Gerakan Millennials di Gunungkidul Yang Menginspirasi

GUNUNGKIDUL – RumahMillennials.com | Lebaran tahun ini saya masih diberi kesempatan untuk mudik kekampung halaman orang tua, h-1 lebaran saya disuguhkan sebuah postingan dari akun anak muda yang ada di Gunungkidul ini. Nama gerakannya adalah Gunungkidul Menginspirasi (GM), yang ternyata sudah dibentuk sejak tahun 2012 lalu oleh Joko Susilo dan kawan-kawan.

Gerakan GM ini melebeli diri mereka sebagai “Youth Leadership & Education Movement”, tercermin dalam tampilan feed instagram mereka yang sangat rapih dan terlihat profesional bagi saya. Hal itu adalah salah satu yang membuat saya tertarik mempelajari apa yang sudah dan akan dilakukan oleh mereka ini.

Dalam rangkaian postingan instagram @GunungkidulMenginspirasi, mereka juga menampilkan jajaran pengurus dengan seragam yang mereka kenakan. Dari sana, saat lebaran hari pertama saya coba menghubungi Imam Prayoga Ketua GM ini via DM, untuk meminta waktunya untuk bertemu setelah lebaranan selesai.

Senin sore (10/06) kemarin akhirnya saya bertemu dengan salah satu perwakilan dari GM disebuah angkringan, saat itu saya ditemui oleh Aruna Paksi yang merupakan Wakil Ketua GM.

Saya mulai bertanya bagaimana awal terbentuknya gerakan ini tujuh tahun lalu, Paksi menceritakan awal dibentuknya GM ini karena kegelisahan tentang kondisi anak-anak muda di Gunungkidul.

Mungkin banyak orang tua kita tau tentang Gunungkidul ini sebagai daerah yang gersang, sering diterpa kemarau panjang yang sangat lama yang membuat banyak warganya merantau turun gunung keberbagai kota, termasuk orang tua saya.

Kondisi saat ini sudah sangat jauh berbeda, daerah keringnya sudah sangat jauh berkurang dari masa itu. Tetapi masih banyak masalah yang dihadapi warga Gunungkidul ini, terutama yang dihadapi anak-anak mudanya.

Gunungkidul memiliki Indeks Pembangunan Manusia terendah ke-5 di DIY, Urbanisasi warga yang memiliki potensi bagus, tingkat potensi bunuh diri yang cukup tinggi, pernikahan yang terlalu dini, dan lainnya.

Bagi GM, Pendidikan menjadi kunci utama dalam penyelesaian masalah di Gunungkidul. Banyak program yang mereka usung untuk itu, beberapa yang banyak kami obrolkan saat itu adalah pencegahan pernikahan dini, Edu (Campus) Expo, dan Perpustakaan Mini di pelosok desa.

Masih banyak anak-anak lulusan SMA/Sederajat yang dinikahkan oleh orang tuanya, dan mereka belum memandang pilihan untuk melanjutkan kuliah adalah pilihan yang lebih baik daripada langsung dinikahkan. GM mencoba untuk menggelar diskusi dengan siswa-siswi SMA/Sederajat disekolah-sekolah, tentang peluang-peluang yang akan mereka dapatkan jika melanjutkan pendidikan ke tingkat kuliah. Termasuk membantu mereka mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi.

Edu Expo dan Campus Visit juga mereka lakukan untuk menambah referensi mereka tentang jurusan yang mungkin mereka ikuti ketika mereka melanjutkan kuliah. Edu Expo sendiri, selain diisi dengan pameran Universitas, program ini juga diisi dengan Talkshow Pendidikan dan Peluang Beasiswa yang bisa mereka daftarkan.

GM juga membuat program “Buku Untuk Gunungkidul”, yang merupakan program donasi buku dari masyarakat, sebagai bahan utama Perpustakaan Mini Pedesaan di pelosok Gunungkidul yang mereka buat. Program ini dibuat untuk meningkatkan literasi anak-anak kecil dan muda dipelosok Gunungkidul.

Buat kamu yang ingin berbagi buku dengan Gunungkidul, silahkan hubungi mereka via DM ke @GunungkidulMenginspirasi. Kamu bisa mengirimkan buku-buku itu via Pos setiap tanggal 17, jika ingin mendapatkan pengiriman buku gratis.

Pergerakan mereka ini sangat menginspirasi, dan sangat mungkin dilakukan juga didaerah-daerah yang lain, dan kamu bisa memulai hal itu dikampung halaman kamu. (eFKa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *