[Book Review]: The Art Of Listnening: Mendengar Yang Tak Terucap, Memahami Yang Tak Tersampaikan

[Book Review]: The Art Of Listnening: Mendengar Yang Tak Terucap, Memahami Yang Tak Tersampaikan

JAKARTA – RumahMillennials.com | Sobat millennials sering gak sih ngerasa gak didengar oleh orang lain saat menyampaikan suatu pendapat, ide, atau curhat? Wah senasib dong hahaha. Well, mendengarkan itu memang kelihatannya sederhana. Manusia dianugerahi dua telinga dan satu mulut, jadi pastilah seharusnya mendengar itu tidak sulit. Tapi anehnya, banyak orang yang cenderung lebih sering berbicara daripada mendengar.

Banyak orang yang semangat belajar menjadi good public speaker, tapi jarang orang belajar bagaimana jadi good lisntener. Akibatnya, banyak terjadi kesalahpahaman, perselisihan karena berbeda pandangan, dan bahkan bisa menjadi pemicu rusaknya suatu hubungan dalam keluarga.

Atas dasar inilah, Mutia Sayekti akhirnya memberikan pandangannya betapa pentingnya kemampuan mendengar untuk memahami. Setelah menerbitkan buku pertamanya “Berdamai Dengan Diri Sendiri”, Mutia Sayekti kembali menerbitkan buku terbarunya dengan judul “The Art of Listening”.

Mutia Sayekti, sang penulis buku The Art of Listening

Dalam buku “The Art of Listening”, Mutia mengajak pembaca untuk memahami arti sebenarnya dari listening. Dalam bahasa Inggris, ada pilihan tiga kata untuk mendefinisikan mendengarkan. Ketiga kata ini memiliki tingkatan yang berbeda – beda.

Tingkatan paling rendah adalah hearing yaitu ketika kita mendengar suara secara tidak sengaja di suatu tempat dengan radius jarak tertentu yang paling dekat. Contohnya, kita di dalam ruangan bisa mendengar suara mobil lewat tapi kita tidak terfokus pada suara tersebut.

Yang kedua adalah overhearing yaitu ketika kita tidak sengaja mendengar sesuatu yang ternyata memiliki konten penting untuk didengarkan. Misalnya, saat sedang di dalam perpustakaan, kita mendengar pengumuman bahwa perpustakaan akan ditutup sementara waktu karena ada perbaikan. Sontak otak dan telinga kita merespon pengumuman itu tapi tidak menatap dan melihat sang pemberi pengumuman tersebut.

Tingkatan paling tinggi yaitu listening; orang sejak awal memang ingin menyimak apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya, maka ia akan mengatur dirinya sedemikian rupa untuk bisa memahami apa yang bisa disampaikan oleh lawan bicaranya.

Banyak orang yang merasa dirinya mendengarkan apa yang disampaikan lawan bicaranya, tapi sebenarnya dia tidak benar – benar mendengarkan dengan seksama. Atau ada juga orang yang mendengarkan orang lain hanya untuk membalas argument lawan bicaranya tersebut tanpa memahami apa yang didengarnya tersebut.

Di lingkungan keluarga, sering kali orang tua yang merasa lebih berpengalaman dan tahu masa depan yang terbaik untuk anaknya tidak mau mendengarkan isi hati anaknya terkait pilihan hidupnya. Sedangkan dari sisi anak, banyak anak yang merasa tahu tentang dirinya sendiri sehingga menolak segala wejangan yang disampaikan oleh orang tuanya.

Sama halnya terjadi di lingkungan kerja, atasan yang merasa ‘mengatasi’ karyawannya merasa superior sehingga mengabaikan ide – ide kreatif bawahannya. Sedangkan bagi bawahan, mereka merasa idenya adalah yang terbaik sehingga menolak segala feedback yang disampaikan oleh rekan kerjanya atau atasannya.

Kompleks ya masalah – masalah yang diakibatkan karena keengganan kita dalam memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicara kita. Dampak negatif dari keenganan kita dalam mendengarkan bisa sampai merusak hubungan dengan orang – orang terdekat.

Hanya karena tidak mau mendengar, banyak anak-orang tua yang konflik, suami-istri bisa sampai cerai, perusahaan-karyawan memutus hubungan kerja, dan pemimpin yang semena – mena. Karena itulah, dalam buku “The Art of Listening”, Mutia mengajak kita tidak hanya mendengar dalam konteks “hearing” tapi mendengarkan dengan seksama, memahami apa yang disampaikan oleh orang lain dalam konteks “listening”.

Sehingga, kita bisa memahami pesan sebenarnya yang ingin disampaikan oleh lawan bicara kita. Dengan begitu, kita tidak salah memberikan respon kepada lawan bicara dengan sikap kita. Adakalanya lawan bicara kita menyampaikan sesuatu dengan maksud baik, tapi karena kurangnya kemampuan kita dalam mendengar, sering kali kita gagal memahami maksud dari pesannya.

Jadi sobat millennials, yuk kita lebih banyak mendalami kemampuan mendengar untuk memahami suatu pesan komunikasi sehingga kita tidak mudah baper. Memang ada baiknya pesan yang baik disampaikan dengan cara yang baik pula.

Tapi, terkadang “cara yang baik” dalam berkomunikasi itu bisa berbeda menurut masing – masing individu karena itu berhubungan dengan kultur di lingkungan keluarga, pendidikan, atau kerja. Yang bisa kita lakukan adalah tidak cepat menghakimi tetapi coba mendengarkan dengan seksama, pahami pesannya baik – baik agar kita tidak salah paham. (audi)

 

Journalist and Publication Coordinator at Rumah Millennials
The man who love to share about interesting and unique story of Indonesia as well as youth development through youth organization community. Currently, Audi started his career as public speaker in radio and being freelance MC and Moderator for several events

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *