Generasi Millennials = Generasi Stress

Stress merupakan kondisi yang sering dialami dan mengganggu kaum millennial. Hasil studi dari American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa kaum millennial adalah generasi dengan tingkat stres yang tinggi dibanding generasi boomer. Bila dilakukan penilaian terhadap tingkat stres dengan skala skor 1 – 10  (1 = tidak stres, 10 = sangat stres) bahwa millennial memiliki skor 5.4 dibanding boomer 4,7. Selain itu, kaum millennial kesulitan dalam melakukan manajemen stres dengan baik. Hal ini dapat terlihat bahwa sekitar 52 % kaum millennial sering terbangun saat malam hari akibat stres yang dialaminya.

Stres muncul sebagai suatu perasaan akibat tuntutan/masalah hidup yang menurut seseorang berat dan dapat mengganggu keberlangsungan hidupnya. Stres ialah respon tubuh yang lumrah dan natural dialami oleh setiap millennial untuk melawan masalah hidup tersebut. Kondisi ini akan menimbulkan suatu mekanisme yang disebut fight or flight, dimana ketika suatu masalah yang membahayakan itu menyerang seseorang, dia dapat memilih diam dan melawannya untuk cepat diselesaikan atau lari secepatnya dari masalah tersebut.

Dalam kehidupan bentuk stressor bervariasi mulai dari keuangan, kesehatan, masalah keluarga, pekerjaan, dan lain-lain. Begitu pula dengan kaum millennial, stressor terbesarnya mulai dari finansial (80 %), tuntutan pekerjaan (72 %), hubungan dengan pasangan (63 %), tanggung jawab terhadap keluarga (53 %), kestabilan dalam pekerjaannya (52 %), kesehatan personal (47 %), dan masalah kesehatan keluarga (46 %).

Dalam menghadapi stres, kaum millennial memilih caranya masing-masing untuk mengatasinya. Beragam aktivitas dilakukan millennial untuk menghilangkan rasa marah atau iritabel akibat stress,  diantaranya mendengarkan musik (59 %), berolahraga (51 %), menghabiskan waktu bersama dengan teman atau keluarga (46 %), membaca (38 %), makan (36 %), belanja (19 %), beribadah (16 %), minum alkohol (15 %), dan merokok (12 %).

Tak dapat dipungkiri, banyaknya stressor dapat membuat tingkat stres seseorang semakin tinggi yang dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental millennial. Saat stres, tubuh akan memproduksi hormon seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin, Adanya hormon tersebut memengaruhi kondisi fisik seseorang seperti peningkatan denyut nadi, berkeringat, napas terasa lebih cepat, dan membuat seseorang menjadi lebih terjaga sehingga sulit tidur. Selain itu, stres juga dapat muncul dengan keluhan sakit kepala, kram otot, peningkatan tekanan darah, atau keluhan pada sistem pencernaan seperti mual, nyeri ulu hati, atau perut terasa begah. Tak hanya itu, terdapat keluhan emosional yang biasanya dirasakan diantaranya perasaan marah/iritabel (37 %), cemas (35 %), tidak bersemangat (34 %), fatigue/lemas (32 %), merasa terbebani (32 %), dan sedih/depresi (32 %).

Oleh karena itu, sikap manajemen stress yang baik sangat diperlukan oleh kaum millennial agar dapat hidup sehat dan lebih bahagia. Berikut beberapa tips untuk membantu mengatasi stres

Berolahraga rutin. Olahraga adalah cara mudah untuk membuat pikiran dan tubuh kita segar kembali. Dari penelitian didapatkan bahwa seseorang yang rutin berolahraga minimal satu sampai dua jam dalam seminggu dapat menurunkan tingkat depresi.

Makanlah makanan dengan benar. Disadari atau tidak bahwa makanan dapat mempengaruhi stress seseorang. Ada beberapa makanan yang dapat membantu mengurangi rasa stress diantaranya makanan yang mengandung mineral dan vitamin seperti pada sayuran, buah-buahan, yogurt. Selain itu, makanan yang mengandung omega 3 seperti pada salmon, sarden, tuna juga dapat melawan hormon stress.

Lakukanlah latihan bernafas. Bernafas merupakan aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan oleh manusia. Bernafas dapat membantu tubuh menjadi relaks. Latihan  bernafas dalam dapat membantu tubuh untuk menekan hormon stres. Caranya dapat dilakukan sebagai berikut dengan 4-7-8 rule

  • Duduk yang nyaman
  • Tutup mulut , tarik napas melalui hidung dan jangan lupa dihitung dalam hati selama 4 detik
  • Tahan napas selama 7 detik
  • Lalu hembuskan napas melalui mulut selama 8 detik

Latihan bernafas sebaiknya menggunakan otot perut sehingga lebih efisien. Efek yang dirasakan memang tidak langsung dalam satu kali latihan, perlu pengulangan dan konsistensi dalam latihan napas tersebut. Latihan ini dapat dilakukan di rumah sebanyak 2 kali dalam sehari sebanyak 4 siklus.

Menghabiskan waktu bersama keluarga. Quality time with family merupakan cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengurangi stres dan juga memperkuat bonding antar anggota keluarga. Berkumpul bersama dengan orang-orang yang kita cintai dapat membuat hati kita bahagia sehingga menghindarkan kita dari pikiran atau sikap negatif. Beragam aktivitas yang dapat dilakukan Bersama keluarga seperti pergi piknik, bersepeda bareng, olahraga, atau hanya sekedar berkomunikasi via chat atau telepon.

Perlunya waktu Me Time. Dalam kesibukan sehari-hari, sudah sifat alami manusia butuh waktu untuk diri sendiri. ‘Me Time’ harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan diniatkan untuk menyegarkan kembali hati dan jiwa kita.

Me Time’ dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan spiritual yang membantu untuk terus menghubungkan hati kita dengan Sang Maha Pencipta, membaca buku, menulis, atau melakukan sesuatu untuk membantu lingkungan kita. Jangan lupa untuk selalu meniatkan aktivitas yang kita lakukan dapat membawa kebaikan pada diri kita maupun orang lain. Sehingga dapat membantu jiwa kita menjadi lebih tenang dan senang.

Nikmatilah hidupmu dan selalu bersyukur. Banyak pencapaian atau target yang ingin kita raih dalam hidup. Impian tidak akan tercapai bila tidak ada usaha yang kita lakukan. Sehingga, nikmatilah proses usaha yang kita lakukan dalam setiap hidup kita.

Selalu bersyukur atas apa yang telah Sang Maha Pencipta beri dalam hidup kita. Karena terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik, maka percayalah bahwa Maha Kuasa tahu yang terbaik untuk kita.

Percayalah bahwa stres tidak akan membuat urusan atau masalah menjadi selesai, namun sebaliknya dapat berdampak negatif pada kondisi fisik dan emosi kita. Jadi, bahagialah dan bersyukurlah untuk setiap kehidupan yang telah, sedang, dan akan kita lalui. Try to do your best dan berdoa untuk selalu diberi petunjuk-Nya.

Sources :

  1. http://www.apa.org/news/press/releases/stress/2012/generations.aspx
  2. http://www.apa.org/news/press/releases/stress/2014/stress-report.pdf
  3. https://www.medicalnewstoday.com/articles/145855.php
  4. https://msudenver.edu/media/content/civicengagementprogram/documents/cuc/PowerofDeepBreathing.pdf
  5. https://wtop.com/news/2013/02/survey-millennials-the-most-stressed-generation-in-country/
  6. http://cdn1.theodysseyonline.com/files/2016/01/10/635880623690245048441827056_bigstock-Stress-52212820-938×500.jpg
  7. https://401kspecialistmag.com/wp-content/uploads/2017/07/dreamstime_s_47624899-2-777×437.jpg
  8. http://2.bp.blogspot.com/-pcPjwLJy–U/U3fCaLwB63I/AAAAAAAANMA/Zn-eTHrz-f4/s1600/yoga-sport+reduce+stress.jpg

Please follow Instagram Rumah Millennials : @rumah.millennials

Bekasi, 12 Februari 2018

Author :

dr. Herlina Rahmah (Research & Development Rumah Millennials – Siblings RM01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *