[REVIEW BUKU] Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja

[REVIEW BUKU] Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja

RumahMillennials.com | Abad ini, dunia seolah digemparkan dengan munculnya seorang generasi yang tenar disebut “Millennials”. Namun, tunggu dulu. Coba cari tahu, apakah kamu seorang generasi millennials atau bukan. Yup, mungkin kamu akan mulai berpikir seperti saya saat ini yang menganggap bahwa saya juga tim #generasimillenials. Jika kamu lahir pada rentang tahun 1995-2012, mulai buang jauh jauh deh kalau kamu generasi Millennials. Generasi Z, itulah sebutan bagi generasi kamu yang lahir antara tahun 1995 – 2012.

Generasi Z sangatlah berbeda dengan generasi Millennials. Menurut Majalah Time, 47% Millennials sudah menjadi orang tua, memiliki rumah, menyelesaikan kuliah, dan meniti karir. Generasi Z sungguhlah berbeda. Dengan jumlah 72,8 juta, generasi Z hadir pada dunia kerja dan perusahaan. Usia terdepan mereka sekitar dua puluh tahunan dan dianggap mereka merupakan anak dari orang tua mereka, Generasi X.

Dalam buku “Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja” karya ayah dan anak yaitu David Stillman dan Jonah Stillman ini, kita akan membahas tentang generasi Z sebagai suatu generasi baru yang mulai menyerbu dunia kerja, terlebih akan memperkenalkan sosok generasi Z dengan sifat- sifat mereka di lingkungan kerja. Mengapa kita harus mengenal mereka? Agar kita dapat memahami mereka sebagai generasi baru yang tidak sama dengan millennials. Yuk, kita bahas 7 sifat Generasi Z.

  1. Figital: ketika lahir, Generasi Z melihat dunia dengan segala kemajuan teknologinya. Mereka hidup di dunia baru di mana kemajuan teknologi yang sangat pesat, penghalang antara fisik dan digital sudah dihilangkan. Itulah kita sebut Figital. Generasi Z akan hadir di lingkungan kerja dengan sesuatu hal yang baru dimana tidak terjadi pada generasi sebelumnya. Generasi Z akan memadukan sisi fisik dan digital dengan cara mengkonsumsi, hidup, dan bekerja. Skype, Line, Whatsapp, misalnya. Mereka menganggap bahwa penerapan figital sebagai solusi dalam meningkatkan budaya organisasi. Meskipun serba figital, tapi jangan meremehkan nilai dan etika mereka, karena hampir keseluruhan mereka menyukai atasan atau rekan kerja dengan tatap muka secara langsung. Sembilan puluh satu persen (91%) generasi Z mengatakan bahwa kecanggihan teknologi suatu perusahaan juga berpengaruh terhadap penilaian mereka untuk bekerja pada perusahaan tersebut. Apakah kamu salah satunya?
  1. Hiper-Kustomisasi: Generasi Z selalu berusaha untuk menyesuaikan identitas mereka dan melakukan kustomisasi agar dikenal dunia. Kemampuan mereka untuk mengustomisasi segala sesuatu menimbulkan ekspektasi bahwa perilaku dan keinginan mereka sudah sangat akrab untuk dapat dipahami. Nama jabatan, jalur karir, salah satunya. Hal ini memunculkan tekanan yang cukup sulit bagi dunia kerja yang notabene terfokus untuk bersikap adil dan memberikan perlakuan sama bagi semua orang. Sejumlah 56% dari mereka memilih membuat uraian pekerjaan sendiri daripada diberikan deskripsi yang sudah umum.
  1. Realistis: Generasi Z sudah mengalami masa krisis berat sejak dini dimana hal ini membentuk pola pikir pragmatis dalam merencanakan dan mempersiapkan masa depan. Dalam lingkungan kerja, hal ini menciptakan kesenjangan yang cukup lebar antara millennial yang idealis duduk sebagai manajer garis depan. Dengan sifat tersebut, lebih baik selalu bersikap realistis terhadap apa saja yang perlu dilakukan oleh Gen Z untuk bertahan atau bahkan terus maju.
  1. FOMO: Mungkin tidak asing lagi bagi kita mendengar istilah ini. Bangun tidur cek Hp untuk update terkini, misalnya. Gen Z termasuk orang yang sangat takut ketinggalan informasi. Mereka selalu menjadi yang terdepan dalam trend dan kompetisi. Namun, kabar buruknya mereka selalu khawatir jika mereka bergerak kurang cepat dan tidak menuju arah yang benar. Dunia kerja akan tertantang oleh Gen Z yang selalu ingin memastikan mereka tidak ketinggalan. Sehingga manfaatkan kemampuan gen Z dalam “mengintip” dan gunakan kemampuan Gen Z dalam mengambil resiko di lingkungan kerja.
  1. Weconomist: Gojek hingga Airbnb sebagai salah satu contoh bahwa Gen Z hanya mengenal dunia dengan ekonomi berbagi. Gen Z menekan kantor untuk memilah bagian- bagian internal dan eksternal guna mendayagunakan perusahaan dengan cara-cara baru yang praktis dan hemat biaya. Gen Z mendayagunakan kekuatan “kami” dalam peran mereka sebagai filantropis. Gen Z juga berharap kemitraan dengan atasan untuk memperbaiki hal-hal yang tidak beres yang mereka lihat di dunia. Sebanyak 93% Gen Z memutuskan untuk memilih perusahaan yang memiliki kontribusi terhadap masyarakat.
  1. DIY: Mungkin sebagian dari kita juga percaya dengan do-it-yourself atau lakukan sendiri dapat mempermudah segala urusan kita lebih cepat dan baik. Sama halnya dengan Gen Z yang tumbuh dengan dunia internet khususnya youtube yang dapat mengajari mereka melakukan apa saja. Gen Z sangat mandiri dan akan berbenturan dengan budaya kolektif yang sebelumnya diperjuangkan oleh generasi Millennials. Gen Z percaya dengan pernyataan, “ Jika ingin melakukannya dengan benar, lakukanlah sendiri”. Apakah kamu juga seperti itu?.
  1. Terpacu : Gen Z meyakini adanya pemenang dan pecundang. Resesi yang membuat pendahulu mereka goyah serta laju perubahan yang sulit dikejar, tidak mengherankan Gen Z menjadi generasi yang terpacu. Gen Z siap dan giat dalam berkompetitif, dan ini tidak dimiliki generasi terdahulu. Perusahaan mengalami tekanan untuk meyakinkan Gen Z bahwa mereka adalah Tim Juara. Sejumlah 72% menyatakan bahwa mereka kompetitif terhadap orang yang melakukan pekerjaan sama.

David Stillman sang penulis buku mengajak anaknya, Jonah Stillman untuk menulis bersama dan menyebarkan hasil riset mereka berdua kepada dunia tentang keberadaan Gen Z. Uniknya, selalu ada pertanyaan yang dilemparkan Jonah Stillman yang juga Gen Z- kepada ayahnya terkait karakter Generasi Z ini. Dalam buku ini juga terdapat dialog antara ayah dan anak yang menambah kesan nyata pada karya ini.

Secara keseluruhan, buku ini menyajikan hasil riset terhadap Gen Z yang dilakukan penulis sebagai data konkrit dalam menyampaikan tulisan. Penyajian bahasa cukup sulit dipahami namun penulis memberikan contoh analogi pada kehidupan sehari- hari yang mudah dipahami oleh pembaca. ‘Kejutan Karakter’ dalam memahami karakter Gen Z disetiap akhir bab yang membuat pembaca dalam memahami isi tulisan buku ini terkhusus bagi perusahaan yang mulai mempersiapkan perekrutan bagi generasi Z.

Terakhir, tujuan penulis dalam menulis buku ini yaitu untuk memelopori dialog seperti apa Generasi Z di dunia kerja. Penulis berharap bahwa inilah saatnya dunia mengenal Generasi Z. Generasi yang siap memasuki dunia kerja. Tantangan terberat mereka bukan tentang jiwa pemuda mereka, melainkan  menyakinkan para generasi terdahulu dapat bersifat senang terhadap mereka. Dari pertanyaan yang bisa mencerahkan tentang siapa mereka hingga mengapa mereka bisa berpikir seperti itu. Ingatlah, perubahan ini tidak semuanya hanya tentang kita, yakni Generasi Z.(elvin)

Dreamer | Writer | Muslim Traveler
Journalist of RumahMillenials.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *