[BUKU] The Power Of Giving Karya Azim Jamal & Harvey Mckimom

RumahMillennials.com | Halo, sobat millenials, kali ini saya akan membahas sebuah buku yang mungkin kamu pernah membacanya. Buku ini berjudul the power of giving karya Azim Jamal dan Harvey Mckimon. Karya mereka membuat saya mendapatkan banyak perspektif baru soal arti memberi.

Disadari atau tidak, kita sering mendefinisikan memberi itu dalam bentuk material: uang, benda dan sebagainya. Akan tetapi, kedua orang ini ‘menampar’ saya bahwa memberi tidak hanya soal materi tetapi kita bisa memberi banyak hal, mulai dari hal yang abstrak sampai yang nyata dirasakan. Uang, waktu, cinta, harapan, dan pengetahuan adalah hal-hal yang kita bisa beri ke yang lain. Dan ternyata, berbagi informasi ataupun mengajarkan seseorang hal baru yang tidak mereka ketahui adalah bentuk nyata dari kita berbagi dengan sesama.

Berbagi itu memberikan dampak yang besar bagi pribadi. Layaknya dua sisi koin yang berlawanan, memberi itu sebenarnya persoalan give and give karena ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain, ternyata kita juga menerima “sesuatu”. Pernahkah kamu ketika berbuat baik kepada orang lain, pada beberapa hari berikutnya kamu mendapatkan sesuatu yang nilainya sama bahkan lebih besar? Itulah hal yang kita terima.

Seringkali, kita hanya melihat kegiatan berbagi itu persoalan take and give, dari luarnya saja, tetapi ada sesuatu hal yang sangat kuat ketika saya ataupun kamu melakukan kebaikan. Rasa puas dan bahagia ketika melihat seseorang yang telah kita bantu itu tersenyum menjadi hadiah yang tak akan terlupakan dan tak bisa dijelaskan.

Berbagi juga soal refleksi diri bahwa masih ada orang yang membutuhkan bantuan kita asal memiliki keinginan untuk membuka mata. Pelajaran paling berharga dari kegiatan berbagi adalah mensyukuri hidup yang telah kita dapatkan. Banyak orang yang mungkin tidak beruntung dan butuh uluran tangan kita.

Harvey dan Azim mengatakan bahwa dalam berbagi, harus didasari konsep CORE (Compassion, Order, Respectful, Empathy). Berbagi kebaikan harus didasari rasa cinta dan saling menghormati serta senstivitas dan kemauan untuk menolong sehingga jika tanpa keempat hal tersebut, kita bukannya berbagi untuk kebaikan tetapi untuk hal yang lain.

Tetapi, hidup ini harus berada dalam keseimbangan. Kita tidak bisa hidup dimana salah satunya terlalu dominan. Azim dan Harvey mewanti-wanti jangan sampai kita terlalu senang berbagi dengan yang lain. Mengapa demikian? Karena ketika terlalu bahagia untuk berbagi, kita cenderung melupakan diri sendiri, padahal diri ini juga perlu diperhatikan.

Meningkatkan kapabilitas diri juga salah satu syarat untuk terus melakukan kebaikan. Seorang guru pun harus selalu belajar agar bisa menangani murid-muridnya dan memberikan pengetahuan yang dibutuhkan. Istirahat terkadang dibutuhkan agar tetap bisa selalu berbagi dengan yang lain.

Melakukan kebaikan bisa kepada siapapun, tidak harus kita menginisiasi gerakan tetapi terhadap teman, keluarga ataupun lingkungan sekitar juga perlu mendapat perhatian. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk melakukan kebaikan. Yang terpenting adalah bagaimana sobat millennials bisa memaksimalkan kekuatannya agar mampu berkontribusi.

Setiap dari manusia memiliki potensi dan keunikannya masing-masing dan kita bisa memanfaatkan potensi yang kita miliki agar bisa melakukan aksi kebaikan kepada yang lain. Misalkan saya bisa menawarkan keahlian menulis saya untuk orang lain atau mengkoreksi skripsi teman.

Perusahaan pun sekarang juga menggunakan konsep berbagi dalam business model mereka. Untuk bisa menjadi perusahaan besar, maka dalam berbisnis yang mereka terapkan harus berorientasi pada masyarakat banyak atau service-oriented.

Bagi perusahaan, pelanggan adalah raja, jadi mereka harus mengutamakan pelanggan, mendengarkan keluhan pelanggan dan bersikap baik kepada mereka agar produk dan jasanya bisa diterima dengan baik di lingkungan. Dalam struktur perusahaan pun, pemimpin juga harus berlandaskan melayani, seperti mendengarkan dan memberdayakan karyawannnya agar mereka bekerja secara maksimal.

            Jadi, kita tidak perlu bingung bagaimana caranya kita melakukan kebaikan dan berbagi dengan sesama. Ada banyak hal yang bisa diberdayakan dan diberikan oleh kita. Hal-hal tersebut sifatnya kondisional, tergantung apa yang dimiliki.

Jika kita tidak memiliki uang, tetapi memiliki waktu, gunakan waktu tersebut untuk mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan. Ataupun sebaliknya, mempunyai uang namun waktu terbatas, pergunakan uangmu untuk berdonasi terhadap proyek-proyek kemanusiaan dan sebagainya. Tetapi, ingat, memberi harus mengacu pada konsep CORE diatas dan tentunya jangan mengharapkan imbalan supaya kita mendapatkan esensi dari berbagi tersebut. (ridho)

Siblings Rumah Millennials

Saya adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Bidang yang saya minati adalah Politik, Keamanan, Hubungan Internasional, Filsafat, Agama, Lingkungan, Pendidikan dan Pengembangan kepemudaan. Memiliki passion dalam menulis artikel dan membaca buku. Beberapa bulan lalu bergabung di Rumah Millennials dan menjadi Kepala Bidang Riset dan Pengembangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *