik di dalam maupun luar negeri. Momen – momen terbaiknya ada pada saat menarikan tari Ratoh Jaroe di Polandia, dia bersama tim mendapatkan standing ovation yang berarti mereka harus tampil sekali lagi untuk menghibur penonton. Pernah juga Citra bersama timnya memadukan lagu Korea Selatan Oppa Gangnam Style dengan tarian Indonesia saat acara penutupan festival budaya dari 56 negara di Korea Selatan. Cukup unik ya, karena ritme lagu Gangnam Style yang khas K-Pop bisa ditarikan dengan tarian Indonesia.

Dari pengalamannya menarikan tarian Indonesia, Citra mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga. Misalnya, bentuk ragam, kepadatan koreografi, dan filosofi tarian Indonesia itu sangat unik, karena setiap tarian mencerminkan suatu budaya dan momentum di masyarakat, misalnya ada tarian yang menggambarkan keceriaan saat hari pernikahan, ada yang menceritakan bagaimana petani memanen, ada juga tarian dengan suasana sedih saat momen kematian. Maka dari itu, penjiwaan melalui ekspresi dan gerakan tubuh sangatlah penting agar penonton dapat merasakan energi dan perasaan yang sedang ditampilkan.

Bagi Citra, penari tradisional Indonesia itu gabungan antara pemain drama dan musikal, karena bercerita lewat gerakan tubuh dan ekspresi. Terutama saat tampil di luar negeri, penonton mendapatkan rasa dari penampilan tarian tersebut, sehingga sering kali mendapatkan apresiasi lebih sampai mereka bertepuk tangan sambil berdiri atau standing ovation. Disitu, Citra merasa bangga dengan menunjukan jati diri budaya Indonesia terutama sebagai generasi muda.

Namun sayang, di dalam negeri seni budaya masih dianggap sebagai sekedar penghibur atau pengisi acara atau hanya kegiatan sampingan seperti ekstrakurikuler. Menurut Citra, generasi millennial dan z bukan berarti lupa dengan seni budaya, hanya saja kadang merasa ada bagian yang kuno, gak kekinian, dan malu. Terlebih lagi, kemasan dan cara menampilkan budaya Indonesia itu dirasa kurang sexy untuk anak – anak muda zaman sekarang sehingga kurang diminati. Ditambah lagi, terlihat ada jarak antara pelaku seni budaya dengan budaya modern yang dimiliki oleh millennial dan z. Pernah suatu hari Citra mengadakan workshop soal tari Nandak Ganjen asal Betawi tapi dengan pembawaan yang lebih modern dan gerakannya sedikit dimodifikasi agar mudah dipeajari. Namun, dia dikritik oleh pelaku seni budaya karena tidak melibatkan mereka dan gerakannya diubah – ubah.

Padahal, dalam budaya Indonesia kita punya filosofi gotong royong atau bahasan kekiniannya ‘kolaborasi’, yang seharusnya juga bisa diterapkan dalam melestarikan budaya Indonesia. Jika sesama pelaku budaya, pemuda/I, dan seluruh lapisan masyarakat mau bahu-membahu melestarikan budaya Indonesia dengan melakukan beberapa penyesuaian dengan budaya modern, maka budaya Indonesia sudah bisa menembus dunia.

Menurut Citra, budaya bisa digunakan untuk berdiplomasi dengan negara lain, bahkan menciptakan tren di suatu negara seperti Korea Selatan dengan K-Pop dan Jepang dengan anime, J-pop, dan cosplay. Jika millennial dan z menggunakan potensi dan skill untuk berinovasi dalam melestarikan budaya Indonesia di berbagai bidang, maka kemasan budaya Indonesia akan lebih mudah menyesuaikan dengan perkembangan zaman sehingga tidak tenggelam.

Sebagai orang yang juga pernah menampilkan seni budaya Indonesia di luar negeri dan sampai sekarang masih rutin latihan nari, saya paham betul keresahan yang dirasakan Citra saat tahu kalau kita tampil di luar negeri seperti superstar tapi di Indonesia hanya dipandang sebelah mata. Lalu, melihat tembok pemisah antara sesama pelaku seni budaya, dan generasi muda saat ini bisa – bisa seni budaya Indonesia benar – benar tenggelam oleh zaman.

Indonesia menjadi unik karena keberagaman budayanya. Inilah yang dimiliki oleh kita dan karena dengan budayalah masyarakat Indonesia dihargai dan mendapat respek dari masyarakat international. Saya yang juga pernah tinggal di Jepang selama 4 tahun melihat betul bagaimana masyarakat Jepang sangat menyukai orang – orang Indonesia karena keremahan dan mudah diajak bergaul. Mereka juga menyukai makanan Indonesia, selalu exciting saat menonton budaya Indonesia. Respek seperti itu datang karena Indonesia memiliki budaya dan martabat yang sudah menjadi karakter bangsa Indonesia itu sendiri.

Jadi, sebagai generasi muda, kebudayaan inilah yang harus benar – benar kita jaga dan tanamkan pada diri kita sehingga bisa berlanjut sampai generasi berikutnya. Citra sudah melakukan usahanya bersama CIOFF dan mendukung penuh band milik suaminya V1MAST dalam mengombinasikan musik modern dan tradisional Indonesia. Saya juga melalui kegiatan menari bersama komunitas Nusantari dan juga melalui konten – konten video yang saya buat di channel YouTube milik saya. Kamu bagaimana? Ingat sob, kalau bukan kita yang melestarikan budaya Indonesia, lalu siapa lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *