Dea Salsabila Amira, Seorang Pekerja Keras Dari Kecil Yang Sukses Menjadi Entrepreneur Muda Sebelum Umur 25 Tahun

Jakarta – RumahMillennials.com | Waktu masih kecil, kegiatan apa sih yang biasa kamu lakukan? Ada yang masih main petak umpet atau main benteng sama temen deket rumah? Atau pas jamannya Playstation 1 dan main ke warnet lagi keren – kerennya, kamu sering lupa waktu sampai diusir ama pemilik warnet atau rental PS? Yang masih ngalamin masa – masa itu, seangkatan kita.

Rata – rata masa kecil sampai remaja, banyak dihabiskan untuk bemain dan bersenang – senang dengan keluarga dan teman. Tapi, cewe yang satu ini, punya cara tersendiri untuk have fun pas masih kecil sampai umur remaja. Bahkan, gak banyak anak – anak seusia dia bisa melakukan kegiatan – kegiatan ini kalo bukan karena ngerasa seru.

Inilah Dea Salsabila Amira, Ketua Bidang Fashion Rumah Millennials sekaligus founder Rentique. Perjalanan Dea menjadi entrepreneur muda, diawali dari masa kecilnya yang berubah – rubah passionnya.

Dea Di Dunia Modelling

Waktu masih SD, Dea sudah didaftarin ke sekolah kepribadian dan modelling pada usia 10 tahun. Selain aktivitas modelling yang tiap minggu ada kegiatan fashion show, Dea juga suka nyanyi dan bergabung di sebuah band menjadi vokalis. Bahkan dia sempat mendapat juara favorit lomba band se-Jawa Timur meskipun lawannya banyak anak – anak SMA dan mahasiswa. Kegiatan Dea waktu masih SD bisa jadi lebih padet dari kamu yang sekarang udah kerja, karena selain modelling dan nge-band, pulang sekolah sorenya Dea ada les kumon, bahasa inggris, dan menyanyi.

Keliatan sibuk banget ya! Capek kah Dea? Ternyata tidak!

Bagi Dea, itu semua hobi dan kesenangan yang menghasilkan. Dea udah bisa dapet uang saku sendiri dari kegiatan modelling dan prestasi – prestasi lainnya. Dia bahkan bisa beli HP Blackberry sama motor dengan uang sendiri tanpa minta orang tua. Jadi udah mandiri dari kecil.

Belajarnya gimana dong? Tenang aja, karena Dea sukses menjadi juara kelas selama enam tahun berturut – turut, sama aja dia dari kelas 1 – 6 rangking satu terus. Masih ada lagi, Dea selalu menang cerdas cermat. Ditambah lagi, nilai UN Dea juga paling tinggi. Bagi Dea pendidikan hal yang utama, jadi kegiatan – kegiatan les, modelling, dan nge-band gak jadi alasan bagi Dea buat gak berprestasi di bidang pendidikan.

Dari kecil, ibunda Dea sudah berpesan seperti ini:

“Kak, kamu harus punya banyak keahlian, belajar mandiri. Kalau bunda dan papa sudah gak ada lagi, jangan sampai kamu gak tahu hidupmu harus bagaimana, banyak melakukan hal – hal yang enggak benar karena gak punya keahlian, hidup itu keras jadilah orang di atas rata – rata”
Ibunda Dea Salsabila Amira –

Dari pesan ini, akhirnya terciptalah suatu motivasi dalam diri Dea. Motivasinya kayak gini:

“Aku harus mandiri, aku harus membanggakan orang tuaku, berprestasi, bertanggung jawab, tidak mengandalkan siapa pun untuk meraih kesuksesanku, dan memberikan berkat untuk banyak orang”
Dea Salsabila Amira –

Meski mencapai banyak hal di dunia modelling, Dea masih belum puas. Ada satu titik dimana Dea merasa karir di dunia modelling sudah pada puncaknya, dia butuh hal yang lebih menantang. Dia memutuskan pindah dari Bali ke Jakarta, dan mendapatkan kontrak dari agensi model. Sayangnya, Dea harus menerima kenyataan pahit karena standar fisiknya kurang memenuhi persyaratan, terutama soal berat badan yang harus maksimal 35 kg. Dea tipikal orang yang akan mengejar apapun yang ingin ia capai dengan kerja keras, maka dari itu dia diet ketat sampai dirawat dirumah sakit karena tipes dan kekurangan gizi. Disinilah, Dea merasa dia harus move on dari dunia modelling.

Dea Di Dunia Entertainment & Bisnis Pertama

Setelah itu, Dea sempat masuk ke dunia entertainment dengan menjadi anggota band sebagai vokalis, syuting FTV dan iklan, dan perform di televisi nasional. Tetapi, lagi – lagi Dea merasa ini bukan passion dan mimpinya sehingga dia putusin kontrak dengan agensi, serta mengucapkan bye bye untuk selamanya pada dunia entertainment.

Ibunda Dea dulu pernah memintanya membuat semacam dreambook untuk memetakan mimpi – mimpinya. Pas dilihat lagi, ada satu mimpi Dea yang belum tercapai yaitu keliling dunia gratis. Kebetulan, waktu kuliah Dea merasakan passion yang kuat di dunia diplomasi, maka dari itu dia belajar mengasah kemampuan public speaking dengan nonton video – video TED Talk, belajar membuat esai yang baik.

Selagi mengejar jadi diplomat muda, Dea sudah membangun bisnis pertamanya ketika ditantang oleh dosennya untuk ikut lombva bisnis dari kementrian UMKM. Dea membuka usaha clothing line, dan menang lomba itu yang menghasilkan dana hibah sebesar 15 juta rupiah. Usaha clothing line Dea berjalan cukup lama, dimana koleksinya sudah ada di beberapa distro di Jakarta, Bali, dan dua online fashion platform terbesar di Asia. Dari usaha ini, Dea mendapatkan pendapatan bersih hingga 10 – 15 juta rupiah saat masih usianya 17 tahun.

Dea Sebagai Diplomat Muda

Kerja keras, latihan, pengorbanan Dea terbayar karena dia lolos sebagai 300 pemuda Jakarta, untuk menjadi delegasi program International Youth Forum di Beijing, dan jadi yang termuda karena usianya baru 18 tahun. Tahun 2015, Dea mendapat undangan dari kementrian pendidikan Rusia untuk menghadiri forum diplomasi di Vladivosstok, dan memaparkan diplomasi maritim Indonesia. Di tahun yang sama, Dea terpilih lagi sebagai 10 pemuda dunia untuk mengikuti misi PBB dengan mengelilingi Jepang, Perancis, dan Swiss selama 3 minggu. Di momen ini, Dea bertemu banyak pemimpin dunia, seperti menteri pendidikan Jepang, direktur IUCN, direktur olympics, dan direktur UN office Geneva. Di program ini juga, Dea berpidato mengenai perdamaian dunia dan perubahan iklim di kantor PBB Geneva.

Namun, lagi – lagi Dea merasa menjadi diplomat bukan passion yang ingin ia tekuni. Dia merasa bagaimana lelahnya jadi diplomat yang harus terlihat segar walaupun capek. Tetapi, dari momen dia berpidato di kantor PBB soal perubahan iklim itulah, Dea menemukan ide bisnisnya. Sepulang dari program misi PBB, Dea mendirikan Ur-Farm.

Dea dan Ur-Farm

Ur-Farm berawal dari pengamatan Dea kalau petani kecil punya kontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Namun, jumlah petani yang banyak di Indonesia tidak diimbangi oleh kesejahteraan hidup mereka, disinilah Dea merasa ingin membantu mereka.

Pada awalnya, Dea ditolak oleh banyak investor saat mengajukan ide pertamanya yakni menjembatani petani sayuran organik dengan konsumen melalui platform online. Namun, Dea bukan tipikal cewe baperan yang mudah putus asa jika mendapat penolakan, karena baginya menangisi hal – hal yang sudah berlalu dalam waktu yang lama, tidak akan menyelesaikan apapun. Dea mengaku, dari 1 sampai 10, logikanya berada di angka 10.

Tahun 2017, Dea pindah haluan ke komoditas kopi. Meskipun gak paham – paham banget soal kopi, bagi Dea semua orang harus belajar walaupun tidak sampai ahli minimal tahu landasannya. Suatu hari Dea melakukan perjalanan ke Bondowoso untuk bertemu petani kopi. Sesampainya disana, yang Dea temukan adalah petani kopi yang sudah kehilangan harapan karena merugi ratusan juta rupiah akibat ditipu oleh tengkulak. Dengan pendekatan yang intensif, Dea mendapatkan kepercayaan dari petani itu untuk bergabung dengan Ur-Farm. Misi Ur-Farm yang bertujuan memutus keterlibatan tengkulak dalam rantai pasok yang selalu membebani petani, menjadi alasan bagi petani akhirnya bergabung.

Tidak hanya membeli hasil panen kopi, Ur-Farm juga memberikan pelatihan pasca panen, pemanggangan kopi, dan mengolah limbah kulit kopi menjadi energi terbarukan berbentuk bip briket. Berkat usaha keras Dea dan tim, Ur-Farm kini sudah bekerja sama dengan 120 petani kopi di Jawa Timur dan Barat, dan mendapatkan penghargaan dari pemerintah US lewat program YSEALI, dan US ASEAN Business Council.

Apakah Dea sudah puas? Ternyata, tidak secepat itu sobs!

Dea dan Rentique

Dea mendirikan bisnis lain, yang berhubungan dengan passion lamanya di dunia modelling, yakni Rentique. Dea ingin perempuan punya kepercayaan diri akan outfit yang mereka kenakan, sekaligus memberikan skill fashion, education, yang sudah bergerak di modest wear designer atau hijab designer. Dea mengibaratkan Rentique seperti “Netflix” untuk produk fashion branded karena wanita Indonesia bisa meminjam baju – baju dari desainer ternama untuk setiap acara, mulai dari kerja, wisuda, hingga kondangan. Tahun 2019, Rentique membuka program entrepreneurship untuk modest wear designer (hijab desainer). Program ini bentuknya mentorship, peserta yang terdiri dari entrepreneur akan diseleksi untuk belajar bersama para desainer ternama, untuk mengembangka brand fashionnya.

Dari semua yang Dea jalani, baik itu modelling, entertainment, diplomat, maupun entrepreneur, kunci kesuksesan Dea adalah kerja keras. Gak mudah menjalani dan menekuni bidang – bidang tersebut namun jika kamu kerja keras dan mencitai apa yang kamu lakukan, segalanya bisa dicapai. Menurut Dea, passion itu gak bisa muncul tiba – tiba, prosesnya panjang dan bisa jadi apa yang kamu pikir hari ini adalah passion kamu belum tentu itu adalah bidang yang ingin kamu tekuni. Tetapi yang pasti, menguasai berbagai bidang bisa membuatmu survive jika mengalami kegagalan, karena kamu jadi punya plan B, C, dan D.

Dea mengakui bahwa dia orang yang ambisius, tapi Dea juga gak baperan. Kalau gagal ya coba lagi, lagi, dan lagi sampai dapat. Itulah yang membuat Dea menjadi wanita tangguh yang bisa memberikan dampak positif dan kontribusi bagi masyarakat.

Itulah perjalanan karir Dea Salsabila Amira yang sudah punya etos kerja keras sejak usia dini. Semua yang Dea capai hari ini tidak ada yang mudah, butuh dedikasi, kerja keras, komitmen, tanggung jawab, dan cinta terhadap aktivitas tersebut.

Bagaimana dengan etos kerjamu dalam mencapai cita – cita dan tujuan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *