Di Era yang Lebih Banyak Kemudahan, Apa yang Sebenarnya Harus Dipersiapkan Millennials?

Dibandingkan dengan situasi zaman dahulu, Millennials hidup pada zaman yang cukup memudahkan. Memudahkan dalam artian, berkurangnya kapasitas masalah yang perlu dihadapi. Hadirnya toko, transportasi, dan bentuk komunikasi online adalah jawaban ketika 25 tahun lampau orang – orang berkutat dengan masalah pemasaran product yang bergantung melalui TV dan surat kabar, bangun pagi agar tidak terlewat kereta paling awal (yang zaman sekarang sudah berkurang karena transportasi online) dan penggunaan warnet yang terkadang membuat orang perlu mengantri dahulu. (please kids zaman now don’t ask what is warnet)

Kondisi era yang menawarkan kemudahan seperti ini tentunya patut disyukuri. Hanya jangan sampai oleh kemudahan ini, banyak dari Millennials yang lalai, terjebak oleh zona nyaman. Kemudahan yang ada hendaknya bisa dimanfaatkan untuk lebih mempermudah jalan sukses.

Karena itu, daripada terjebak oleh kenyamanan yang ditawarkan era sekarang, baiknya generasi Millennials juga mempersiapkan diri agar bisa menjawab tantangan zaman kedepan. Meski sudah banyak tools untuk mengurangi masalah, tidak bisa dihindari bahwa akan ada tantangan dalam bentuk baru yang belum ada pada zaman sebelumnya. Contohnya seperti kehadiran robot dan penggunaan AI dalam beberapa tahun kedepan yang menjadi salah satu alasan akan hilangnya 5 juta bentuk pekerjaan ( https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160119084403-199-105215/5-juta-pekerjaan-manusia-bakal-dirampas-robot ) atau menguatnya peran emerging market, yang mana Indonesia harus bisa memposisikan diri sebagai pemain bukan penonton saja.

Berdasarkan hal – hal itu, dibawah ada beberapa tips sebagai dasar untuk mempersiapkan diri menyambut tantangan tersebut:

1. Meningkatkan Kemampuan Membaca Perubahan Zaman

Zaman sekarang cepat memiliki banyak perubahan. Ada hal – hal lama yang harus dilupakan, dan diganti dengan cara – cara yang baru. Ambil 1 contoh; Sistem dunia kerja zaman now.

Pada buku The 8th habit dari Stephen Covey, dijelaskan bahwa ‘’Sumbangan manajemen yang paling penting dan sungguh unik di abad ke 20 (Zaman Industri) adalah peningkatan lima puluh kali lipat dalam produktifitas dari para pekerja manual di pabrik, sedangkan pada abad 21 (Zaman Pengetahuan) sumbangan manajemen yang harus dilakukan adalah meningkatkan produktifitas kerja pengetahuan dan pekerja pengetahuan’’.

Zaman industri adalah zaman sesudah zaman pertanian, di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Di zaman ini, manusia dikontrol sehingga tidak bebas memaksimalkan gagasan, atau passion  yang dimilikinya. Yang dibutuhkan hanyalah tubuh sebagai eksekutor. Pada perusahaan, hanya kaum otoritas yang boleh memutuskan segala sesuatu. Sedangkan tenaga kerja lain hanyalah penggerak sebuah keputusan tesebut. Sehingga barang dan manusia tidak memiliki perbedaan. Keduanya bergerak karena dikelolah, bukan inisatif sendiri. Menyebabkan terbatasnya kreativitas manusia.

Namun sekarang, kita hidup di zaman ini dimana setiap orang menjadi lebih pintar karena mempunyai akses belajar dengan lebih gampang, tetapi banyak perusahaan masih menjalankan organisasi dengan mengikuti Zaman Industri yang bersifat mengontrol, yang mengekang pemanfaatan sepenuhnya potensi manusiawi. Sehingga, kerangka pikir Zaman industri ini yang masih mendominasi di beberapa tempat kerja, sama sekali tak akan berjalan dengan baik. Para calon pekerja baru adalah Gen Y. Perubahan situasi ini, menyebabkan mau tidak mau bagi setiap perusahaan yang ingin bertahan harus mengubah kultur dan sistem perusahaannya sehingga tetap diminati Millennials.

Masih didalam situasi dunia kerja, Millennials dari sekarang juga harus sudah mempersiapkan diri untuk menyambut Gen Z yang sudah mulai beranjak dewasa. 5 tahun kedepan dunia kerja akan mulai didominasi Gen Z. Gen Z juga memiliki karakter khas nya tersendiri (perbandingannya dapat dilihat dari https://www.visioncritical.com/generation-z-infographics/ ) . Pastinya juga akan ada perubahan – perubahan minor/major ketika masa itu datang.

Ada contoh lain. Dalam hal pencarian kerja pada zaman ini misalnya. Bila mendaftar kerja pada beberapa perusahaan di Indonesia atau diluar, kebanyakan akan meminta profile Linked In.  Kenapa profile social media yang diminta? Karena Linked In dibuat sebagai social media untuk professional, yang salah satu manfaatnya adalah sebagai CV online.

Fitur – fitur yang diberikan di Linked In juga memudahkan untuk menampilkan skills dan pengalaman – pengalaman penggunanya. Di zaman sekarang, kepo – kepo hanya melalui CV dan cover letter sudah tidak cukup, hiring manager juga akan melacak aktivitas pelamar di social media. So, manage your social media well! Bangun personal brand yang positif, dan hapus segala hal yang bisa dinilai tidak baik. You may feel satisfied when receiving those likes from friends or strangers, but it’s not important for recruiters to judge who you are on social media.

2 contoh diatas menjelaskan bagaimana situasi zaman, mempengaruhi cara – cara dalam melakukan sesuatu. Masih banyak contoh lain seperti menjalankan bisnis, membesarkan anak, politik, dan lain – lain. Pada dasarnya agar mampu membaca zaman, yang perlu diperlukan Millennials adalah selalu aware apa yang terjadi di sekitar, lebih banyak membaca, kritis dan menganalisa. Dengan meningkatkan kemampuan membaca zaman, Millennials diharapkan mampu beradaptasi cepat dengan perubahan, survive dan tetap berkarya sesuai dengan kebutuhan zaman dan passion masing – masing.

2. Kompetisi Diri

Ini adalah zaman penuh dengan ilmu pengetahuan. Dengan semakin mudahnya kesempatan hampir setiap orang untuk belajar melalui kelas online, webinar, pelatihan – pelatihan dalam biaya terjangkau dan kesempatan mendapatkan beasiswa untuk studi di luar negeri, kualitas akan semakin merata dan banyak orang akan semakin pintar. Dalam artian, kompetisi akan semakin ketat ke depan. Pesaing orang yang berusia puluhan bukan hanya kalangan dari usia tersebut, namun juga dari usia belasan, dan juga dari lulusan luar negeri. Tidak dilupakan bahwa robot serta teknologi lain juga akan menggantikan beberapa pekerjaan beberapa tahun kedepan.

Dengan memahami situasi ini, Millennials bisa memaksimalkan segala kemudahan ini untuk menambah kapasitas diri sejak awal – awal usia kehidupan produktif. Fokus pada kekuatan diri dan mampu memanage kelemahan sendiri. Alokasikan waktu untuk melatih bakat, menghasilkan lebih banyak karya, membaca buku atau mempelajari skill baru. Jika terlalu sibuk, manfaatkan waktu di perjalanan untuk mendengarkan podcast, dan hal – hal bermanfaat lainnya. Dengan memanfaatkan setiap kemudahan yang dimiliki, itu juga merupakan sebagai bentuk rasa syukur bisa hidup di zaman seperti sekarang.

Bila sempat merasakan bangku kuliah dan mempunyai rencana untuk kerja selepas lulus, selain mempersiapkan IPK yang bagus, jangan lupa sendari awal untuk mempersiapkan CV yang memukau. CV yang memukai didominasi oleh pengalaman berorganisasi, kompetisi, conference, bisnis, magang dan lain – lain. Karena umumnya employer akan menilai dan menawarkan pekerjaan dari pengalaman dan skills yang telah dimiliki. Perbanyak pengalaman dalam hal – hal tersebut. Tetap ingat bahwa setiap orang juga semakin pintar, kompetisi akan semakin ketat. Mengingat hal ini akan membuat diri semakin termotivasi.

3. Kemampuan Fokus

Dengan melimpahnya informasi, kesempatan yang tersedia dan mudahnya akses, sendarinya yang dibutuhkan generasi Millennials sekarang adalah kemampuan untuk fokus dan menentukan pilihan. Kekurangan informasi/ilmu pengetahuan sekarang bukanlah masalah, namun Millennials harus bisa memilih informasi mana yang benar – benar diperlukan dan harus segera di follow up. Akan diarahkan kemana setiap ikhtiar yang dijalankan dan harus diinvestasikan kemana setiap pengorbanan. Ini adalah salah satu tantangan zaman ini. Terlalu banyak informasi bisa membuat seseorang overwhelmed, atau keputusan hidupnya terpengaruh oleh lingkungan sekitar, oleh sebab terlalu banyaknya masukan.

Agar bisa menentukan fokus dan memanage prioritas ditengah berlimpahnya informasi dan kesempatan, hal – hal dibawah bisa dilakukan:

1. Mencoba banyak hal

Millennials bisa mencoba banyak hal guna menuntaskan rasa penasaran. Hal ini tentu bisa dilaksanakan hanya pada umur belasan sampai 20 an. Sebab menurut founder Ali Baba, Jack Ma, setelah umur 20 an yakni 30 keatas masa mencoba – coba sudah habis. Setelah usia 30 Millennials harus focus hanya pada beberapa hal saja, karena tanggung jawab akan lebih besar pada rentang usia itu.

Keluarlah dari zona nyaman, lakukan hal – hal yang belum pernah dilakukan, Know who you are and what you want. Test yourself. Tidak mau mencoba karena ini bukan passion? Menurut motivator Ippho Santosa pada salah satu seminarnya, seseorang tidak akan tahu passionnya bila hanya berasumsi. Coba saja dulu, mungkin disana passionnya. Keep an open mind, kalau perlu conduct research atau ambil interest assessment tools atau team related tests. Perbanyak pengalaman di beberapa bidang, sebelum akhirnya fokus pada bidang yang ingin digeluti secara konsisten.

2. Dengarkan nasehat dari orang yang lebih tua

Pada umumnya orang yang lebih tua sudah lebih banyak kesalahan dalam hidup mereka. Mereka punya pengalaman yang lebih banyak. Tanyakan pada mereka apa yang mereka telah perbuat, dan apa yang seharusnya mereka lakukan differently. Ambil semua nasehat itu, namun ingat pada akhirnya, pilihan hidup ada ditangan kita.

3. Bentuk atau bergabung dengan lingkungan yang mendukung (Supportive Environment)

Lingkungan yang benar pada dasarnya adalah pensupport. Apabila berjuang sendiri tidak mudah, lingkungan ini juga membantu untuk tetap fokus bila suatu saat Millennials goyah. Akan ada teman – teman yang menjadi pengingat. Carilah teman – teman yang mempunyai kesamaan visi, dan jaga hubungan dengan pihak tersebut

4. Alokasikan waktu untuk tidak bermain dimedia sosial

Salah satu sumber informasi yang berlimpah itu adalah social media. Tidak bisa dihindari bahwa social media sangat membantu dalam beberapa hal, sekarang yang perlu dipertimbangkan adalah penting atau tidaknya mengikuti setiap informasi yang ada. Alvin Toffler, penulis buku Future Shock, mempopulerkan istilah information overload, yaitu kesulitan memahami issue dan membuat keputusan ketika seseorang memiliki terlalu banyak informasi. Oleh sebab terlalu banyak informasi itu, seseorang bisa mengalami feeling of being out of control.

Di era ini mustahil untuk memerangi berlimpahnya informasi itu, kecuali benar – benar ingin  terlepas total dari internet. Agar lebih fokus, hilangkan kebiasaan bermain social media berlebihan. Tidak bisa dihilangkan karena merupakan trend zaman ini? Kebiasaan bermain social media hanyalah sebuah kebiasaan, sama seperti kebiasaan makan junk food atau bermain game, yang bila dilakukan berlebihan tentu tidak baik. Atau jangan – jangan sudah mendapatkan FOMO? Berikut tips mengatasinya: (https://rumahmillennials.com/2017/04/20/fear-of-missing-out-penyakit-gen-y/  )

Pilah dan cukup ikuti informasi yang benar – benar diperlukan. Sejatinya masih banyak hal – hal yang bisa dikerjakan ketimbang bermain social media. Untuk referensi tambahan, artikel dari Hipwee ini juga bagus untuk dibaca: https://www.hipwee.com/motivasi/hal-hal-baik-yang-terjadi-ketika-kamu-meninggalkan-media-sosial/

5. Perbanyak refleksi diri dan amalkan

Ketenangan dan kejernihan berpikir sangat menentukan cara kita memanage hidup. Karena dengan pikiran yang berantakan, seseorang bisa sering salah mengambil setiap keputusan. Bila sudah exhausted karena terlalu banyak input, perbanyak ‘’mengasingkan diri’’ sejenak, revisit your goals and objective dan segera eliminasi hal – hal yang tidak dibutuhkan. Mendekatkan diri lebih banyak pada Tuhan dan bermeditasi adalah salah satu caranya.

 

Author :

Josandy Maha Putra  – born in Bukittinggi, he graduated from University Utara Malaysia (UUM) with Bachelor Degree in International Business Management, and started to proceeded to engage in different cultures on his campus. In his study period, he was elected as the President of International Students Society (ISSUUM) the first President from the Asia Continent and also as the Vice Chairman of Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Minang in Malaysia. In his free time, he loves learning martial arts and spend time with his friends. Joining Rumah Millennials as part of the Research and Development team as he is passionate about leadership and self-development. Grateful for joining the team, he makes sure that his article will help many Millennials to flourish. Love making new friends, stay in touch with him.

 

Pic Source :

https://www.google.co.id/search?q=millennials+preparation&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiAqLCG_5zZAhUGMI8KHek8Bx8Q_AUICigB&biw=1280&bih=726#imgrc=QBWG8pi2vf7irM:

Email : josandymahaputra@gmail.com
Linkedln : https://www.linkedin.com/in/josandymahaputra/
Instagram: @j_mahaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *