Semangat Kartini Menyambut Hari Pendidikan di Acara Future Destination 3.0

Semangat Kartini Menyambut Hari Pendidikan di Acara Future Destination 3.0

JAKARTA – RumahMillennials.com | Dalam merayakan hari Kartini dan menyambut hari pendidikan nasional, Rumah Millennials, Parfi 56, dan Pusbangfilm menghadirkan kembali acara kolaborasi “Future Destination 3.0” dengan tema “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Acara ini membahas dibalik pembuatan film Kartini yang sudah ditayangkan tahun 2017 lalu dan juga karakter perempuan Indonesia.

Seri terakhir Future Destination kali ini menghadirkan produser film Kartini Robert Ronny, sutradara film Kartini Hanung Bramantyo, aktris muda Prilly Latuconsina, dan Wanda Hamidah sebagai moderator acara.

Berbicara mengenai film Kartini, produser Robert Ronny mengatakan alasan mengangkat sosok R.A. Kartini ke layar lebar karena banyak perempuan Indonesia yang menginspirasi melalui gerakan dan karyanya tetapi masih kurang di ekspos.

Sosok R.A. Kartini yang sudah dianggap menjadi tokoh emansipasi wanita di Indonesia diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk terus berjuang menggapai mimpinya. “Karena itu kami ingin mengenalkan kepada penonton sosok Kartini yang sebenarnya seperti apa. Melalui film, kami ingin mengkomunikasikan hal itu kepada penonton” ujar Robert dalam sesi talkshow.

Namun dalam proses pembuatan film Kartini harus dilalui penuh tantangan. Hanung Bramantyo mengatakan tantangan dalam pembuatan film Kartini tidak mudah. Dalam sesi talkshow, Hanung menyatakan untuk membuat film Kartini ini ada tiga tantangan besar, yang pertama stigma masyarakat mengenai film pahlawan itu film yang berat.

Tantangan kedua menurut Hanung, image masyarakat mengenai film Indonesia masih rendah. Penonton cenderung memilih film-film dari luar negri ketimbang menonton film Indonesia. “Hal ini dikarenakan negara belum menganggap film tidak penting sehingga apresiasi terhadap film Indonesia masih rendah” tambah Hanung.

Tantangan yang terakhir, Hanung memaparkan bahwa bahasa Indonesia sudah terjajah. Terutama generasi muda Indonesia sudah tidak lagi berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketiga tantangan inilah yang dihadapi Hanung Bramantyo dan produser Robert Ronny dalam pembuatan film Kartini.

PEREMPUAN INDONESIA DI ERA MILLENNIAL
Mengenai perempuan Indonesia dalam era millennial, Prilly Latuconsina mewakili generasi millennial mengatakan bahwa perempuan Indonesia harus memiliki kesetaraan dengan laki-laki terutama dalam hal pendidikan. Prilly melihat bahwa masih banyak perempuan Indonesia yang tidak memiliki akses pendidikan yang memadai.

“Masih banyak yang berpikir terutama para laki-laki bahwa perempuan untuk apa belajar tinggi-tinggi, untuk apa pintar, ujung-ujungnya urusannya dapur. Pemikiran yang seperti inilah yang harus dibuang jauh-jauh”. Menurut Prilly, pendidikan penting bagi perempuan karena perempuanlah yang lebih dekat dengan anak.

“Perempuan yang akan lebih dekat dengan anak nantinya karena laki-laki harus pergi bekerja untuk mencari nafkah. Kalau perempuan tidak memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, bagaimana nanti dia mendidik anaknya” tambah Prilly.

Prilly melihat sosok Kartini merupakan role model bagi perempuan Indonesia untuk terus menempuh pendidikan sampai tinggi dan mempertahankan hak perempuan untuk menggapai mimpi-mimpinya.

Sejalan dengan Prilly, Hanung Bramantyo juga memiliki pandangan yang serupa mengenai perempuan Indonesia. Hanung menyatakan “perempuan memiliki tiga hal yang tidak dimiliki laki-laki, pertama struktur tubuh lain (memiliki payudara), ke-dua perempuan bisa hamil dan melahirkan, dan ke-tiga Perempuan punya masa menstruasi. Karena itulah, penting bagi kita untuk memuliakan perempuan”.

Dengan film Kartini, diharapkan semangat Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi perempuan Indonesia di era millennial agar tidak menyerah dalam menggapai mimpinya. (audi)

Public Relation at Rumah Millennials

Content creator on Youtube who share about interesting and unique story of Indonesia and also passionate with public speaking amd youth development

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *