Yuk, Biasakan Membaca Buku di Kala Luang

Yuk, Biasakan Membaca Buku di Kala Luang

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”
Mohammad Hatta

JAKARTA – RumahMillennials.com | Halo sobat millennials, mungkin kamu pernah mendengar quotes dari Bung Hatta diatas. Iya, beliau adalah founding fathers kita. Kalimat ini menunjukkan betapa beliau sangat mencintai buku. Bahkan, pernah diceritakan bahwa sebenarnya cinta pertama bung hatta adalah buku. Kali ini sobat millennial, saya akan membahas suatu budaya yang sederhana tetapi dampaknya luar biasa, yakni Membaca.

Kata membaca berkaitan erat dengan literasi meskipun literasi memiliki pengertian yang lebih luas. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa budaya membaca harus dibiasakan. Ketika saya bertemu dengan orang yang pengetahuannya luar biasa luas baik di Televisi maupun seminar, dalam benak diri saya bertanya, “bagaimana dia bisa memiliki pengetahuan yang sangat luas?” Mungkin mereka sering berdiskusi dengan teman sejawatnya, atau bisa jadi karena mereka belajar dari pengalamannya.

Saya berpikir dan akhirnya mulai menemukan sebuah jawaban yang ternyata jawabannya itu menggelitik. Saya pikir orang yang memiliki pengetahuan luas itu karena mereka membaca. Saya akan coba memberikan argumentasi soal ini.

Contoh disini, misalkan kita berdebat tentang isu politik ataupun demokrasi. Ketika kita berdebat atau berdiskursus, kita pasti mengandalkan akal pikiran kita untuk berargumen dengan lawan bicara kita. Tetapi, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana membekali akal pikiran dan imajinasi serta kosakata?

Mungkin kalau kosakata, memang ada orang yang pandai berdebat dan berkomunikasi sehingga itu tidak jadi masalah. Namun, bagaimanapun, kita membutuhkan basis pengetahuan yang kuat bukan sekedar pandai berbicara saja. Lalu, bagaimana kita mendapatkan basis pengetahuan tersebut? Bisa dari teman ataupun senior yang ahli, namun pertanyaan itu akan terus bermunculan, darimana mereka mendapatkan pengetahuan tersebut?

Kita sering melihat bagaimana orang-orang di pemerintahan kita ataupun penggerak komunitas ketika berdiskusi, mereka mengeluarkan sejuta pikiran dan kosakata yang bagi saya mampu membuat pikiran kita mengalami mind-blowing. Ketika berbicara mengenai demokrasi dan pemerintahan, orang – orang di pemerintah mampu menjelaskan secara apik karena mereka juga berkecimpung di dalamnya.

Ataupun dari penggerak komunitas, mereka mampu menjelaskan nilai komunitas yang dibentuk. Namun, misalkan Pak Fahri ataupun Pak Bamsoet berpengalaman, saya tidak yakin bahwa pengalaman tanpa pengetahuan mampu membuat mereka sejauh itu. Kalau tidak, mana mungkin mereka bisa membuat buku. Penggerak komunitas pun memang mereka terjun ke lapangan sehingga mengetahui fakta yang ada, namun untuk membentuk komunitas itu sendiri dengan spesialisasi atau passion mereka masing-masing, mereka butuh rasa khawatir.

Kita tidak mungkin pergi ke suatu daerah ke daerah lain, apa yang kita lakukan jika kita tidak mampu melihat fakta secara langsung? Ya membaca. Saya bersama senior sekaligus teman saya membuat komunitas karena kita membaca tajuk berita dan statistik mengenai kondisi sampah di Jakarta sehingga memotivasi kami untuk bergerak.

Argumen ini menjadi basis saya untuk menulis artikel ini dan saya ingin mengajak anda untuk membiasakan diri membaca buku. Kenapa buku? Mungkin ada beberapa yang mengatakan bahwa anak-anak di Indonesia memiliki berbagai metode untuk mendapatkan knowledge, mulai dari menonton video, film documenter dan sebagainya.

Saya berpendapat, bahkan membuat video pun mereka harus membaca dan memiliki sumber yang jelas untuk menghasilkan sebuah video ataupun film dokumenter. Bagi saya, buku itu membentuk imajinasi dan persepsi saya mengenai banyak hal mulai dari peradaban manusia, astronomi, agama, demokrasi dan sebagainya. Imajinasi dan persepsi itulah yang berkembang menjadi pemikiran-pemikiran orisinil kita. Dan tentunya, di zaman sekarang, di tengah arus teknologi, semua hal menjadi terdigitalisasi termasuk buku.

Kalimat Bung Karno, yaitu “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” itu membuat saya berpikir mengenai sejarah terutama mengenai berbagai penemuan yang muncul dan saya memiliki interpretasi sendiri. Ketika memikirkan bagaimana Leonardo Da Vinci dan Christian Huygens yang ahli dalam banyak bidang dan mereka berada di kondisi yang diwarnai oleh dominannya otoritas agama sehingga membatasi perkembangan pengetahuan, tetapi mereka mampu menguasai berbagai bidang yang dikuasai mereka.

Membaca sejarah mengenai orang atau inovator terdahulu menjadi motivasi saya untuk membaca dan mengembangkan pemikiran saya sehingga saya bisa menjadi seperti mereka. Oleh karenanya, dengan banyaknya media untuk membaca buku, Yuk, kita mulai biasakan untuk membaca buku di kala luang. (Rizky)

Siblings Rumah Millennials

Saya adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Bidang yang saya minati adalah Politik, Keamanan, Hubungan Internasional, Filsafat, Agama, Lingkungan, Pendidikan dan Pengembangan kepemudaan. Memiliki passion dalam menulis artikel dan membaca buku. Beberapa bulan lalu bergabung di Rumah Millennials dan menjadi Kepala Bidang Riset dan Pengembangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *