Kekuatan Social Media Lebih Dari Sekedar Media Untuk Bersosialisasi

JAKARTA – RumahMillennials.com | Social media udah kayak makanan sehari – hari sob. Bahkan konsumsinya lebih dari kalau kita makan nasi, atau minum air putih. Setiap hari, setiap waktu, dimanapun dan kapanpun rasanya tangan gatel gitu kalau gak ngecek what’s going on di social media.

Terlebih lagi, social media sekarang lebih dari media untuk bersosialisasi tapi bisa jadi channel buat nguatin personal branding bahkan bikin toko. Personal branding yang dikemas dengan tampilan visual yang catchy didukung storytelling pada caption, sudah cukup untuk membuat dirimu unik dan menarik. Tak heran, influencer marketing yang dilakukan brand – brand macro maupun micro, saat ini menjadi tren di social media, dan ini merupakan lapangan kerja baru bagi kaum muda terutama generasi millennial dan Z.

Demi memberikan pemahaman yang lebih dalam soal social media, Womenpedia sebuah digital female training center, mengadakan acara “Social Media Forum” pada Sabtu 27 Juli 2019, di Founders Co-Working space. Dalam acara ini, saya sendiri yang memandu acaranya sebagai MC dan Moderator di dua panel diskusi. Diskusi pertama diisi oleh:

  1. Afriansyah Zulhairin – Digital Strategist Kementerian Pariwisata
  2. Jovanka Asyiah Gusman – Campaign Manager WeCare.id
  3. Adlin Syarif – Founder of Coga Coffee

Sedangkan di sesi kedua, Womenpedia mendatangkan speakers yang expert dibidang personal branding, influencer marketing, dan woman entrepreneurship, antara lain:

  1. Dea Salsabila Amira – Founder of Rentique, Ur-Farm, & Ketua Bidang Fashion Rumah Millennials
  2. Eddy Yansen – Co-Founder Sociabuzz
  3. Rara Mispawanti – Beauty Influencer & UGC Kumparan

Dari sharing session ini, bisa diambil kesimpulan bahwa social media punya kekuatan dan potensi yang sangat besar bagi semua kalangan, baik dari individu yang ingin menyalurkan passionnya lewat personal branding yang kuat, lalu bisnis micro untuk meningkatkan brand awareness serta mengembangkan bisnisnya, bisnis macro untuk meraup lebih banyak customer, serta social campaign untuk mengajak orang – orang berbuat kebaikan yang berdampak positif.

Dari sisi individu, untuk meningkatkan personal branding, Rara Mispawanti memberikan 9 elemen penting yaitu: Value, skill and competence, behavior, total look, uniqueness, achievement, strength, authentic, and goal. Dengan memiliki 9 poin tersebut, didukung dengan engagement yang tinggi, maka seorang pribadi bisa menjadi influencer yang baik di social media. Menjadi influencer bukanlah soal followers banyak, tapi siapa yang bisa mengemas personal branding dengan baik dan melakukan engagement setinggi mungkin di setiap postingannya baik Insta story maupun feed.

Rara Mispawanti – Beauty Influencer & UGC Kumparan

Dari kacamata brand, Eddy Yansen mengatakan influencer marketing works really well karena kita hidup di era keputusan membeli yang cepat berdasarkan rekomendasi. Brand sudah tak relevan lagi memasarkan produknya dengan hard selling yang terlalu menonjol, karena customer terutama dari kalangan muda membeli sesuatu berdasarkan rekomendasi orang terdekat. Seseorang yang bisa merekomendasikan suatu produk dengan baik, maka dia sudah bisa disebut influencer terlepas berapapun followersnya. Maka dari itu, brand harus menyesuaikan karakter, gaya hidup, dan passion dari influence yang akan di-endorse.

Selain untuk urusan bisnis, social media juga bisa dipakai untuk menggerakan orang berbuat kebaikan. Hal inilah yang dilakukan oleh Jovanka Asyiah Gusman lewat WeCare.id dan @kankerserfix. Menurut Jovanka, storytelling di social media sangat penting karena tidak mungkin mengajak orang untuk berdonasi jika menjelaskan penyakit dengan bahasa medis. Dengan kemasan storytelling yang menyentuh hati, dan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat, maka orang – orang akan tertarik untuk menyumbangkan dana demi membantu pengobatan seorang pasien.

Jovanka Asyiah Gusman – Campaign Manager WeCare.id

Seperti itulah kekuatan dan potensi dari social media. Social media bagi saya adalah pedang bermata dua, bisa jadi baik dan buruk. Akan baik jika kita bijak menggunakannya untuk hal – hal positif, dan bisa jadi buruk apabila kita punya tujuan untuk katakanlah brain wash ke arah radikalisme dan memfitnah seseorang.

Ingat, social media hanyalah sebuah alat, jadi yang harus benar – benar cerdas adalah penggunanya. Jadi kalo kamu, punya social media tujuannya apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *