[REVIEW BUKU] Berdamai Dengan Diri Sendiri, Seni Menerima Diri Apa Adanya

[REVIEW BUKU] Berdamai Dengan Diri Sendiri, Seni Menerima Diri Apa Adanya

RumahMillennials.com | Buku “Berdamai dengan diri sendiri: Seni menerima diri apa adanya”, ditulis oleh Muthia Sayekti, seorang pengajar di sebuah sekolah swasta di desa daerah Juwiring, Klaten, Jawa Tengah. Perempuan kelahiran Semarang 12 Desember 1993 ini lulusan sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo. Dia sudah menyukai literasi bahasa baik secara lisan maupun tulisan sejak kecil.

Dia pernah dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Sastra UNS dan sempat mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang Mass Media dalam program Jenesys 2.0 di Tokyo dan Kobe. Dia mulai menekuni dunia literasi sejak bergabung dalam komunitas SOTO BABAT dari penulis kenamaan Purwokartun.

Awal mula buku “Berdamai dengan diri sendiri: Seni menerima diri apa adanya”, dimulai saat Muthia Sayekti mengalami gejolak dalam hatinya akan jati dirinya sendiri. Gejolak ini dimulai saat tahun 2015, dimana Muthia saat itu masih baru saja lulus UNS dan langsung mendapatkan pekerjaan untuk menjadi staff pengajar di sebuah instansi pendidikan swasta. Cerita ini dibahas dalam bab “Alihkan Fokus”.

Pada awalnya, Muthia bersemangat menjalani hari – harinya sebagai pengajar muda di instansi swasta tersebut. Namun, setelah setahun menjalani profesi ini, teman – teman Muthia mulai meninggalkan kota tempat mereka belajar. Ada yang ke ibukota, lanjut pendidikan di luar negri, dsb.

Hal itu menimbulkan rasa kagum dan iri pada diri Muthia. Dia merasa bahwa dia ingin terbang lebih tinggi lagi, ingin melakukan banyak hal – hal lain lagi, ingin mengambil langkah untuk menggapai mimpinya. Tapi, tempat dia bekerja menuntut kontribusi penuh dan loyalitas tinggi.

Hal ini membuat Muthia harus menunda mimpi – mimpinya tersebut. Ditambah lagi, secara finansial pekerjaan ini belum membuat dirinya mapan. Dia mengatakan masa – masa itu adalah masa – masa yang berat. Sampai akhirnya sebuah turning point momen dimana Muthia bertemu dengan sepupunya yang sama – sama lulus di tahun 2015. Bedanya, sepupunya ini belum mendapatkan pekerjaan hingga hari mereka bertemu (sekitar 2016), sedangkan Muthia langsung dapat pekerjaan.

Dari situ Muthia menyadari betapa tidak bersyukurnya dia akan apa yang dia miliki. Perlahan tapi pasti, Muthia mulai mengalihkan fokus pikirannya terhadap apa yang dia miliki. Sedikit demi sedikit mulai bisa berdamai dengan kenyataan dan mengarsipkan satu per satu mimpi yang mungkin bisa direalisasikannya dalam waktu dekat (atau jauh).

Tapi masalahnya dia tidak berhenti sampai disitu. Muthia kembali mengalami masalah yang populer dikalangan generasi millennials yaitu quarter life crisis. Dia merasa susah tenang karena melihat banyak kelebihan di diri orang lain sementara hidupnya begitu – begitu saja. Dengan menulis buku, dia seolah mengobati pikirannya setidaknya dia bisa berbagi dengan pembacanya.

Dalam buku ini, Muthia mengajak pembaca untuk menerima apapun yang dianugerahkan oleh Allah SWT dalam diri kita baik itu kekurangan maupun kelebihan. Banyak kaula muda yang terlalu sibuk dengan kegalauannya mencari jati diri, merasa kurang ini – itu padahal banyak potensi dalam dirinya yang belum dimaksimalkan. Untuk memaksimalkan kelebihan itu, pertama kita berdamai dulu dengan diri sendiri dengan rasa syukur dan fokus kepada apa yang kita lakukan. Tidak perlu melihat rumput tetangga lebih hijau daripada kita alias melihat hidup orang lain (keliatan) lebih baik dari kita. Hidup kita sebenarnya baik – baik saja, pikiran kita saja yang membuat seolah – olah hidup kita susah.

Kemudian maksimalkan kelebihan apapun yang kita miliki dengan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kelebihan kita dan totalitas dalam melakukannya. Misalnya, ada yang jago main sepak bola sebagai centre back ya sudah maksimalkan saja menjadi centre back yang tangguh, tidak perlu memaksakan diri menjadi seorang centre forward atau gelandang serang karena potensi terbesarnya adalah seorang bek yang mengawal pertahanan.

Setelah memaksimalkan kelebihan, jadikan kekurangan sebagai unique point yang kita miliki. Tidak ada satupun manusia yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Namun, kekurangan tersebut bukan penghalang kita untuk menjadi pribadi yang baik tapi bisa saja kita gunakan sebagai keunikan. Dalam kehidupan professional, kekurangan kita bisa ditutupi oleh orang lain yang punya lebih di poin itu, begitu juga kita bisa mengisi kekurangan orang lain.

Setelah itu, bersyukur dengan apa yang kita miliki! Jangan terlalu sibuk melihat hidup orang lain, apalagi saat melihat social media, kita jangan iri dengan teman – teman kita yang sudah jalan – jalan keluar negri, atau kelihatannya hidupnya happy banget. Yang di social media itu belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, bisa saja mereka juga mengalami quarter life crisis tapi mereka tutupi dengan postingan yang seolah – olah mereka bahagia. Fokus saja dengan apa yang kita lakukan, mimpi kita yang ingin kita gapai, tidak perlu melihat hidup orang lain. (audi)

Penulis: Muthia Sayekti
Tahun: 2017
Penerbit: Psikologi Corner
Kota Terbit: Yogyakarta

Daftar Isi
Bagian Belakang Buku

Journalist and Publication Coordinator at Rumah Millennials
The man who love to share about interesting and unique story of Indonesia as well as youth development through youth organization community. Currently, Audi started his career as public speaker in radio and being freelance MC and Moderator for several events

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *