Manusia Itu Adaptif, Tetapi Kebahagiaan Tidak Hanya Terbentuk Dari Hal Material

RumahMillennials.com | Hai, sobat millennials, sifat manusia itu punya dua sisi lho menurut saya, baik dan buruk. Meski begitu, ada satu karakteristik yang menggambarkan semua sifat manusia. Apalagi kita hidup dimana hal-hal yang bersifat material membuat kita harus mengubah pola pikir kita.

Namun, bukan berarti hal-hal yang sifatnya material itu dapat menghasilkan suatu respon bahagia. Akan ada banyak hal yang akan dibahas mulai dari materialisme, sifat manusia, pola pikir, sampai hal-hal yang menentukan kebahagiaan.

Sobat Millennials, saya akan mulai dulu nih tentang definisi materialisme. Cukup banyak definisi tentang apa itu materialism, seperti yang digambarkan oleh Chan dan Prendergast, dimana materialisme merupakan sebuah pola pikir dimana kepemilikan merupakan hal yang paling utama dan banyak kepemilikan sama dengan lebih banyak kebahagiaan.

Sedangkan Belk RW mengkonsepkan bahwa materialisme adalah seperangkat kepribadian yang menggambarkan tiga sifat: iri, tidak dermawan, dan kepemilikan. Di sisi lain, kata sifat dari materialisme adalah materialistik sebuah kepercayaan dimana memiliki banyak uang dan kepemilikan adalah hal terpenting dalam hidup.

Materialisme diatas dijelaskan dalam konteks ideologi, namun dalam konteks sifat, namanya adalah materialistik. Sama dengan definisi materialisme dimana uang lebih dulu dibandingkan orang. Mereka mendefinisikan kebahagiaan dalam bentuk barang

Namun, sobat millennials penasaran, apa hubungannya sama sifat manusia?
Manusia didefinisikan sebagai makhluk sosial, dimana manusia saling bahu-membahu membantu satu sama lain. Dengan kata lain, manusia merupakan makhluk yang dalam konteks nilai Indonesia menerapkan budaya gotong royong.

Ini merupakan hal yang indah dimana manusia saling bahu-membahu membantu sesama dengan apa yang dimiliki oleh mereka. Saya ingat ketika membaca biografi Bung Karno karya Cindy Adams, ketika keluarga Bung Karno kedatangan tamu, tetangga-tetangganya membantu dengan menyediakan makanan (lebih jauh baca Biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat).

Beberapa sumber mengatakan bahwa manusia itu baik, beberapa diantaranya manusia itu jahat. Tetapi, bagi saya tidak seperti itu. Manusia jauh lebih kompleks dan menurut saya mereka merupakan makhluk yang berkepribadian ganda.

Coba bayangkan, ketika kita melakukan tes kepribadian, kita tidak mungkin hanya memiliki sifat baik, karena kita bukan Malaikat, tapi juga memiliki sifat buruk seperti egois, iri, sombong dan sebagainya. Betapa susahnya kita mengontrol kepribadian kita namun, kepribadian ganda pun nggak bisa mendefiniskan kepribadian manusia.

Mereka itu makhluk yang kompleks. Ada saat dimana mereka bersikap baik dan ada saatnya bersikap jahat. Hampir semua sifat baik dan jahat ada di dalam diri kita, namun apa yang membedakan? LINGKUNGAN DAN SITUASI

Mengapa lingkungan? Saya akan tanyakan beberapa hal ini kepada kamu, bila kamu berada di lingkungan dimana semua orang baiknya, apakah kamu akan melakukan hal sebaliknya? Atau sebaliknya bila kamu berada di lingkungan yang keras dan jahat, apakah kamu akan bersikap lembek?

Bila kamu lapar banget, ketika teman kamu ada yang ingin meminta makananmu, akankah kamu berikan? Atau bila teman kamu meminta kulit ayam, akankah kamu berikan?

Akan ada beberapa jawaban pastinya mengenai pertanyaan saya ini, namun, setiap manusia itu dilahirkan adaptif terhadap segala kondisi apapun. Karena manusia memiliki insting untuk bertahan hidup. Kalau kamu tahu Charles Darwin, kamu pasti tahu tentang hal yang paling utama dari evolusi adalah survival of the fittest, yang paling adaptif yang bertahan.

Oke paham, terus saya nulis definisi materialisme dan kawan-kawannya itu buat apa?
Inti dari apa yang ingin saya sampaikan sobat millennials, liberalisasi dalam era globalisasi, banyak nilai-nilai dari luar yang sudah masuk ke wilayah pemikiran kita, salah satunya adalah materialisme. Definisinya sudah disebutkan bahwa materialisme adalah tentang kepemilikan suatu materi seperti harta dan uang.

Selain itu, sistem ekonomi kita ini sudah memasuki era pasar bebas yang intinya menekankan pada kompetisi siapa yang lebih baik dan banyak meraup keuntungan serta mampu menjawab tantangan pasar. Namun, kalau dilihat sedikit lebih dalam, sistem ini membuat kita harus adaptif juga, sehingga saling-saling berlomba-lomba siapa yang mendapatkan keuntungan lebih banyak.

Ketika materialisme dan pasar bebas dikombinasikan, akan muncul sebuah pola pikir yang menekankan pada bagaimana meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Kamu mungkin pernah mendengar kalimat “Time is Money”? Itu salah satu pengaruh nyata dari pola pikir materialisme.

Kalimat tersebut seakan menekankan bahwa waktu yang terbuang adalah uang yang terbuang. Sehingga, meraih uang menjadi orientasi paling utama dalam kehidupan dan membuat kita lupa bahwa ada hal yang lebih penting dari uang.

Meraih finansial yang sehat adalah hal wajar, karena kita juga harus adaptif terhadap sistem yang bekerja di kehidupan sekarang. Bahkan, sebenarnya ketika kita ingin melakukan kegiatan, ketika tidak ada uang, bagaimana kita pergi ke tempat kegiatan kita. Namun, kamu harus ingat, uang bukanlah tujuan utama.

Mungkin uang mempengaruhi pola pikir kita, namun jangan sampai uang mempengaruhi hati kita. Apalagi, ketika teman meminta tolong, empati kita yang harus bekerja lebih dulu dibanding keuntungan material. Banyak hal yang tidak dapat dibeli di toko ataupun minimarket seperti harapan untuk meraih mimpi, pengalaman bersama keluarga atau sahabat dan lain-lain.

Saya senang banget ketika mendengar “Rezeki mah udah diatur tinggal usaha kita aja”. Rezeki bukan termasuk uang juga kan, tapi teman baru, keluarga baru, koneksi baru itu juga termasuk rezeki. Kita mungkin berusaha untuk lebih peka terhadap hal-hal atau rezeki yang sifatnya abstrak. Selain itu, uang memang sekarang kebutuhan, namun kebahagiaan dapat diperoleh dengan banyak cara. (rizky)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *