Kenapa Kamu Harus Mulai Belajar Menghargai Diri Sendiri

Seeking love outside you can leave you feeling empty inside.” — Unknown

Jakarta – Rumahmillennials.com | Kenapa kita mencari cinta di luar jika ternyata cinta itu terletak di dalam? Cukup banyak orang yang sibuk mencari cinta di luar sana. Padahal, inner kita butuh cinta juga bahkan bisa dibilang jauh lebih besar.

Kita sering mendambakan sebuah penghormatan yang diberikan dari orang lain: Pengakuan agar kita dibilang baik, pujian ketika berhasil mencapai suatu hal dan beberapa hal lainnya. Sebenarnya hal itu cukup wajar karena kita sebagai individu berada di lingkungan sosial dan butuh eksistensi. Tapi, seberapa sering kita melontarkan pujian untuk diri kita sendiri dan mengakui segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki?

Sumber: Mediaindonesia.com

Ingin rasanya bahwa dunia harus mengenal kita sebagai satu sosok yang sempurna: tanpa kekurangan, sukses, selalu dipandang baik, dan punya relasi dimana-mana. Ketika hal itu sudah berhasil dicapai, legitimasi sosial sebagai makhluk yang sempurna tercapai. Mungkin kita akan dianggap dewa, orang terpandang ataupun tokoh terkemuka. Tapi, jika itu tidak terjadi, apa yang akan terjadi pada diri kita? Tertekan? Stress? Atau bahkan jadi depresi? Kita mungkin akan membuat sebuah dunia “ideal” yang hanya eksis di pikiran sendiri. Padahal, itu hanya upaya untuk melarikan diri dari kenyataan.

Pencarian status maupun legitimasi sosial tidak akan pernah usai. Orang-orang akan selalu menemukan celah dari kita untuk dihujat. Kita akan selalu menerima kritik, pujian, ejekan, gosip. Ada orang-orang yang pada awalnya memuji kita, kemudian tiba-tiba jadi kritikus nomor satu. Bahkan ketika kita berbuat baik, selalu ada individu yang menghujat dan iri terhadap kita. Siklus itu tidak akan berhenti kecuali kita meninggal.

Jika kita terus-terusan mencari cinta di luar, kita tidak akan mendapatkan apa itu yang namanya cinta. Perasaan yang ada hanyalah tertekan karena merasa tidak bisa mendapatkan cinta dari orang lain. Pikiran kita akan menjadi kacau-balau dan runtuh seperti bangunan rapuh. Bayangan manusia sempurna layaknya pahlawan buyar begitu saja. Kemudian kita jadi menyalahkan diri sendiri dan akhirnya menjadi depresi. Tapi, apakah orang-orang di sekitar kita patut dipersalahkan atas perasaan depresi kita? Mungkin ada orang yang kita kenal salah bicara tentang kita, namun itu manusiawi dan tidak bisa disalahkan. Lalu siapa yang salah?

Sebenarnya tidak ada jawaban benar atau salah. Pertanyaan itu terlalu tegas dan tidak memerhatikan faktor-faktor lain di dalamnya. Tapi, satu hal yang telah mungkin bisa disepakati adalah kalau mencari cinta di luar sana tidak akan berhasil. Hal yang harus dilakukan mulai dari sekarang adalah mulailah menghargai dan mencintai diri sendiri.

Kita harus menerima bahwa kita tidak bisa memesan tubuh untuk ditempati. Bentuk tubuh kita tidak bisa sempurna. Kita punya banyak kekurangan sekaligus beberapa kelebihan. Ada kalanya juga kita berada diatas, kemudian tak lama berada di roda terbawah. Selalu benar bukanlah takdir kita, karena sesempurna apapun hal yang dilakukan, pasti ada celah kesalahan. Kita juga tidak bisa selalu membuat orang lain senang.

Sumber: Teeshirtpalace.com

Dunia luar itu di luar kendali kita. Dunia selalu berjalan dinamis dan perubahan akan selalu terjadi. Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana respon orang lain terhadap kita. Yang bisa kita kendalikan hanya satu, yaitu diri kita sendiri: tindakan, perasaan dan pemikiran. Kita punya kendali penuh terhadap diri. Sehingga, kenapa kita tidak mencoba untuk mengisi tong-tong cinta dalam diri kita sendiri dan mulai mengatakan I LOVE WHO I AM, INSIDE AND OUTSIDE.

Memberi cinta dan menghargai diri sendiri itu perlu. Jika orang lain tidak bisa memberikan cintanya, siapakah yang berkewajiban selain diri kita sendiri? Meski diri kita ini banyak kekurangan, kita tetap hidup seperti biasa. Kenapa kita tidak bersyukur akan hal itu? Mungkin kalau kita lebih bersyukur, kita bisa lebih mencintai diri sendiri.

Kita memang punya banyak kekurangan: fisik, sifat, kekayaan, tapi itulah yang menjadikan kita manusia. Penerimaan terhadap diri sendiri perlu ketika tidak ada orang di dunia ini yang menyayangi kita. Berharap kepada orang lain itu sia-sia karena mereka juga punya urusannya sendiri. Bukan berarti kita menjadi individualis dan egois, itu berbeda. Menghargai diri sendiri lebih kepada soal perspektif kalau kita ini tidak sempurna dan banyak keterbatasan.

Soal penerimaan diri, rasanya kita perlu lebih banyak belajar dari para penyandang disabilitas. Saya takjub dengan para atlit paragames. Mereka punya keterbatasan, tapi tidak pernah menyerah dalam mewujudkan mimpinya. Dan sekarang banyak dari mereka yang beprestasi. Saya yakin mereka mencintai dan menghargai diri sendiri lebih daripada kita.

Mungkin karena itu manusia unik dengan caranya sendiri. Bagi saya, justru karena manusia itu tidak sempurna, itulah yang membuat kita sempurna. Kita sempurna dengan cara kita sendiri. Pada akhirnya, tugas untuk mencintai dan menghargai diri sendiri berada di tangan kita bukan orang lain. Jika kita bisa mencintai diri, kita bisa mulai menghargai orang lain. Lagipula, untuk mencintai seseorang apa adanya, kita harus cinta dulu terhadap diri sendiri dan apa yang kita miliki.

Saya cukup yakin sudah banyak orang yang menyadari hal ini. Tapi, saya juga memiliki pandangan bahwa sebagian orang mengalami masalah ini. Dari 7 miliar orang di dunia dan 250 juta masyarakat Indonesia, pasti ada sebagian yang punya masalah tentang menghargai diri sendiri. Oleh karenanya, saya ingin mengajak kita semua termasuk saya sendiri untuk belajar memaklumi kekurangan dan mulai memandangi diri secara lebih positif. Sehingga, kita jadi bisa lebih mencintai dan menghargai diri kita masing-masing.

2 Comments

  1. artikelnya ngena, kaka.. thanks. keep on fire :))

    1. Audi Rahmantio

      Terima kasih udah baca artikelnya ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *