Memahami Kehidupan Dalam Kacamata si Introvert

RumahMillennials.com | Halo, sobat millennials! Lagi jalanin aktivitas apa diawal tahun ini? Mudah-mudahan segala kegiatan yang kita jalani  dapat  dinikmati dan berfaedah ya. Ada beberapa hal yang saya pikirkan, berkaitan dengan dua tipe kepribadian klasik yang sebagian besar teman-teman, sudah pada tahu, yakni ekstrovert dan introvert.

Kenapa sih saya membahas ini? Saya akan jabarkan semuanya disini, jadi check it out!

Banyak media bertebaran dimana kita bisa bebas mendapatkan pelajaran bahkan memberikan insight juga kepada masyarakat. Dan yang terbaru sekarang adalah tren tentang podcast. Ini adalah sebuah media dimana kita bisa merekam pembicaraan dan langsung membaginya dengan publik dan tersedia di spotify, soundcloud, dan youtube.

Berlimpah podcast yang ada di media sehingga kita tinggal memilih mau podcast siapa yang ingin didengarkan. Tentunya, saya juga terkadang suka mendengarkan podcast Inspigo yang menurut saya sangat sangat insightful.

Millennial yang baca tulisan saya, pasti sebagian besar mendengarkan inspigo, jika yang belum mendengarkan coba unduh di smartphone kamu dan nikmati segala pembicaraan dan pelajaran dari orang yang ahli dan inspiratif tentunya.

Kok sangkut pautnya ke podcast?
Dalam pandangan saya, anak muda Indonesia ini hobinya memang pada ngobrol. Senang rasanya ketika obrolan ataupun pemikiran kita bisa disampaikan kepada masyarakat dan hal tersebut dapat berbuah pergerakan dalam bentuk komunitas dan sebagainya.

Budaya berbicara, hangout atau nongkrong memang sudah melekat didalam diri anak muda Indonesia sehingga ada norma tidak tertulis yang berbunyi “Kalo lu gak nongkrong, lu gak bakalan eksis men”. Dari budaya nongkrong ini, rasa komunal mereka juga terbentuk.

Satu kesimpulan besar dari saya adalah bahwa dunia ini memang milik ekstrovert, yang senang berbicara dan mengobrol panjang lebar, sehingga yang menjadi ukuran seseorang itu hebat adalah bagaimana dia bisa berbicara lancar di depan umum.

Hal itu tidak masalah, karena memang pada akhirnya people skill yang akan menjadi salah satu faktor kunci di masa depan nanti. Bertemu dengan banyak orang, berjejaring dan sebagainya. Jika dunia bekerja seperti itu, bagaimana posisi introvert?

Tipe kepribadian yang berlawanan dengan si ekstrovert, dimana si pendiam ini mudah kehabisan energi di tengah keramaian. Walaupun mampu bergabung di tempat ramai, mereka bisa menghabiskan energi cadangan hanya untuk bisa beradaptasi.

Kalau melihat tips dan trik mengenai tipe kepribadian introvert, seakan-akan kita yang diharuskan untuk beradaptasi dengan dunia ekstrovert. Kaum pendiam ‘dipaksa’ untuk masuk ke dalam dunia si penyuka pesta. Oke, kalau misalkan ada beberapa introvert yang sukses seperti Bill Gates, J.K. Rowling, dan yang lainnya.

Akan tetapi, kalau misalkan dipikirkan kembali, bukankah itu sedikit tidak adil untuk kaum introvert? Kita memang bisa survive di dalam dunia ramai, namun terkadang ada perasaan seperti ini “kenapa sih aku harus belajar berbicara di depan umum?”, “mengapa sih setiap hari selalu bertemu orang, sudah menjadi kewajiban iya?”.

Sehingga si pendiam ini malah mempertanyakan identitasnya dan bukannya untuk mencoba berubah karena diri sendiri tetapi karena faktor lingkungan yang memaksa mereka.

Ditambah, sekarang waktu sangat cepat bahkan terlalu cepat bagi kita. Satu tahun pun sekarang tidak begitu terasa. Seperti yang saya sebutkan contohnya diatas, banyak perkembangan yang telah terjadi yang membuat kita harus terus beradaptasi.

Jujur, hal ini pasti akan membuat introvert bekerja ekstra keras untuk menyikapinya. Dibandingkan dengan si pendiam, ini justru menguntungkan si ekstrovert, karena inilah dunia dimana mereka bisa fit in to society with more flexibility and connected. Apakah ini pertanda bahwa si pendiam akan hancur karena perkembangkan? Tidak

Bukan bermaksud mengunggulkan antara si introvert ataupun si ekstrovert, tapi menurut pandangan saya, kaum pendiam justru lebih adaptif (dengan caranya sendiri) karena mereka hidup di lingkungan si penyuka keramaian.

Oleh karenanya, si introvert berusaha untuk survive di lingkungan tempat mereka tinggal. Dengan realita yang terjadi saat ini, mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan lingkungan, persis seperti satu pernyataan dalam teori evolusi Darwin, survival of the fittest. Jika kamu tidak beradaptasi, kamu tetap diarus bahkan terbawa arus itu atau kamu disapu ombak.

            Mengapa saya menuliskan pandangan seperti ini? Saya akan memberitahu secara eksplisit bahwa saya adalah si pendiam itu. Secara pribadi, saya suka nongkrong, tetapi tidak suka yang terlalu ramai. Meskipun begitu, beradaptasi dengan dunia yang seperti ini membuat lelah dan energi sangat cepat terkuras habis.

Begitu melelahkan sampai diri ini sempat berpikir seperti ini: “Jika dunia ini berisi sebagian besar oleh orang introvert, bagaimana yang ekstrovert rasakan dan apakah mereka mampu beradaptasi dengan kita?” Jadi, jika energi terkuras habis, berlindung dalam cangkang dan mengisolasikan diri menjadi pilihan utama. (Rizky)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *