Perubahan Besar Yang Dihasilkan Dari Tekonologi Dalam Membangun Smart City

JAKARTA – RumahMillennials.com | Halo sobat Millennials! Sabtu 19 Januari lalu, IDN Times mengadakan Indonesia Millennial Summit, merupakan event akbar yang mempertemukan tokoh – tokoh inspiratif dari berbagai bidang dengan millennial leaders.

Dalam acara bergengsi ini, IDN times mendatangkan narasumber dari latar belakang dan profesi yang beragam, seperti pengusaha jasa transportasi dan ekspekdisi hingga Wakil Presiden Republik IndonesIa, Jusuf Kalla.

Materi dalam acara ini tidak fokus pada satu bidang, tetapi sebuah integrasi dari isu yang sedang berkembang, keresahan masa depan, bisnis, keadaan sosial, politik, dan negara yang dikaitkan kepada perspektif millennial yang disajikan dengan santai namun tepat sasaran.

Diawali dengan tema pembicaraan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, pada sesi ini IDN Times mengundang Abdullah Azwar Annas sebagai Bupati Banyuwangi, Setiaji yang menjabat sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jakarta Smart City, serta Raditya Maulana Rusdi sebagai Founder serta CEO Qlue.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh We Are Social yang bekerjasama dengan Hootsuite, terdapat 132.7 juta pengguna internet di Indonesia, yang berarti lebih dari setengah penduduk di Indonesia aktif menggunakan internet. Lalu, apakah benar bahwa internet dan teknologi dapat mengubah kehidupan kita?

Abdullah Azwar Annas sebagai Bupati Banyuwangi mengatakan, dengan adanya program desa terkoneksi dan fasilitas koneksi internet di kotanya serta melakukan kerjasama dengan Warung Pintar telah meningkatkan jumlah pengunjung wisatawan ke kota Banyuwangi.

Kekuatan penyebaran informasi melalui platform sosial media memberi peluang tereksposnya keindahan alam Banyuwangi. Tidak sampai disitu, program desa terkoneksi membuat kegiatan kerja pemerintah Banyuwangi menjadi lebih cepat dan transparan.

Pemerintah Banyuwangi menciptakan aplikasi yang mudah digunakan oleh warganya, sehingga membantu penyampaian keluhan warga atas permasalahan yang terjadi kepada pihak pemerintah daerah. Laporan yang diadukan akan ditindaklanjuti kurang dari empat jam, jika tidak segera dilaksanakan aparat yang bersangkutan akan langsung dimutasi kerja keesokan harinya.

Dengan kekuatan jaringan internet, Pemerintah Banyuwangi dapat menciptakan program “pulang persalinan, bawa akte”. Hal ini menjawab permasalahan proses pembuatan akte kelahiran yang lama dan bertele-tele. Jaringan internet menghubungkan antara pihak rumah sakit dan kantor pencatatan sipil.

Begitupun dengan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, Setiaji sebagai kepala UPT Jakarta Smart City menyatakan bahwa Jakarta masuk keadalam 47 daftar smart city di dunia.

Jakarta Smart City merupakan platform dari sebuah pemerintahan, dimana kegiatan yang biasa dilakukan untuk mengurus perizinan atau pembayaran pajak tidak harus dilakukan dengan pergi mendatangi kantor pemerintahan, tapi kini dapat dilakukan dimapaun dan kapanpun. Seperti mengurus perizinan dagang, dengan waktu lima menit sebuah perusahaan dapat mendapatkan izin dagang resmi dari pemerintah dan percepatan proses layanan masyarakat bagi warga DKI.

Seperti mengurus perizinan dagang, dengan waktu lima menit sebuah perusahaan dapat mendapatkan izin dagang resmi dari pemerintah dan percepatan proses layanan masyarakat bagi warga DKI.

Teknologi sensor juga dimanfaatkan oleh pemerintah kota Jakarta untuk mendeteksi penggunaan lampu jalan. Di Jakarta biaya penerangan jalan perharinya dapat menghabiskan setengah triliun, namun dengan pengaplikasian teknologi ini biaya penerangan berhasil dipangkas hingga 30%.

Teknologi MRT yang telah ditunggu oleh warga DKI pun dapat segera dinikmati, awal Februari 2019 MRT resmi dioperasikan. Bagi Sobat Millennials yang ingin merasakan sensasi moda transportasi  umum ini, dapat langsung menjajal di awal Februari depan secara geratis pada hari pertama peluncuran.

Pihak swasta pun tidak mau kalah saing dengan teknologi yang diciptakan oleh pihak pemerintah. Mengenai pengaduan masyarakat yang kerap tidak tersampaikan ,membuat Raditya Maulana Rusdi menciptakan sebuah aplikasi yang dapat menampung dan menyampaikan masalah yang terjadi melalui aplikasi bernama Qlue. Melalui aplikasi ini, masyarakat di tiga belas kota di Indonesia, termasuk Jakarta dan Bima dapat menyalurkan permasalahan yang terjadi dan langsung di tangkap oleh pemerintah kota setempat.

Qlue bekerja sama dengan Jakarta Smart City dan Google sehingga menghasilkan data real time terpusat. Setelah sembilan bulan implementasi, aplikasi ini berhasil mengurangi pungutan liar  hingga 45%, terjadi pengurangan 400 titik banjir di Jakarta, serta kegiatan pasukan orange yang lebih aktif.

Rusdi mengatakan, bahwa teknologi tidak lepas dari peran manusia di dalamnya, berjalanya aplikasi Qlue didukung penuh oleh proses pengaduan yang terjadi, sehingga fakta dan informasi dapat segera ditangkap oleh pihak pemerintah dan ditangani sehingga memberi dampak yang nyata.

Jadi, benar adanya teknologi dapat mengubah kehidupan kita menjadi lebih mudah, tapi teknologi tidak dapat menggantikan peranan manusia, karena teknologi seperti robot tidak dapat menggantikan intensitas human touch. Kalau menurut Sobat Millenial apakah suatu hari nanti manusia dapat digantikan dengan teknologi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *