[REVIEW BUKU] “Generasi Phi” Istilah Baru Untuk Millennials Indonesia

[REVIEW BUKU] “Generasi Phi” Istilah Baru Untuk Millennials Indonesia

RumahMillennials.com | Hai sobat millennials, gimana kabarnya hari ini? Aktivitasmu lancar? Semoga, sobat millennials semua yang lagi kuliah maupun kerja selalu di lancarkan aktivitasnya, Aamiin.

Kata ‘millennials’ kayaknya udah gak asing lagi ya di telinga kita semua. Secara, saya sendiri menyapa temen-teman pembaca dengan kata ‘sobat millennials’. Generasi millennials menurut media Amerika Time Magazine,mereka yang lahir di tahun 1980 – 2000. Generasi millennials sendiri di kenal sebagai generasi yang digital addict, narsis, social media addict, dan suka menciptakan inovasi – inovasi baru yang kreatif dan out of the box.

Paham ini jugalah yang dipakai oleh Yoris Sebastian, dalam bukunya berjudul “Generasi Langgas”. Yoris mengatakan bahwa generasi millennial adalah generasi yang memiliki energi kreatif yang berbeda dibandingkan generasi – generasi sebelumnya.

Namun, sekitar 3 bulan yang lalu, tepatnya di akhir Desember 2017, ada sebuah buku yang memberikan paparan yang berbeda mengenai generasi millennials. Buku itu berjudul “Generasi phi (π): Generasi Pengubah Indonesia” yang ditulis oleh Dr. Muhammad Faisal, founder dari Youthlab Laboratory.

Dalam buku “Generasi Phi”, Dr. Muhammad Faisal mengkategorikan generasi millennials sebagai generasi phi (π). Mereka yang lahir di tahun 1989 – 2000. Alasan penggunaan huruf Yunani, karena huruf π menggambarkan peran penting dalam lingkaran siklus generasi yang akan menyempurnakan siklus dari generasi pengubah Indonesia yang pertama atau yang Dr. Faisal sebut generasi α, generasi yang tumbuh besar saat masa penjajahan hingga kemerdekaan.

Dr. Faisal juga mengatakan bahwa generasi π tidak bisa disamakan dengan teori – teori generasi millennials dari Amerika. Ini dikarenakan, generasi π tumbuh dewasa di dalam situasi ekonomi – politik yang berbeda dengan generasi – generasi sebelumnya.

Reformasi tahun 1998 menjadi kuncinya, dimana generasi π saat itu masih rata – rata dibawah 10 tahun. Mereka tidak merasakan hidup di era orde baru dimana masyarakat Indonesia sangat dibatasi ruang geraknya dalam berpendapat terutama mengkritik pemerintah.

Setelah reformasi 1998, kemunculan berbagai innovasi teknologi bermunculan seperti tren penggunaan internet, social media, hingga smartphone. Karena itulah, generasi π tumbuh besar saat teknologi dan informasi berkembang pesat.

Mereka tidak ragu untuk berekspresi di ruang public dan social media. Mereka juga kreatif dalam menciptakan inovasi – inovasi baru dalam bisnis seperti munculnya Gojek, kitabisa.com, dan Tokopedia.

Profesi – profesi baru yang tidak pernah ada sebelumnya tiba – tiba menjadi trend an menjadi pilihan karir generasi π seperti celebgram, Youtuber, fashion blogger, dan game enthusiast. Ini semua tak lepas dari karakterk generasi π yang mengedepankan passion dan value dalam berkarya.

Youtuber salah satu profesi baru yang diciptakan oleh generasi π seiring perkembangan teknologi dan social media

Sebagai orang yang lahir di tahun 1993, saya sendiri adalah salah satu bagian dari generasi π. Saya akui memang teman – teman se-generasi saya mempunyai jiwa kreatif dan sangat menggebu – gebu dalam berkarya. Terutama, berkarya untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Rata – rata, karya yang dibuat generasi π adalah karya yang ada untuk menyelesaikan suatu masalah yang ada dalam masyarakat dan membuat hidup orang lain menjadi lebih baik.

Salah satunya adalah kitabisa.com yang dibangun oleh salah satu generasi π, Alfatih Timur. Dulu, orang kesulitan untuk menggalang dana. Saat masyarakat memiliki masalah kesehatan dan butuh sumbangan biaya pengobatan, mereka tidak tahu harus kemana.

Ada juga para aktivis dan komunitas yang ingin menggalan dana untuk kegiatan sosial, dulu mereka rata – rata harus turun ke jalanan untuk meminta dana atau mengajukan proposal ke berbagai perusahaan. Sekarang, dengan adanya kitabisa.com, memudahkan masyarakat menggalang dana untuk kepentingan mereka.

Dengan online fundarising yang mengusung konsep bisnis fintech dan sosial, kitabisa.com menjadi platform online fundarising nomor satu di Indonesia. Banyak orang yang hidupnya terbantu karena adanya kitabisa.com. Para aktivis dan komunitas juga punya platform untuk menggalang dana agar kegiatan sosial mereka bisa berjalan lancar. Alfatif Timor dan timnya berhasil membuat karya yang membantu kehidupan orang lain.

Alfatih Timur founder dari kitabisa.com, salah satu generasi π yang sukses berinvoasi dalam bidang online fundraising dan fintech

Kitabisa.com hanya satu dari sekian banyak contoh generasi π yang berkarya dengan mengedepankan misi sosial dan business value. Yang dilakukan Alfatif Timor menginspirasi banyak generasi π untuk terus berinovasi, berkarya, dan menciptakan suatu hal baru yang dapat membuat Indonesia lebih baik. Pada akhirnya, misi generasi π adalah untuk menjadikan Indonesia lebih baik.

Ini membuktikan bahwa generasi π tidak apatis dengan apa yang terjadi saat ini di Indonesia,.Oleh karena itu, generasi π terus bersemangat untuk meningkatkan skill, knowledge, dan network mereka agar mereka bisa membuat perubahan di negeri ini.

Jadi, sobat millennials, karya dan inovasi apakah yang sedang kamu rancang? Ditunggu ya gebrakan – gebrakan sobat millennials selanjutnya. Mari bersama – sama kita saling memberdayakan diri, agar bisa berkarya lebih baik, sehingga kita menjadi generasi yang lebih bermakna untuk Indonesia. Salam Millennials (AUDI)

Public Relation at Rumah Millennials

Content creator on Youtube who share about interesting and unique story of Indonesia and also passionate with public speaking amd youth development

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *