3 Pendekatan Yang Sangat Efektif Untuk Anda Terapkan Dalam Merevolusi Budaya di Perusahaan Anda

3 Pendekatan Yang Sangat Efektif Untuk Anda Terapkan Dalam Merevolusi Budaya di Perusahaan Anda

RumahMillennials.com | Boston Consulting Group (BCG) pernah menerbitkan temuan utama dari sebuah hasil survey “Most Innovative Companies 2014”. Berdasarkan hasil penelitian Boston Consulting Group (BCG), perusahaan yang berhasil berinovasi pada umumnya melakukan pendekatan inovatif sebagai sistem. Untuk membangun sistem yang inovatif, lihatlah perusahaan atau organisasi sebagai laboratorium ide baru dan perusahaan atau organisasi harus memfasilitasi inovasi lahir lewat sumber daya yang ada.

Sebagai contoh kebijakan Google mendorong pegawai untuk menggunakan 20% dari waktu kerja untuk mengerjakan ide mereka dan 3M company mengijinkan pegawai untuk menggunakan 15% dari waktu mereka untuk proyek yang mereka pilih.

Dalam perspektif lain, Gerard J. Tellis, Jaideep C. Prabhu dan Rajesh K. Chandy menunjukkan bahwa adaptabilitas merupakan pondasi paling penting dari keberhasilan membangun budaya inovasi di organisasi.

Apakah arti dari adaptabilitas?
Adaptabilitas adalah budaya yang mendorong untuk mengambil resiko, kemauan bereksperimen, inisiatif personal, pengambilan keputusan dan eksekusi yang cepat, serta kemampuan untuk melihat peluang yang unik. Untuk membangun sistem yang inovatif dibutuhkan lingkungan yang dedikatif untuk mendorong pendekatan ini.

Sebagai pemimpin yang inovatif, anda harus menanamkan sebuah prinsip pada tim anda untuk mempertanggungjawabkan misi, fokus utama, kemampuan utama, dan sumber organisasi, serta komitmen pada stakeholder.

Secara sederhana anda harus memberikan parameter-parameter dasar, lalu memberi tim anda kebijaksanaan yang luas untuk melakukan pekerjaan mereka dalam usaha mencapai parameter-parameter tersebut. Pada titik ini pemimpin dan perusahaan harus mengedepankan rasa percaya kepada anggota tim. Reduce control and increase trust.

Sebagai contoh sering kali pemimpin dan perusahaan memberikan deadline yang berat dalam berbagai control kinerja untuk mencapai target, padahal tekanan berlebihan pada deadline tersebut akan membunuh inovasi sebelum muncul.

Begitu tim anda memahami bahwa mereka bertanggung jawab untuk menghasilkan produk atau layanan yang inovatif, anda dapat mempercayai mereka untuk tidak membuang banyak usaha, uang, sumber daya dan waktu pada karya yang tidak memberhasilkan. Kepercayaan ini membantu menempa dan membentuk budaya inovasi. Tidak ada inovasi tanpa kepercayaan.

Hal yang tidak kalah penting adalah mendobrak hierarki atau struktur yang kerap kali menghambat inovasi-inovasi itu tumbuh. Anda bisa memperkuat budaya inovasi dengan membuka ruang organisasi dengan tata kelola yang aspiratif dan akomodatif sehingga memungkinkan inovator melewati hambatan hierarki dan menjadikan ide-ide inovasi itu tumbuh dan berkembang tanpa hambatan birokrasi perusahaan.

Tidak dapat kita sangkal bahwa membangun budaya inovasi adalah agenda paling utama dari banyak perusahaan dan banyak perusahaan telah mengumumkan bahwa inovasi menjadi prioritas utama perusahaan. Pemimpin-pemimpin mereka menjadikan inovasi sebagai nilai utama, berkhutbah dengan lantang tentang inovasi.

Namun disisi lain, banyak karyawan di perusahaan disibukan dengan pekerjaan teknis, tugas operasional bisnis, dan kerja – kerja berat dalam memenuhi permintaan konsumen. Oleh karena itu perusahaan harus mampu memacu pertumbuhan inovasi dari dalam. Tentunya itu bukanlah hal yang mudah, banyak gagasan yang mencoba menjelaskan dan menterjemahkan budaya inovasi ini.

Berikut ini terdapat 3 pendekatan yang saya anggap sangat efektif untuk anda terapkan dalam merevolusi budaya di perusahaan anda.

Pertama adalah gagasan yang dituangkan oleh faisal Hoque, founder Shadoka yang juga penulis buku Everything Connects: How to Transform and Lead in the Age of Creativity, Innovation, and Sustainability. Menurut Faisal Hoque, terdapat 5 hal yang pada umumnya dilakukan secara konsisten oleh organisasi yang inovatif, yaitu mendengar, terbuka, kolaboratif, membangun kesetaraan, merangkul kegagalan.

a. Mendengar
Semua orang di internal dan eksternal organisasi sering memiliki gagasan dan wawasan yang luar biasa yang dapat menghasilkan inovasi baru. Ide tidak selalu datang dari para ahli. Terkadang inovasi terbesar berasal dari pemula, orang-orang baru, dan level struktur bawah di organisasi. Oleh karena itu menjadi penting bagi pemimpin dan semua orang di organisasi untuk menghargai pendapat, ide, dan gagasan dari semua anggota mulai level struktur terendah hingga level struktur tertinggi. Tidak peduli struktur, posisi, dan jabatan, siapapun yang punya ide dan gagasan mereka punya tempat untuk berinovasi di organisasi

b. Terbuka
Organisasi yang berpikiran terbuka sering mengubah ide-ide dari perbincangan sederhana menjadi produk atau layanan inovatif yang dapat dipasarkan. Dengan karakter tertutup, organisasi hanya membatasi ide inovatif lahir dan mencegah ide-ide cerdas yang lahir dalam organisasi untuk tumbuh dan berdampak besar.

c. Kolaboratif
Tidak ada organisasi yang berhasil dengan mengambil semua peran dalam mengembangkan inovasi yang baru. Kolaborasi dengan pihak di luar organisasi sering menghadirkan perspektif dan gagasan baru dalam proses inovasi.

d. Berjalan setara
Struktur manajemen yang sejajar tidak memiliki proses persetujuan yang panjang dan jalur komunikasi yang terputus-putus yang menghambat inovasi. Oleh karena itu menjadi penting bagi organisasi untuk membentuk sistem yang setara dan memungkinkan pengambilan keputusan diambil di tingkat departemen satu dengan departemen yang lain.

e. Merangkul kegagalan
Banyak lompatan inovasi terbesar adalah hasil yang tidak diinginkan dan seringkali tercipta dengan tidak sengaja. Oleh karena itu, organisasi harus bersahabat, menerima, dan menghagai sebuah kegagalan. Hal ini akan menciptakan karakter dan budaya yang berani memulai dan mengembangkan gagasan-gagasan baru di organisasi.

Kedua adalah faktor-faktor yang dirumuskan oleh Jon Katzenbach, penulis buku The Wisdom of Teams dan Leading Outside the Lines: How to Mobilize the (In)Formal Organization, Energize Your Team, and Get Better Results. Banyak perusahaan ingin membangun budaya inovasi yang mampu mendorong karyawan untuk mengambil resiko dalam menghasilkan produk atau layanan terobosan.

Tapi tanpa kita sadara kadang sistem di perusahaan kita menjadi penghalang atau ancaman dari lahirnya inovasi tersebut. Budaya adalah efek dari perilaku bersama. Menurut Jon Katzenbach bahwa perusahaan harus fokus untuk mengubah beberapa perilaku kritis, yaitu sejumlah kecil perilaku penting yang akan berdampak besar jika dipraktekkan oleh sejumlah besar orang. Berikut ini adalah 5 perilaku yang dapat membangun budaya inovatif, antara lain :

a. Bangun kolaborasi di seluruh ekosistem
Inovasi adalah olahraga tim. Ini membutuhkan kolaborasi yang sangat baik antara semua unit bisnis. Menemukan sumber daya terbaik di dalam dan di luar organisasi anda dan menggabungkannya adalah ciri inovasi yang sukses. Dalam perpektif internal, untuk menemukan solusi terbaik anda harus memanfaatkan berbagai keahlian di seluruh organisasi.

Upaya menemukan solusi terbaik mengharuskan anda untuk menarik kemampuan dari seluruh elemen di perusahaan. Ini tidak akan terjadi ketika seseorang bekerja secara terpisah dan sendiri, melainkan terjadi dengan adanya kolaborasi. Kolaborasi eksternal juga tidak kalah penting. Begitu banyak keahlian, kejeniusan, dan sumber daya yang melimpah di luar perusahaan yang bisa anda ramu dengan sumber daya internal untuk mencipatakan inovasi yang revolusioner.

Jika kita bisa memanfaatkannya, kita akan mampu menciptakan lompatan besar dengan meramunya menjadi produk dan layanan yang inovatif. Saatnya kolaborasi untuk akselerasi.

b. Motivasi dan ukur intrapreneur anda
Intrapreneur adalah orang-orang di organisasi yang memiliki pola pikir kewirausahaan dengan kemampuan memanfaatkan dan mengoptimalkan aset perusahaan. Untuk mendorong intrapreneur sukses, anda perlu mengenali, mengukur, dan mengapresiasi usaha inovatif mereka.

Metrik adalah bahan bakar untuk inovasi. Namun, anda butuh lebih dari sekedar metric dan apresiasi finasial atau insentif. Anda perlu memberikan apresiasi publik untuk para inovator dan intrapreneur di perusahaan anda. Karena tidak ada satupun orang di perusahaan yang melihat apresiasi finansial yang anda berikan. Namun, saat anda mempromosikan, memuj, dan mengapresiasi seseorang berdasarkan kontribusi dan kolaborasi mereka pada inovasi yang sukses, rekan kerja akan mencatatnya dan mengingatnya.

Hal ini akan mendorong rekan kerja lain melakukan inovasi yang sama atau bahkan lebih untuk mengejar apresiasi itu. Selain itu, sikap ini menunjukkan komitmen manajemen perusahaan terhadap orang-orang yang menunjukkan perilaku yang benar-benar inovatif dan memiliki kapasitas intrapreneur yang kuat.

c. Tekankan kecepatan dan ketangkasan
Inovasi paling baik terjadi saat orang begerak cepat. Inovasi memerlukan perpaduan antara analaisis data saat ini dan keputusan cerdas untuk menginvestasikan lebih banyak sumber daya atau mengubah arah. Start up yang sukses pada umumnya mengetahui hal ini dengan intuisi yang menjadikan mereka mampu melakukan upaya disruptive terhadap perusahaan mapan yang memiliki lebih banyak sumber daya. Yang harus anda lakukan dalam konteks ini adalah membentuk tim dan perusahaan yang lincah untuk mampu bergerak lebih cepat dalam mengefektifkan dan mengakslerasi produksi dari layanan atau produk yang inovatif.

d. Berfikirlah seperti seorang Venture Capitalist
Venture Capitalist cenderung berfokus pada gagasan besar yang membuat resiko layak diambil dan sumber daya melimpah layak diinvestasikan. Anda harus melakukan hal yang sama. Jika anda menumukan ide baru, tanyakan apakah ide itu mampu menghasilkan perubahan yang besar. Jika iya, jangan hanya berfikir apa resikonya, tapi berfokuslah pada apa yang harus kita lakukan utnuk mewujudkannya? apa tantangan yang harus kita hadapi? apa yang harus kita siapkan untuk menghadapinya?

e. Keseimbangan keunggulan operasional dengan inovasi
Survey PwC pada CEO menemukan bahwa 64 persen berfikir bahwa inovasi dan efektifitas operasional sama pentingnya. Perusahaan – perusahaan inovatif telah membuktikan bahwa mereka dapat mencapai keunggulan operasional, meningkatkan keuntungan, dan meningkatkan pendapatan dari produk yang ada sekaligus juga mengembangkan produk yang bisa membentuk pasar mereka sendiri.

Oleh karena itu, perusahaan tidak boleh hanya sibuk pada operasional dan mengesampingkan inovasi. Keduanya harus menjadi prioritas dalam aktivitas perusahaan. Jangan sampai sebuah perusahaan terjebak dalam kesibukan operasional tanpa kesempatan berinovasi.

Ketiga adalah konsep yang dirumuskan oleh General Assembly dan ONEin3 yang baru-baru ini mengumpulkan pada wirausaha, design thinkers, dan inovator (beberapa berasal dari perusahaan dengan merk terkemuka dunia) untuk membantu memahmi dasar pekerjaan apa yang harus diletakkan agar budaya inovatif dapat bertahan. Meskipun tidak ada satu cara yang benar untuk membangun budaya inovasi, diskusi mereka menemukan 5 strategi yang dianggap bekerja di industri, antara lain :

a. Memahami berbagai jenis inovasi yang dapat dibesarkan,
Salah satu permasalahan terbesar dalam upaya pengembangan inovasi baru adalah perusahaan sering kali tidak mendorong karyawan untuk berfikir melakukan pengembangan produk baru. Disisi lain, sering kali karyawan yang tidak berhubungan langsung dengan pelanggan dipaksa untuk melakukan brainstorming ide untuk produk baru, meskipun mereka memiliki kekurangan pengetahuan soal pelanggan.

Dengan memahami berbagai area dimana karyawan dapat terlibat dengan inovasi, perusahaan dapat membantu karyawan memberi nilai tambah dibidang dimana mereka memiliki pengatahuan mendalam dan keinginan untuk terlibat. Pada hakekatnya strategi bisnis cenderung sesuai dengan kebutuhan bottom up innovation yang terdiri dari beberapa domain, yaitu 4P, Profit models, Processess, products, dan policies.

Oleh karena itu, perusahaan harus mampu mendorong inovasi sesuai pada peran dan fungsi karyawan dalam perusahaan, sehingga mampu mendorong semua lini untuk berinovasi pada tugas dan fungsi masing-masing.

Sebagai contoh, tim inovasi Microsoft secara aktif mendorong karyawan untuk terlibat dalam 3 bentuk inovasi yang berbeda, yaitu : produk, model bisnis, dan kebijakan. Dengan prinsip ini Microsoft berhasil membawa perusahaan ke arah yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

b. Memberdayakan inovator-inovator handal
Bisnis besar memiliki karyawan yang banyak dengan garis pelaporan yang jelas. Meskipun struktur ini memberikan sejumlah manfaat, namun struktur ini juga bisa memberikan sejumlah hambatan dalam menciptakan budaya inovasi. Permasalahan lain dalam konteks ini, seirng kali ketika pemimpin perusahaan memberikan khutbah tenang manfaat inovasi, manager level menengah masih bertugas memastikan kinerja optimal dalam aktivitas inti bisnis.

Yang tidak kalah penting, sering kali karyawan mendapatkan larangan berinovasi dari atasan mereka, untuk kembali ke pekerjaan harian mereka. Perusahaan – perusahaan yang inovatif dapat membantu karyawan mereka menemukan ruang yang ramah untuk menguji gagasan baru mereka dengan mengefisiensikan hirearki struktur, menanamkan pada manager di semua level untuk mewadahi inovasi dari semua karyawan, dan menghargai inovasi-inovasi dari semua karyawan.

Pada akhirnya, perusahaan akan menjadi tempat yang ramah untuk memberdayakan inovator-inovator handal di semua level perusahaan.

c. Mendefinisikan ulang metrik dan insentif
Inovasi baru sering kali dinilai kurang karena diukur berdasarkan metrik yang sama yang digunakan untuk mengevaluasi aktivitas perusahaan yang sudah biasa dilakukan perusahaan selama beberapa dekade. Padahal, inisiatif baru tidak dapat bersaing pada tingkat yang sama dengan aktivitas perusahaan yang sudah berjalan lama dan hal ini menjadikan banyak inovasi dibunuh sebelum mereka diberi kesempatan membuktikan diri sebagai terobosan yang berdampak.

Secara sederhana, dapat dipahami bahwa disatu sisi karyawan diminta untuk bersikap inovatif, namun sayangnya sasaran kinerja, indikator yang digunakan, dan reward tidak bersahabat untuk para inovator ini.

d. Memberikan karyawan alat yang dibutuhkan
Sering kali ide-ider terbaik dalam perusahaan tidak mendapatkan daya tarik dan perhatian dari perusahaan karena ketidakmampuan karyawan untuk menjelaskan nilai inovasi yang ada dan alasan yang menjadikan ide itu penting bagi perusahaan.

Itu terjadi karena nilai yang mereka bawa ke organisasi tidak mampu diterjemahkan dengan baik. Itulah alasan yang menjadikan banyak inovasi jatuh sebelum mulai berjalan. Banyak perusahaan berinvestasi dalam program inovasi mereka untuk mewujudkan gagasan baru, namun mereka tidak memberi alat atau kerangka kerja pada karyawan yang menunjukkan mengapa gagasan itu bermanfaat, nilai apa yang diberikan, dan mengapa itu akan berdampak besar bagi perusahaan.

Sebagai contoh, Autodesk, market leader pada software engineering dan desain 3D telah membangun budaya kuat berinovasi dengan memberikan karyawan rangkaian workshop inovasi. Karyawan mereka tidak diajarkan bagaimana menemukan gagasan baru, melainkan apa yang harus dilakukan dengan gagasan bagus yang mreka temukan atau dapatkan.

Karyawan Autodesk diberikan pelatihan dan sumber daya untuk membuat penawaran pada perusahaan yang memfokuskan pada nilai gagasan mereka dan menunjukan mengapa Autodesk harus menerapkan solusinya. Dalam hal ini, perusahaan harus mampu menciptakan instrumen, fasilitas, sistem yang secara terstruktur memfasilitasi inovasi itu dikomunikasikan hingga diimplementasikan di perusahaan.

e. Membuat tempat yang aman untuk bereksperimen
Banyak perusahaan telah menerapkan prinsip Lean Startup terkait eksperimen yang cepat dan mudah, namun banyak yang berhenti memberikan ruang yang benar-benar aman untuk bereksperimen. Terlepas dari retorika atau khutbah para pemimpin perusahaan tentang kesempatan melakukan uji coba ide atau gagasan, sering kali kegagalan dari uji coba itu ide atau gagasan tidak diterima sebagai kesempatan belajar.

Kegagalan masih dianggap sesuatu yang memberikan kerugian bagi perusahaan. Seharusnya kegagalan dari eksperimen ide harus dilihat sebagai sebuah keutnungan, dimana mereka telah mencegah perusahaan melakukan investasi berlebihan dalam proyek yang beresiko memberikan lebih banyak kerugian.

Sebagai contoh tim The New Urban Mechanics dari kantor Walikota City of Boston yang menyediakan model public sector yang sangat baik sebagaimana perusahaan private sector dapat menciptakan ruang yang aman untuk inovasi. The New Urban Mechanics terdiri dari orang-orang tanpa “tugas sehari-hari”. Sehingga, anggota tim hanya berfokus untuk membantu departemen lain meluncurkan solusi inovatif untuk tantangan yang ingin diselesaikan.

Yang cukup menarik, departemen ini membantu departemen-departemen lain melakukan eksperimen terkait inovasi mereka, jika eksperimen berhasil departemen itu mendapatkan keuntungan, namun jika gagal The New Urban Mechanics akan menanggung semua kerugian. Dengan melindungi departemen yang ingin mencoba sebuah eksperimen dari ide yang inovatif, tim tersebut telah menciptakan atmosfir kepercayaan diri dan kebebasan berinovasi.

Tentu saja, tidak semua orang dan stakeholder di perusahaan anda siap mengubah krakter dan sistem hari ini untuk menjadi lebih inovatif. Itu sudah bisa dipastikan. Tapi perusahaan yang membangun budaya inovasi yang kuat tidak menunggu perubahan semua anggota tim dan sistem di perusahaan.

Pemimpin yang inovatif menunjukkan dan membuktikan bahwa perilaku dan sistem inovatif menghasilkan terobosan besar yang tidak terbantahkan pada dampak sosial dan dampak finansial dari bisnis yang pada akhirnya akan diikuti oleh orang – orang di perusahaan.

Banyak perusahaan berbicara tentang bagaimana inovasi menjadi prioritas utama, pemimpin perusahaan berkhutbah soal inovasi diatas podium, namun hanya sedikit yang unggul dalam menciptakan budaya inovasi dimana karyawan benar-benar diberdayakan untuk menghasilkan, mengembangkan, dan mengemukakan ide-ide hebat.

Oleh karenanya, yang harus kita lakukan adalah memikirkan kembali apa nilai-nilai yang diinternalisasi. Memeriksa kembali apakah sistem kita sudah mendukung atau menghambat lahirnya inovasi, lalu memperbaiki bagaimana cara kita mengevalusi dan mengapresiasi kinerja karyawan dalam berinovasi, dan menyediakan sumber daya bagi karyawan untuk melahurkan dan menyalurkan inovasi.

Perusahaan akan dapat membantu karyawan melepaskan inovasi mereka dan membangun kebebasan, kemudahan, dan kenyamanan dalam berinovasi. Pada akhirnya akan membentuk budaya inovasi yang membantu perusahaan mencapai visi mereka dengan lebih cepat.

Pada akhirnya dapat kita simpulkan, bahwa budaya inovasi akan lahir dari keamanan berinovasi, kenyamanan berinovasi, dan yang paling penting kebebasan berinovasi.

Image source: openeducationeuropa

CEO Indonesia Medika, Motivator Internasional, 50 most impactful social innovator.
Seorang dokter, wirausaha sosial, inovator kesehatan, inspirator pemuda Indonesia, dan penulis buku “Muda Mendunia”..

Mengembangkan berbagai inovasi kesehatan sosial, diantaranya Klinik Asuransi Sampah, Livestock Waste Insurance, Homedika, Sabuk Bayi Pintar, Mother Happiness Center, Care4Mother, Siapapeduli.id, dan lain sebagainya.

Inovasinya telah membantu ribuan pasien kurang mampu mendapatkan layanan kesehatan. dr. Gamal Albinsaid menjadi pemuda pertama di dunia dan satu-satunya di Asia yang meraih penghargaan Kehormatan, HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur Award dari Kerajaan Inggris.

Meraih lebih dari 40 perhargaan dan 9 penghargaan internasional dari Jerman, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Amerika, Thailand, Kamboja, Jerman, dan Peru.

www.GamalAlbinsaid.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *